Memuat...

Dari Target Militer ke Sipil: Babak Baru Perang Amerika–“Israel” atas Iran

Samir Musa
Jumat, 3 April 2026 / 15 Syawal 1447 07:33
Dari Target Militer ke Sipil: Babak Baru Perang Amerika–“Israel” atas Iran
Serangan udara Amerika dan “Israel” terhadap Iran menargetkan lokasi-lokasi sipil (Reuters)

TEHRAN (Arrahmah.id) - Serangan terbaru yang menargetkan jembatan “B1” di wilayah Karaj, utara Teheran, menandai eskalasi baru dalam pola serangan Amerika dan “Israel” terhadap Iran.

Serangan tersebut—yang menghantam salah satu proyek kebanggaan Iran sebagai jembatan terbesar dan tertinggi di kawasan “Timur Tengah”—dipandang sebagai titik balik penting dalam pola konfrontasi yang semakin meluas.

Langkah ini tidak lagi sekadar operasi militer terbatas, melainkan mengarah pada fase baru yang menjadikan infrastruktur sipil dan fasilitas vital sebagai sasaran, bukan hanya pangkalan militer atau fasilitas nuklir.

Sejumlah pengamat menilai, perubahan pola serangan dari target militer ke fasilitas sipil sejalan dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang sebelumnya mengancam akan “menghancurkan Iran hingga kembali ke zaman batu”.

Pejabat Iran menilai eskalasi ini mencerminkan adanya kekecewaan yang meningkat di Washington akibat kegagalan tekanan terhadap Teheran untuk menghentikan aktivitas militernya.

Kolom asap membubung di Teheran akibat pemboman yang terus berlangsung selama lebih dari sebulan (anadolu)

Menurut para analis, Amerika Serikat dan “Israel” kini berupaya melumpuhkan sektor-sektor vital kehidupan sipil, dengan harapan menciptakan ketidakstabilan internal serta menekan pemerintah Iran dari dalam.

Strategi ini juga disebut bertujuan untuk memicu tekanan publik terhadap pemerintah, sekaligus meningkatkan biaya rekonstruksi pascaperang.

Serangan terhadap Jembatan

Dalam perkembangan terbaru, jembatan “B1” yang digadang sebagai proyek strategis Iran dilaporkan hancur akibat serangan udara bertahap.

Serangan tersebut menghantam bagian tengah struktur utama yang menghubungkan Teheran dan Karaj.

Rekaman yang beredar di media sosial menunjukkan runtuhnya sebagian struktur jembatan setelah serangan kedua, hingga proyek tersebut tidak dapat difungsikan sebelum diresmikan.

Lebih tragis, serangan lanjutan terjadi ketika tim penyelamat tengah melakukan evakuasi korban akibat serangan pertama, sebagaimana dilaporkan televisi resmi Iran.

Jembatan sepanjang hampir seribu meter itu merupakan proyek strategis yang dirancang untuk mengatasi kemacetan kronis antara Teheran dan Karaj, sekaligus menjadi jalur penting distribusi transportasi dan layanan publik.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bahkan memuji serangan tersebut dan kembali menyerukan agar Iran segera mencapai kesepakatan, sembari mengancam akan menargetkan infrastruktur energi Iran jika negosiasi gagal.

Sasaran Sipil Meluas

Data di lapangan menunjukkan adanya perluasan target serangan yang kini menyasar berbagai sektor sipil vital.

Sejumlah wilayah di Teheran dilaporkan mengalami pemadaman listrik berkepanjangan akibat serangan terhadap jaringan distribusi, yang menyebabkan lumpuhnya aktivitas masyarakat.

Dalam perkembangan lain, Kementerian Kesehatan Iran melaporkan bahwa Institut Pasteur di Teheran turut menjadi sasaran serangan udara, menyebabkan kerusakan serius pada fasilitas yang telah berusia lebih dari satu abad.

Juru bicara kementerian, Hussein Kermanpour, menyebut serangan tersebut sebagai “serangan langsung terhadap keamanan kesehatan global”.

Serangan juga menghantam fasilitas “Tofigh Daru”, salah satu pusat penelitian dan produksi obat penting, termasuk obat kanker, yang mengalami kerusakan parah pada fasilitas produksinya.

Tidak hanya itu, permukiman warga di pusat Teheran juga menjadi sasaran serangan.

Serangan udara Amerika dan “Israel” menargetkan permukiman warga sipil di Teheran (Getty Images)

Dampak Besar dan Reaksi

Serangan udara tersebut juga menyasar sektor pendidikan, termasuk Universitas Iran untuk Sains dan Teknologi di Teheran.

Para analis menilai, pola serangan ini menunjukkan upaya sistematis untuk melemahkan fondasi negara, mulai dari sektor energi, kesehatan, hingga pendidikan dan riset ilmiah.

Di sisi lain, langkah ini berpotensi memicu kecaman internasional karena menyasar fasilitas sipil.

Namun, di dalam negeri Iran, kondisi ini justru dapat memperkuat narasi perlawanan dan meningkatkan dukungan publik terhadap pemerintah.

Sementara itu, Iran juga disebut terus melancarkan serangan balasan terhadap fasilitas sipil di kawasan Teluk, yang menimbulkan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur.

Sejak 28 Februari lalu, “Israel” dan Amerika Serikat dilaporkan terus melancarkan serangan terhadap Iran, yang telah menyebabkan ribuan korban jiwa.

Iran membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke arah “Israel”, serta menyerang apa yang disebut sebagai pangkalan dan kepentingan Amerika di sejumlah negara Arab, yang juga menimbulkan korban dan kerusakan.

Sejumlah negara yang terdampak telah mengecam serangan tersebut dan menyerukan penghentian agresi.

(Samirmusa/arrahmah.id)