Memuat...

Pesan Suara Terakhir dr Myta Terungkap: “Aku Kayak Enggak Kuat Astri”, Tetap Jaga IGD Meski Demam 40 Derajat

Ameera
Jumat, 8 Mei 2026 / 21 Zulkaidah 1447 19:52
Pesan Suara Terakhir dr Myta Terungkap: “Aku Kayak Enggak Kuat Astri”, Tetap Jaga IGD Meski Demam 40 Derajat
Pesan Suara Terakhir dr Myta Terungkap: “Aku Kayak Enggak Kuat Astri”, Tetap Jaga IGD Meski Demam 40 Derajat

JAKARTA (Arrahmah.id) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap rekaman suara terakhir dokter magang lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Unsri), dr Myta Aprilia Azmy, yang meninggal dunia diduga akibat kondisi kerja berlebih dan sakit paru berat.

Pelaksana Tugas Inspektur Jenderal Kemenkes, Rudi Supriatna Nata Saputra, memutar rekaman tersebut dalam konferensi pers di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis (7/5/2026).

Dalam rekaman itu, dr Myta terdengar menceritakan kondisinya yang terus memburuk kepada rekan-rekannya.

Percakapan pertama terjadi pada 1 April 2026 saat Myta sedang bertugas di IGD. Rekannya, dr D, menanyakan kondisi Myta yang terlihat sakit.

“‘Kok kelihatan sakit nian,’ gitu. Myta bilang kan, ‘Iyo Bang, batuk pilek, Bang, demam, panas nian. Silau dak bisa buka mato,’” ujar Myta dalam rekaman suara yang diperdengarkan Kemenkes.

Dalam rekaman lanjutan, Myta mengaku telah mengonsumsi paracetamol 1.000 miligram untuk menurunkan demamnya. Namun, tubuhnya justru terasa semakin panas disertai menggigil dan mual.

“Napas aku panas. Hidung aku panas, semua hal ini ni panas. Sepanas itu, Ren memang. Tapi, aku menggigil,” tutur Myta.

Saat itu, dr D menyarankan Myta untuk minum lebih banyak dan melepas masker agar lebih mudah bernapas. Myta kemudian diberi obat lansoprazole untuk mengurangi rasa mual yang dialaminya.

“Aku make masker kan, aku batuk pilek kan, takut bae gitu kan. ‘Buka bae eh biar napasnyo enak.’ Mual, Bang. Nak muntah gitu,” kata Myta lagi dalam pesan suara tersebut.

Meski mengalami demam tinggi hingga 40 derajat Celsius dan kondisi tubuh yang terus menurun, Myta disebut tetap menjalankan tugas jaga di IGD. Hingga 11 April 2026, kesehatannya belum juga membaik.

Dua hari kemudian, tepat pada 13 April 2026, Myta sempat merayakan ulang tahunnya dan mendapat infus dari rekan-rekannya.

Namun kondisi itu terus memburuk. Pada 15 April 2026, Myta mengirim pesan suara kepada rekannya, dr Astri, meminta jadwal jaga pagi di IGD digantikan karena sudah merasa tidak sanggup bekerja.

Dengan suara tersengal dan napas berat, Myta terdengar memohon bantuan.

“Astri… Aku… Aku mau minta tolong… Mau minta tolong. Jadi, kalau dari jadwal kan Astri ini ya, apa, libur, ndak sih? Aku… Mau minta tolong gantiin jadwal aku, yang pagi ini. Kalau misal… Kamu… Bisa… Hari ini saja. Nanti yang malam biarlah Rena nanti yang gantiin… Aku kayak… Enggak kuat Astri,” ucap Myta dengan suara terputus-putus.

Permintaan pergantian jadwal itu kemudian disetujui oleh dr Astri.

Kondisi Myta tak kunjung membaik hingga akhirnya pada 27 April 2026 ia dilarikan ke RSUP Dr Mohammad Hoesin Palembang.

Myta sempat dirawat di ruang isolasi infeksi sebelum dipindahkan ke ICU karena gangguan pernapasan yang semakin berat.

Setelah menjalani perawatan intensif selama beberapa hari, dr Myta Aprilia Azmy dinyatakan meninggal dunia pada 1 Mei 2026 akibat kondisi paru-paru berat.

Kasus meninggalnya dr Myta kini menjadi sorotan publik dan memunculkan perhatian terhadap beban kerja dokter muda dan peserta program magang di fasilitas kesehatan.

(ameera/arrahmah.id)