MAKKAH (Arrahmah.id) — Ustaz Adi Hidayat (UAH) mengulas sejarah, latar belakang, dan makna Maulid Nabi Muhammad SAW dalam sebuah perbincangan bersama Ustaz Abdul Somad (UAS) dan Ustaz Das'ad Latif (UDL) di Makkah.
Perbincangan tersebut ditayangkan melalui kanal YouTube @haiguysofficial pada Selasa (22/8/2026). Dalam pembahasan itu, UAH tidak hanya menyinggung perdebatan mengenai Maulid Nabi, tetapi juga menjelaskan bagaimana momentum tersebut dapat menjadi sarana untuk menghidupkan kembali kesadaran umat terhadap Rasulullah SAW.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW hingga kini masih menjadi tema yang diperdebatkan di tengah umat Islam. Sebagian membahasnya dari sisi hukum, sementara sebagian lainnya memandang Maulid sebagai momentum untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus mengenang sejarah dan keteladanan beliau.
Dalam perbincangan bersama UAS dan UDL tersebut, UAH mengajak umat untuk tidak berhenti pada perdebatan mengenai istilah maupun bentuk kegiatan. Menurutnya, yang tidak kalah penting adalah melihat tujuan dan dampak yang diharapkan dari sebuah momentum keagamaan.
UAH menjelaskan bahwa pada masa-masa tertentu ketika umat Islam mengalami kemunduran, kondisi masyarakat juga mengalami pelemahan dalam berbagai aspek. Salah satu persoalan yang muncul adalah melemahnya kesadaran keislaman dan semakin sedikitnya figur yang dapat dijadikan teladan.
"Dulu waktu masa-masa kemunduran, suasana berbangsa itu sedang lemah, sedang kurang baik," ujar UAH.
Menurutnya, kondisi tersebut mendorong para ulama untuk menghadirkan kembali ruh keteladanan Rasulullah SAW di tengah masyarakat. Salah satu cara yang ditempuh adalah mengumpulkan masyarakat dalam majelis untuk kembali mengenal kehidupan, sejarah, dan ajaran Nabi Muhammad SAW.
Tujuan akhirnya, kata UAH, adalah menghidupkan jiwa dan kesadaran umat.
"Ketika jiwanya sudah hidup, diajak salat lebih mudah, baca Quran lebih mudah," katanya.
Maulid dan Perdebatan tentang Bidah
UAH kemudian menyinggung perdebatan mengenai Maulid Nabi, termasuk pandangan yang mempersoalkannya karena para sahabat Nabi Muhammad SAW tidak melakukan peringatan Maulid.
Menurut UAH, persoalan tersebut perlu dilihat dengan memahami posisi Maulid sebagai sebuah tradisi.
"Ini tradisi, bukan ibadah mahdah," ujar UAH.
Ia kemudian mengutip kaidah fikih al-'adah muhakkamah, yakni adat atau kebiasaan dapat menjadi pertimbangan hukum selama tidak bertentangan dengan syariat.
Karena itu, menurut UAH, bentuk ekspresi kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat berbeda-beda sesuai dengan tradisi masyarakat masing-masing, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat.
Ekspresi Cinta kepada Rasulullah
Dalam perbincangan tersebut, UAH juga menceritakan sejumlah pengalaman yang menurutnya menggambarkan bagaimana masyarakat mengekspresikan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Ia menyebut adanya masyarakat yang menabung untuk mempersiapkan kegiatan pada momentum 12 Rabiul Awal. Ada pula seorang pedagang makanan yang disebutnya menabung hingga jutaan rupiah untuk digunakan dalam kegiatan Maulid.
Menurut UAH, hal yang perlu diperhatikan bukan semata-mata bentuk acaranya, melainkan tujuan di balik kegiatan tersebut.
Momentum Maulid dapat digunakan untuk kembali mengingat sosok Rasulullah SAW, mempelajari sejarah kehidupannya, memahami ajarannya, serta meneladani akhlaknya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak hanya pada istilah "perayaan".
"Jangan terjebak dengan kata-kata, bukan perayaan, dia peringatan," katanya.
Kisah Peternak Kambing dan Pelajaran tentang Hak
UAH kemudian membagikan pengalaman ketika mengunjungi seorang peternak kambing di kawasan perbukitan di Jawa.
Ia melihat seekor kambing yang mulutnya ditutup menggunakan potongan botol minuman. Ketika ditanya alasannya, sang pemilik menjelaskan bahwa kambing tersebut baru dibawa dari tempat penjualan sehingga mulutnya ditutup agar tidak memakan sesuatu yang bukan haknya.
Jawaban tersebut membuat UAH terdiam dan menangis.
Ia kemudian merefleksikan pengalaman tersebut dengan ajaran Islam mengenai pentingnya menjaga lisan dan tidak mengambil sesuatu yang bukan hak.
Menurut UAH, manusia sering diajarkan untuk menjaga perkataan dan menjauhi sesuatu yang haram. Namun, ia justru menemukan seorang peternak yang begitu memperhatikan agar hewan peliharaannya sekalipun tidak memakan sesuatu yang bukan haknya.
Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa nilai-nilai agama seharusnya tidak hanya disampaikan dalam bentuk teori, tetapi juga diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari Maulid Menuju Kesadaran
Pengalaman lainnya juga disampaikan UAH ketika ia menemukan masyarakat yang telah berkumpul di sebuah musala sebelum waktu Subuh.
Ia menceritakan seorang warga yang menangis dan memohon ampun kepada Allah SWT. Orang tersebut mengakui belum merasa layak dengan amalnya untuk masuk surga, tetapi juga memohon agar tidak mendapatkan azab neraka.
Bagi UAH, doa tersebut menunjukkan adanya kesadaran seorang hamba terhadap keterbatasan amal sekaligus luasnya rahmat Allah SWT.
Pengalaman-pengalaman tersebut kemudian membawanya pada sebuah kesimpulan bahwa ukuran keberagamaan masyarakat tidak selalu dapat dilihat hanya dari perdebatan mengenai istilah atau bentuk suatu kegiatan.
Yang lebih penting adalah apakah sebuah momentum keagamaan mampu melahirkan kesadaran dan perubahan dalam kehidupan seorang Muslim.
"Jadi, kita berharap di Maulid ini bukan sekadar peringatan, tapi ada kesadaran yang luas," ujar UAH.
Bukan Sekadar Seremonial
UAH berharap momentum Maulid Nabi dapat melahirkan kesadaran yang lebih luas di tengah umat Islam.
Kesadaran tersebut diharapkan mampu melahirkan kemaslahatan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sekaligus menyatukan energi masyarakat untuk berubah menjadi lebih baik.
Ia juga berharap para ustaz dan ulama dapat menyampaikan risalah Islam dengan landasan ketakwaan kepada Allah SWT, bukan karena mengejar popularitas maupun keuntungan materi.
"Bukan atas dasar popularitas, bukan atas dasar materi duniawi," tegasnya.
Pada akhirnya, pembahasan UAH dalam perbincangan bersama UAS dan UDL di Makkah tersebut menempatkan Maulid Nabi bukan hanya sebagai persoalan ada atau tidaknya sebuah acara.
Lebih jauh, momentum tersebut dapat menjadi ruang untuk melihat sejauh mana kecintaan kepada Rasulullah SAW benar-benar melahirkan perubahan dalam kehidupan seorang Muslim.
Jika momentum tersebut mendorong seseorang mengenal Nabi lebih dekat, meneladani akhlaknya, memperbaiki ibadah, menjaga hak orang lain, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, maka nilai edukatifnya tidak berhenti pada sebuah acara seremonial.
Di tengah perdebatan mengenai Maulid Nabi, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW semestinya tidak berhenti pada ungkapan, tetapi diwujudkan melalui akhlak, ibadah, ketaatan, dan kehidupan sehari-hari.
(Samirmusa/arrahmah.id)
