Memuat...

JNIM Klaim Serangan Besar di Mali, Target Presiden hingga Bandara Bamako

Hanoum
Senin, 27 April 2026 / 10 Zulkaidah 1447 04:06
JNIM Klaim Serangan Besar di Mali, Target Presiden hingga Bandara Bamako
Foto ilustrasi. [Foto: X]

BAMAKO (Arrahmah.id) -- Kelompok militan Jama’at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM) mengklaim bertanggung jawab atas rangkaian serangan terkoordinasi di Mali yang menyasar pusat kekuasaan negara hingga instalasi militer.

Dalam pernyataan resminya,seperti dilansir The Long War Journal (26/4/2026), JNIM menyebut telah melakukan serangan terhadap kediaman Presiden Mali Assimi Goïta, kediaman Menteri Pertahanan Sadio Camara, serta Bandara Internasional Modibo Keita di ibu kota Bamako. Selain itu, kelompok tersebut juga mengklaim menyerang posisi militer di kota Kati yang dikenal sebagai basis strategis angkatan bersenjata Mali.

Serangan ini terjadi pada 25 April 2026 dan dilaporkan oleh sejumlah media internasional, termasuk The New York Times, sebagai bagian dari ofensif besar kelompok yang berafiliasi dengan al-Qaeda di kawasan Sahel.

Tidak hanya di ibu kota, JNIM juga mengklaim keberhasilan signifikan di berbagai wilayah. Dalam pernyataannya, kelompok tersebut menyebut telah menguasai kota Mopti secara penuh, merebut sebagian besar kamp militer di Sévaré dan Gao, serta mengambil alih kota strategis Kidal di wilayah utara setelah operasi terkoordinasi melawan tentara Mali dan pasukan bayaran Rusia.

Operasi tersebut, menurut JNIM, dilakukan bersama kelompok sekutu mereka, termasuk Front Pembebasan Azawad (FLA), yang selama ini aktif di wilayah utara Mali. Kolaborasi ini dinilai memperkuat kemampuan tempur dan jangkauan operasi kelompok bersenjata di kawasan tersebut.

Dalam pernyataan yang dikaitkan dengan pimpinan JNIM, Iyad Ag Ghaly, kelompok itu menegaskan bahwa keberhasilan operasi bukanlah kebetulan.

“Kami menyatakan bahwa kemenangan ini bukan terjadi secara kebetulan, melainkan hasil kerja yang berkelanjutan, koordinasi yang tulus dengan para sekutu, serta partisipasi efektif untuk membawa perubahan nyata bagi agama, negara, dan rakyat,” demikian pernyataan JNIM yang dinisbatkan kepada Iyad Ag Ghaly.

Lebih lanjut, JNIM juga menyampaikan posisi mereka terkait pihak asing dalam konflik tersebut. Mereka menyatakan ingin menjaga pihak Rusia tetap netral, dengan imbalan tidak menjadi target serangan serta membuka kemungkinan hubungan di masa depan yang lebih “seimbang dan efektif”.

Hingga kini, pemerintah Mali belum memberikan rincian resmi terkait skala kerusakan maupun korban akibat serangan tersebut. Namun laporan media internasional menyebut pertempuran berlangsung intens di sejumlah wilayah, menandai peningkatan signifikan aktivitas kelompok militan di negara tersebut.

Konflik di Mali sendiri telah berlangsung lebih dari satu dekade, melibatkan berbagai kelompok bersenjata, militer pemerintah, serta aktor asing. Serangan terbaru yang diklaim JNIM ini menunjukkan kemampuan kelompok tersebut untuk melancarkan operasi simultan di berbagai titik, termasuk target strategis di ibu kota.

Perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran komunitas internasional terhadap stabilitas kawasan Sahel, yang selama ini menjadi pusat aktivitas kelompok ekstremis dan konflik bersenjata berkepanjangan. (hanoum/arrahmah.id)