TEL AVIV (Arrahmah.id) -- Sekitar 100 perwira dari unit elite militer 'Israel' dilaporkan menjadi korban kebocoran data setelah kelompok peretas Handala mengklaim berhasil membobol sistem yang terkait dengan Maglan (Unit 212), dalam insiden yang terjadi pada akhir April 2026.
Klaim tersebut pertama kali dipublikasikan oleh media berbasis Timur Tengah, termasuk laporan The Palestine Chronicle (26/4/2026), yang menyebut Handala telah mengakses dan menyebarkan identitas serta informasi sensitif para perwira. Data yang disebut bocor mencakup nama, jabatan, hingga detail pribadi yang berpotensi mengancam keamanan individu maupun operasi militer.
Serangan siber ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan kawasan dan eskalasi konflik digital antara kelompok pro-Palestina dan institusi 'Israel'. Handala, yang dikenal sebagai kelompok peretas dengan afiliasi pro-Palestina, mengklaim operasi tersebut sebagai salah satu serangan paling signifikan yang mereka lakukan terhadap target militer 'Israel'.
Unit yang menjadi sasaran, Maglan atau Unit 212, merupakan bagian dari pasukan khusus 'Israel' yang dikenal menjalankan operasi rahasia, termasuk pengintaian dan misi lintas batas. Targeting terhadap unit ini dinilai memiliki dampak strategis mengingat sensitivitas tugas dan identitas personelnya yang umumnya dirahasiakan.
Sejumlah media internasional turut menyoroti klaim ini. Laporan BBC News menekankan meningkatnya ancaman serangan siber terhadap institusi keamanan di kawasan Timur Tengah, sementara Reuters dalam analisisnya menyebut kebocoran data militer dapat membuka risiko keamanan serius jika informasi tersebut terverifikasi.
Hingga berita ini diturunkan, otoritas militer 'Israel' belum memberikan konfirmasi resmi terkait kebenaran maupun skala kebocoran data tersebut. Namun, sejumlah analis keamanan siber menilai bahwa jika klaim tersebut valid, maka dampaknya dapat mencakup risiko terhadap keselamatan personel, gangguan operasi militer, serta potensi eksploitasi lebih lanjut oleh pihak lawan.
Kelompok Handala dalam pernyataannya menyebut aksi ini sebagai bagian dari perang siber yang lebih luas.
“Ini adalah operasi bersejarah terhadap unit elite Israel,” demikian pernyataan kelompok Handala yang dikutip dalam laporan The Palestine Chronicle.
Insiden ini menambah daftar panjang serangan siber yang menargetkan sektor pertahanan di kawasan, sekaligus menegaskan bahwa konflik modern semakin meluas ke ruang digital, di mana data dan informasi menjadi aset strategis yang rentan diserang. (hanoum/arrahmah.id)
