WASHINGTON (Arrahmah.id) - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan mulai menunjukkan keinginan kuat untuk segera mengakhiri konflik militer dengan Iran. Laporan eksklusif majalah The Atlantic menyebutkan bahwa perang yang berlangsung lebih lama dari perkiraan ini telah menjadi beban politik dan ekonomi yang signifikan bagi pemerintahannya.
Berdasarkan kesaksian lima pembantu dan penasihat eksternalnya, Trump merasa yakin dapat "menjual" kesepakatan apa pun dengan Iran sebagai sebuah kemenangan besar. Hal ini tetap akan dilakukan meski hasil akhirnya tidak sepenuhnya mencapai target awal, seperti penghentian total program nuklir atau perubahan radikal perilaku regional Teheran.
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa Trump awalnya meremehkan kekuatan pertahanan Iran. Setelah operasi militer yang menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Trump sempat berujar kepada orang-orang terdekatnya bahwa Iran akan menjadi "Venezuela kedua", sebuah konflik yang bisa diselesaikan dengan cepat.
Trump meyakini keunggulan militer AS akan menuntaskan pertempuran dalam hitungan hari atau minggu. Namun, Teheran justru memberikan perlawanan sengit dengan melakukan penutupan efektif di Selat Hormuz dan meluncurkan serangan balasan di kawasan Teluk, yang memaksa perang berlarut-larut.
Tekanan Ekonomi dan Pemilu
Meski blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran telah mencekik ekonomi negara tersebut, intelijen AS memperkirakan Teheran masih mampu bertahan selama berbulan-bulan. Durasi krisis yang panjang ini berdampak langsung pada kenaikan harga energi di Amerika Serikat.
Kondisi ini memicu kekhawatiran besar di internal Partai Republik. Lonjakan harga BBM di AS mulai menggerus popularitas Trump. Para politisi Republik khawatir kelanjutan perang akan menyebabkan kekalahan besar mereka di Kongres. Trump ingin meredakan ketegangan militer sebelum kunjungan kenegaraannya ke Cina pekan depan.
Seorang penasihat luar yang rutin berkomunikasi dengan Trump menyatakan bahwa sang Presiden telah muak dengan perang ini dan merasa frustrasi karena Iran menolak memberikan konsesi diplomatik.
Respons Gedung Putih
Menanggapi laporan tersebut, juru bicara Gedung Putih, Olivia Wells, menyatakan bahwa Presiden Trump tetap memegang semua kartu kendali. Ia menegaskan bahwa Trump dengan bijak tetap membuka semua opsi untuk memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir.
Wells mengeklaim bahwa blokade laut yang dilakukan AS telah sangat sukses dalam melumpuhkan ekonomi Iran dan membuktikan keunggulan militer AS di darat, laut, maupun udara. Meski demikian, para pengamat menilai mengumumkan kemenangan tanpa kesepakatan formal akan meninggalkan masalah besar, mengingat kemampuan rudal Iran masih sebagian besar utuh dan isu nuklir belum terselesaikan secara permanen. (zarahamala/arrahmah.id)
