Memuat...

Dari Coretan Dinding ke Ruang Sidang: Atif Najib Dihadapkan pada Korban yang Picu Revolusi Suriah

Samir Musa
Selasa, 28 April 2026 / 11 Zulkaidah 1447 08:04
Dari Coretan Dinding ke Ruang Sidang: Atif Najib Dihadapkan pada Korban yang Picu Revolusi Suriah
Muawiya mengenang kembali kenangan revolusi di depan dinding Sekolah Al-Arbaeen di Daraa al-Balad (Al Jazeera).

DAMASKUS (Arrahmah.id) – Setelah lebih dari satu dekade berlalu, salah satu tokoh yang namanya melekat dengan awal pecahnya konflik Suriah akhirnya dihadapkan ke pengadilan. Atif Najib, mantan kepala cabang keamanan politik di wilayah selatan, kini menjalani proses hukum atas dugaan keterlibatannya dalam penangkapan dan penyiksaan anak-anak di Daraa pada 2011.

Di tengah proses ini, muncul sosok Muawiya al-Sayasneh, salah satu anak yang dahulu ditahan. Kini, ia hadir bukan hanya sebagai saksi, tetapi juga sebagai korban yang berhadapan langsung dengan orang yang dituduh menyiksanya, dikutip dari Al Jazeera.

Dalam wawancara dengan media, Muawiya mengungkapkan bahwa dirinya ditangkap saat masih berusia 15 tahun setelah menulis slogan “Ijaak ad-dawr ya doktor” (Giliranmu tiba, wahai dokter) di dinding—sebuah kalimat yang kemudian dikenal luas sebagai simbol awal perlawanan terhadap rezim Bashar Al Assad.

Perbandingan grafiti di Daraa pada 2011 dan 2024. Pada 2011 tertulis “Telah tiba giliranmu, wahai dokter”, slogan yang menjadi simbol awal perlawanan terhadap rezim. Sementara pada 2024 muncul tulisan lanjutan: “Namamu tertulis dari Daraa hingga Qasioun, dan kemenangan revolusi…”, mencerminkan panjangnya perjalanan konflik serta harapan yang tetap hidup. (Istimewa)

Ia menceritakan bagaimana dirinya dipindahkan secara paksa ke kantor keamanan dan mengalami berbagai bentuk penyiksaan, termasuk sengatan listrik dan metode “shabah” (digantung). “Apa yang kami alami melampaui batas kemampuan anak-anak untuk menanggungnya,” ujarnya.

Menurutnya, penangkapan anak-anak itu menjadi titik awal kemarahan publik di Daraa, yang kemudian berkembang menjadi demonstrasi luas. Situasi semakin memanas setelah aparat menembaki pengunjuk rasa dalam insiden yang dikenal sebagai “pembantaian al-Mahatta”, yang menewaskan korban pertama dan menjadi titik balik dalam eskalasi konflik.

Kini, setelah 15 tahun, Muawiya menggambarkan perasaannya sebagai campuran antara kebanggaan dan kesedihan. “Ini hari kemenangan, tapi juga penuh luka. Kami kehilangan masa muda terbaik rakyat Suriah dan membayar harga yang sangat mahal,” katanya.

Ia juga menyoroti perbedaan besar antara masa lalu dan kondisi saat ini. Jika sebelumnya masyarakat tidak memiliki ruang untuk berbicara, kini proses pengadilan dilakukan secara terbuka dengan jaminan hukum, termasuk hak pembelaan bagi terdakwa.

Atif Najeeb berada di dalam kandang terdakwa di Istana Kehakiman di ibu kota Damaskus (Perancis).

Meski demikian, Muawiya menegaskan bahwa keadilan tidak boleh berhenti pada satu orang saja. Ia menyerukan agar seluruh pihak yang terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia selama konflik juga diadili.

Beberapa hari lalu, otoritas Suriah mulai menggelar persidangan terhadap sejumlah tokoh dari era pemerintahan sebelumnya, termasuk Atif Najib yang juga dikenal sebagai sepupu dari Bashar al-Assad. Namanya mencuat pada Maret 2011 ketika 15 anak ditangkap di Daraa karena menulis slogan anti-pemerintah.

Responsnya terhadap tuntutan pembebasan anak-anak tersebut—yang dianggap menghina keluarga mereka—memicu kemarahan luas dan diyakini sebagai salah satu pemicu awal pecahnya Revolusi Suriah 2011.

Kini, dengan dimulainya proses peradilan, banyak pihak melihatnya sebagai langkah awal menuju keadilan—meski jalan panjang masih terbentang untuk mengungkap seluruh pelanggaran yang terjadi selama konflik Suriah.

(Samirmusa/arrahmah.id)