Memuat...

'Israel' Datangkan 240 Warga India untuk Isi Pemukiman Baru di Palestina Utara

Zarah Amala
Sabtu, 25 April 2026 / 8 Zulkaidah 1447 10:45
'Israel' Datangkan 240 Warga India untuk Isi Pemukiman Baru di Palestina Utara
Ratusan warga India dari komunitas Bnei Menashe di Ben Gurion Airport pada 23 April 2026. (Foto: Jack GUEZ / AFP via Getty Images)

TEPI BARAT (Arrahmah.id) - 'Israel' membawa sekitar 240 warga India dari negara bagian Manipur dan Mizoram pekan ini sebagai bagian dari upaya berkelanjutan mereka untuk membawa ribuan penjajah baru untuk menetap di Palestina utara yang diduduki.

Menteri Imigrasi dan Penyerapan 'Israel', Ofir Sofer, menyebut kedatangan tersebut sebagai momen bersejarah. Para pendatang baru ini berasal dari komunitas Bnei Menashe, sebuah kelompok yang diakui 'Israel' sebagai kelompok yang terkait dengan warisan Yahudi kuno.

Komunitas Bnei Menashe percaya bahwa mereka adalah keturunan bangsa 'Israel' kuno, meskipun bukti sejarah dan genetik untuk klaim ini tidak ada.

Seiring waktu, anggota kelompok tersebut telah menetap di berbagai daerah di Palestina, termasuk permukiman 'Israel' di Tepi Barat yang diduduki dan sebelumnya di Jalur Gaza.

Komunitas ini berjumlah sekitar 10.000 orang, sebagian besar masih tinggal di negara bagian Manipur dan Mizoram di timur laut India. Selama tiga dekade terakhir, hampir setengah dari mereka telah pindah ke 'Israel'. Banyak anggota percaya bahwa mereka adalah keturunan Suku Manasseh dalam Alkitab, yang menurut tradisi, diasingkan lebih dari 2.800 tahun yang lalu.

Suku Bnei Menashe termasuk dalam kelompok etnis Kuki di India dan berbicara bahasa dari rumpun Tibeto-Burman, yang akarnya umumnya terkait dengan Asia Timur. Sebagian besar komunitas Kuki memeluk agama Kristen pada awal abad ke-20 di bawah pengaruh misionaris. Namun, pada 1970-an, para peneliti 'Israel' menemukan dugaan kesamaan antara beberapa tradisi Kuki dan praktik Yahudi. Sejak itu, sejarah lisan, lagu, dan ritual dalam komunitas tersebut telah memperkuat kepercayaan akan asal usul bangsa 'Israel' kuno.

Kementerian Imigrasi 'Israel' mengatakan para pemukim akan menetap di bagian utara wilayah pendudukan dan akan memulai prosedur konversi formal ke agama Yahudi. Proses ini diperlukan untuk memenuhi syarat berdasarkan "Hukum Kepulangan" 'Israel', yang hanya memberikan kewarganegaraan kepada mereka yang diakui sebagai Yahudi.

Rombongan tersebut tiba di Bandara Ben Gurion dekat Tel Aviv dan menerima sambutan resmi. Media 'Israel' melaporkan bahwa gelombang ini menandai awal dari rencana pemerintah yang lebih luas untuk membawa lebih banyak anggota komunitas Bnei Menashe dari India dalam beberapa tahun mendatang.

Menurut The Jerusalem Post, kedatangan tersebut terjadi di bawah Operasi Sayap Fajar, sebuah inisiatif bersama antara Kementerian Imigrasi dan Badan Yahudi untuk 'Israel'. Operasi ini bertujuan untuk menyelesaikan relokasi anggota komunitas yang tersisa yang masih tinggal di India timur laut.

Para pejabat memperkirakan sekitar 600 pendatang baru akan tiba dalam tiga gelombang dalam beberapa minggu mendatang. Sebagian besar pendatang baru adalah keluarga muda yang awalnya akan tinggal di pusat-pusat penampungan di 'Israel' utara, termasuk Nof HaGalil, di mana beberapa di antaranya akan bertemu kembali dengan kerabat yang tiba lebih dulu.

Rencana 'Israel' yang lebih luas menargetkan relokasi sekitar 6.000 anggota komunitas Bnei Menashe pada 2030. Pihak berwenang mengatakan sekitar 1.200 orang lagi diperkirakan akan tiba pada akhir 2026.

Inisiatif ini merupakan tindak lanjut dari keputusan pemerintah yang dipimpin oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada November.

CEO Jewish Agency, Doron Almog, juga menggambarkan langkah tersebut sebagai bagian dari realisasi visi Zionis yang berkelanjutan.

Kedatangan terbaru ini terjadi ketika 'Israel' menghadapi peningkatan jumlah warga 'Israel' yang meninggalkan wilayah pendudukan. Data resmi menunjukkan puluhan ribu warga 'Israel' pergi pada 2024 dan 2025, didorong oleh genosida yang sedang berlangsung di Gaza dan dampaknya yang lebih luas.

Sejak Oktober 2023, genosida 'Israel' di Gaza telah menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 172.000 lainnya, serta menghancurkan sebagian besar infrastruktur wilayah tersebut. Secara historis, 'Israel' telah membawa jutaan penjajah dari seluruh dunia untuk menetap di wilayah tersebut sejak didirikan pada tahun 1948. (zarahamala/arrahmah.id)