Memuat...

Dehumanisasi Muslim Palestina oleh Zionis, Buah Pahit Kapitalisme Global

Oleh SuryaniPegiat Literasi
Sabtu, 23 Mei 2026 / 7 Zulhijah 1447 15:26
Dehumanisasi Muslim Palestina oleh Zionis, Buah Pahit Kapitalisme Global
Ilustrasi. (Foto: Abed Rahim Khatib/Flash90)

Berbicara tentang Gaza Palestina seolah tidak ada habisnya. Penderitaan dan kesengsaraan menghiasi hari-hari kehidupan umat muslim di sana. Darah terus mengalir, bangunan hanya tinggal puing mengubur jasad-jasad yang sulit ditemukan.  Ribuan nyawa terus melayang tak terkecuali mereka yang luka-luka hingga menyisakan tubuh cacat dan kerusakan organ dalam. Perang telah merenggut kebahagiaan dan menyisakan kehancuran.

Jumlah korban tewas akibat agresi Zionis Israel di Jalur Gaza yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai 72.736 orang, dengan 172.535 lainnya terluka. Bahkan hingga 24 jam terakhir, rumah sakit yang masih beroperasi telah menerima 5 korban tewas dan 15 korban luka.

Semenjak diberlakukan genjatan senjata 11 Oktober 2025 warga yang tewas telah mencapai 856, luka 24.330, serta 770 jasad belum ditemukan di reruntuhan karena tidak dapat dijangkau oleh tim medis, ada yang terjebak di bawah reruntuhan atau di jalan-jalan. Itu semua disebabkan kondisi di lapangan belum kondusif, sementara Zonis terus melakukan serangan dengan dalih menarget kelompok militan. (Antaranews, 10/5/2026)

Dehumanisasi muslim Palestina oleh Zionis tidak hanya orang yang hidup, tetapi juga yang sudah mati. Orang yang hidup dibunuh, termasuk anak-anak. Yang sudah mati, jenazahnya tidak boleh dikuburkan di tanahnya sendiri, bahkan harus dibongkar lagi dan dipindahkan. (Sindonews, 10/5/2026).  Bahkan wilayah yang dikuasai Zionis makin luas, dan terus menyiapkan serangan baru untuk memperluas pendudukan. Gaza kini menjadi tempat paling mematikan bagi jurnalis. Lebih dari 300 jurnalis tewas sejak 7 Oktober 2025

Zionis tidak memperdulikan kesepakatan gencatan senjata dan terus menyerang Gaza (dengan dukungan politik, militer, dan keuangan dari AS) untuk memperluas pendudukannya dan melakukan genosida hingga jumlah korban makin banyak, termasuk anak-anak. Untuk membungkam pers dari menyiarkan kejahatan mereka pada dunia, Zionis menargetkan pembunuhan para jurnalis.

Lantas bagaimana sikap dunia Islam, terutama dunia Arab yang terdekat dengan pendudukan Gaza Palestina? Mereka hanya diam seolah tak punya nyali untuk membela saudaranya. Padahal kalau mereka mau penjajahan Zionis akan dengan mudah dituntaskan. Mengingat mereka memiliki tentara yang terkenal kuat juga senjata perang yang canggih yang senantiasa mereka banggakan. Tetapi hal itu hanya tersimpan di gudang-gudang dan barak-barak militer.

Penguasa di lebih dari 50 negeri muslim hari ini tidak tergerak untuk melakukan jihad membebaskan Palestina karena mereka terbelenggu oleh nasionalisme yang telah mengikis ukhuwah islamiah. Akhirnya yang tersisa hanyalah kepentingan dunia yang mereka cintai yakni kekuasaan dan kekayaan. Itulah buah pahit dari sistem kapitalisme yang melahirkan penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati) dalam jiwa para pemimpin umat.

Semenjak Daulah Islam runtuh di tahun 1924, kini semua negeri-negeri muslim menjadi negara bangsa (nation state) yang menerapkan sistem kapitalisme sekuler. Hingga Islam lemah, umat tercerai berai, sekat nasionalisme kian nyata hingga setiap orang hanya mementingkan negaranya sendiri. Apalagi penjajahan Zionis terhadap pelestina didukung penuh oleh AS sebagai negara adidaya dan pengusung kapitalime global.

Padahal pembebasan Palestina butuh ukhwuah Islamiah yang hakiki berupa persatuan muslim sedunia untuk berjihad. Persatuan umat adalah hal yang penting diwujudkan dalam menggalang kekuatan kaum muslim dalam mengusir penjajah di seluruh negeri-negeri muslim khususnya Palestina. Ukhuwah ini hanya terwujud dengan Khilafah, ia merupakan institusi pemersatu umat.

Khilafah akan menghentikan pendudukan dan genosida Zionis terhadap Palestina dan mengembalikan tanah Palestina pada pemiliknya, sekaligus me-riayah warga Palestina agar bisa hidup mulia. Khalifah sebagai pemimpin kaum muslim akan menyerukan jihad fisabilillah untuk mengusir penjajahan di negeri-negeri kaum muslim yang sedang terjajah. Hal tersebut sebagaimana sabda Rasulullah saw:

"Sesungguhnya seorang imam  itu (laksana) perisai. Dia akan dijadikan perisai, di mana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng...."    (HR Bukhari dan Muslim)

Itulah salah satu fungsi pemimpin dalam Islam. Selain mengurus urusan umatnya sekaligus pelindung rakyat dari gangguan musuh-musuh Islam dan menjaga negara dari serangan orang-orang kafir harbi. Sehingga Islam akan kuat, mulia dan berwibawa di hadapan musuhnya.

Sejarah telah memberi gambaran indah ketika seorang khalifah yakni Al-Mu'tashim Billah (khalifah era Abbasiyah) mendengar jeritan seorang wanita Bani Hasyim yang dilecehkan oleh orang Romawi di pasar Ammuriyah dan memanggil nama beliau. Al-Mu'tashim Billah memimpin sendiri pasukan terbaiknya yang konon barisannya tidak terputus dari Baghdad hingga Ammuriyah untuk membebaskan wanita tersebut.

Itulah karakter pemimpin dalam sistem Islam, yang keberadaannya harus diwujudkan kembali oleh umat saat ini.  Untuk itu  agenda utama atas persoalan Gaza dan negeri muslim (qadhiyah masiriyah)  adalah penegakan kembali Khilafah. Keberadaannya menjadi hal penting untuk menghapus entitas kezaliman seperti Dehumanisasi yang saat ini terus ditampakkan kafir penjajah dan sekutunya.

Wallahu 'alam bis shawwab.