JAKARTA (Arrahmah.id) – Mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Dino Patti Djalal, menanggapi tudingan bahwa Singapura berkonspirasi untuk menjatuhkan pasar modal Indonesia melalui Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Ia menilai tudingan tersebut tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan realitas hubungan kedua negara.
“Pandangan yang belakangan beredar bahwa Singapura sedang berkonspirasi untuk menjatuhkan pasar modal Indonesia, menyabotase ekonomi Indonesia dan melalui MSCI mencoba merebut aset-aset Indonesia dalam situasi fire sale atau jual saham murah, adalah pandangan yang tidak masuk akal dan jauh dari realita yang sebenarnya,” kata Dino melalui akun Instagram resminya, @dinopattidjalal, Kamis (22/10/2026).
Dino yang juga pernah menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat (AS) menegaskan bahwa Singapura merupakan negara tetangga yang selama ini memiliki hubungan kerja sama erat dengan Indonesia.
Menurutnya, sejarah menunjukkan bahwa Singapura kerap memberikan dukungan dalam berbagai situasi, mulai dari penanganan bencana hingga kerja sama ekonomi dan pendidikan.
“Sejarah membuktikan bahwa Singapura selalu siap membantu kita apakah itu untuk bencana tsunami, gempa bumi, krisis moneter, COVID-19, investasi, pendidikan, pembangunan Batam, Bintan, Karimun dan Kendal di Jawa Tengah, kerja sama militer dan lain sebagainya,” ungkapnya.
Dino juga menilai stabilitas politik dan ekonomi Indonesia memiliki kaitan erat dengan kepentingan Singapura.
Sebagai negara yang secara geografis bertetangga dekat dengan Indonesia, Singapura turut merasakan dampak ketika terjadi gejolak di Indonesia.
“Mereka adalah salah satu negara yang paling terdampak kalau terjadi gejolak politik dan ekonomi di negara kita. Karena itu, sebagai negara kecil yang secara geografis dihimpit Indonesia dan Malaysia, hukumnya tabu dan haram bagi elite politik Singapura untuk berkonspirasi mencelakai Indonesia. Sebagaimana juga tabu dan haram bagi Indonesia untuk mencelakai Singapura,” ujarnya.
Menurut Dino, memandang Singapura sebagai lawan dan menaruh kecurigaan berlebihan justru bertentangan dengan sejarah hubungan bilateral kedua negara. Ia menilai Indonesia perlu mempertahankan hubungan bertetangga yang baik, terutama ketika menghadapi berbagai tantangan regional.
Kabut Asap Jadi Ujian Diplomasi Indonesia
Selain menyoroti hubungan Indonesia-Singapura, Dino menyinggung persoalan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali menjadi perhatian di kawasan Asia Tenggara.
Ia menilai penanganan kabut asap menjadi ujian bagi diplomasi Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, Indonesia perlu menunjukkan kemampuan menyelesaikan persoalan lintas batas melalui kerja sama dan pendekatan diplomatik yang bijaksana.
“Masalah kabut asap adalah test case bagaimana Indonesia di bawah pemerintahan Prabowo bisa berdiplomasi secara bijak dalam menangani krisis kebakaran hutan. Bagaimana Indonesia bisa terus bertetangga dengan baik dalam situasi sulit dan bagaimana Indonesia sebagai negara yang dianggap sebagai pemimpin natural di kawasan Asia Tenggara bisa menangani krisis asap ini dengan cara yang semakin mengukuhkan kebesaran Indonesia, bukan kekerdilan,” kata Dino.
Ia menekankan bahwa persoalan kabut asap tidak seharusnya menjadi alasan untuk memperburuk hubungan dengan negara tetangga.
Sebaliknya, krisis tersebut dapat menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk memperkuat kepemimpinan regional melalui langkah konkret, koordinasi, dan diplomasi yang konstruktif.
Belajar dari Penanganan Tsunami Aceh dan Nias
Dino mencontohkan penanganan bencana tsunami Aceh dan Nias pada 2004 sebagai salah satu pengalaman yang dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia dalam menghadapi krisis.
Menurutnya, ketika itu Indonesia mampu mengoordinasikan bantuan dan kerja sama dari negara-negara tetangga serta masyarakat internasional untuk menangani dampak bencana besar tersebut.
Upaya tersebut dinilai turut meningkatkan penghormatan dan kepercayaan dunia terhadap Indonesia. Pengalaman itu, kata Dino, menunjukkan bahwa keterbukaan terhadap kerja sama internasional dapat memperkuat posisi Indonesia di mata dunia.
“Akibatnya, respek dan kepercayaan dunia terhadap Indonesia semakin tinggi,” tutupnya.
Pernyataan Dino muncul di tengah perbincangan mengenai dugaan konspirasi Singapura melalui MSCI untuk melemahkan pasar modal Indonesia. Ia mengingatkan agar isu tersebut tidak langsung diterima sebagai fakta tanpa dasar yang jelas.
Menurut Dino, menjaga hubungan baik dengan negara tetangga dan mengedepankan diplomasi merupakan langkah penting untuk menghadapi persoalan ekonomi maupun lingkungan.
Di tengah tantangan regional, Indonesia dinilai perlu memperkuat kerja sama internasional tanpa mengabaikan kepentingan nasional.
(ameera/arrahmah.id)
