TEL AVIV (Arrahmah.id) -- Sejumlah media 'Israel' mengkritik serangan militer yang diperintahkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terhadap sebuah pangkalan udara di Suriah dan memperingatkan bahwa kebijakan tersebut berisiko menyeret 'Israel' ke konflik yang lebih luas dengan Turki, negara anggota NATO. Kritik itu muncul setelah 'Israel' melancarkan serangan udara terhadap Pangkalan Udara Abu al-Duhur di Provinsi Idlib, Suriah, pada 18 Agustus 2026, dengan alasan mencegah kemungkinan penempatan pasukan Turki di lokasi tersebut.
Kritik paling tajam datang dari surat kabar Israel Haaretz, yang menilai langkah Netanyahu dapat membuka konflik baru yang tidak perlu dengan Ankara. Dalam laporan yang dikutip Anadolu Agency (24/8/2026), Haaretz menyebut serangan tersebut sebagai operasi yang “berbahaya dan sia-sia” serta memperingatkan bahwa aliansi baru sedang terbentuk di kawasan ketika 'Israel' justru berisiko semakin terisolasi.
Haaretz juga menyoroti bahwa eskalasi dengan Turki terjadi ketika Ankara semakin memperluas pengaruhnya di Suriah. Media 'Israel' itu mempertanyakan manfaat strategis serangan tersebut karena konflik langsung dengan Turki dapat menghadirkan persoalan jauh lebih besar bagi 'Israel' dibandingkan ancaman yang hendak dicegah dari kemungkinan keberadaan militer Turki di Suriah.
Kritik juga datang dari tokoh oposisi 'Israel' Yair Golan, yang menilai keputusan menyerang pangkalan Suriah tersebut berbahaya. Dalam pernyataannya yang dikutip media 'Israel', Golan menyebut serangan itu berkaitan dengan pertimbangan politik dan memperingatkan konsekuensi keamanan dari meningkatnya ketegangan dengan Turki.
Di sisi lain, Netanyahu membela keputusan tersebut. Perdana Menteri 'Israel' itu mengatakan pemerintahnya telah menyampaikan peringatan kepada Turki agar tidak memperluas kehadiran militernya ke wilayah selatan Suriah.
“Kami tidak akan menoleransi penguatan militer Turki yang bergerak ke arah selatan karena hal itu mengancam kami,” kata Netanyahu. Ia menyatakan 'Israel' sebelumnya telah memperingatkan bahwa keberadaan militer Turki di kawasan tersebut dapat dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan 'Israel'.
'Israel' menyatakan serangan terhadap Abu al-Duhur dilakukan setelah memperoleh informasi bahwa Turki berencana menempatkan pasukan di pangkalan tersebut. Kantor Netanyahu mengatakan 'Israel' telah berulang kali memperingatkan pemerintah Suriah bahwa pengerahan tersebut akan membahayakan keamanan 'Israel'. The Times of Israel melaporkan bahwa Netanyahu kemudian mengakui serangan itu dan menyebutnya sebagai pesan kepada Ankara.
Namun, Turki membantah tuduhan tersebut. Ankara menolak klaim bahwa pihaknya sedang mempersiapkan pengerahan pasukan ke pangkalan Abu al-Duhur untuk tujuan yang mengancam 'Israel'. Reuters melaporkan bahwa Turki justru menyerukan penghentian serangan 'Israel' yang disebutnya sebagai tindakan “sembrono”, sementara Israel menuduh Ankara melakukan “petualangan berbahaya” di Suriah.
Ketegangan tersebut mendapat perhatian khusus karena Turki merupakan anggota NATO. Konflik bersenjata langsung antara 'Israel' dan Turki tidak secara otomatis berarti NATO akan berperang melawan 'Israel', tetapi keterlibatan negara anggota aliansi tersebut dapat meningkatkan risiko krisis diplomatik dan militer yang jauh lebih luas. Kekhawatiran inilah yang membuat sebagian media dan analis Israel memperingatkan Netanyahu agar tidak membuka front baru di Suriah.
Media internasional juga melihat serangan Abu al-Duhur sebagai titik baru dalam persaingan Israel-Turki di Suriah. Al Jazeera melaporkan bahwa delapan serangan udara 'Israel' menghantam pangkalan tersebut pada 18 Agustus, sementara Amerika Serikat dan Turki mengecam eskalasi tersebut. Ankara membantah tuduhan Israel bahwa Turki sedang menyiapkan pengerahan pasukan ke pangkalan itu.
Sementara itu, Reuters melaporkan bahwa ketegangan Israel-Turki berlangsung bersamaan dengan upaya diplomatik untuk mencegah konflik semakin melebar. Pada 23 Agustus, Suriah dan 'Israel' dilaporkan melakukan pembicaraan tingkat tinggi yang dimediasi Amerika Serikat di Yordania. Pembicaraan itu antara lain membahas penghentian aktivitas militer 'Israel' di Suriah serta upaya agar ketegangan Israel-Turki tidak semakin memengaruhi situasi di Suriah. (hanoum/arrahmah.id)
