Memuat...

Politikus Malaysia Sentil Prabowo Pakai Bahasa Jawa soal Kabut Asap Karhutla

Ameera
Kamis, 22 Oktober 2026 / 12 Jumadilawal 1448 14:15
Politikus Malaysia Sentil Prabowo Pakai Bahasa Jawa soal Kabut Asap Karhutla
Politikus Malaysia Sentil Prabowo Pakai Bahasa Jawa soal Kabut Asap Karhutla

KUALA LUMPUR (Arrahmah.id) – Anggota parlemen Malaysia, Kalam Salan, menyampaikan pesan langsung kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto agar segera menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap lintas batas.

Menariknya, politikus oposisi tersebut menggunakan bahasa Jawa untuk menyampaikan keluhannya mengenai dampak kabut asap terhadap masyarakat Malaysia.

Kalam, anggota parlemen dari daerah pemilihan Sabak Bernam, menyampaikan seruan itu saat membahas Rancangan Anggaran Belanja Malaysia 2027 di Dewan Rakyat, Rabu (21/10/2026).

Ia meminta pemerintah Indonesia segera memadamkan kebakaran dan mencegah persoalan kabut asap terus berulang setiap tahun.

“Pak Prabowo yang saya hormati, mohon segera mengambil tindakan untuk memadamkan kebakaran dan menghentikan pembakaran agar masalah ini tidak terus berulang setiap tahun,” demikian isi pesannya sebagaimana dilaporkan media Malaysia.

Ia juga berharap masyarakat kedua negara dapat menikmati udara bersih dan menjalani kehidupan yang sehat serta damai.

“Kami menginginkan langit yang cerah, udara yang bersih, serta masyarakat kedua negara dapat hidup sehat dan damai,” ujarnya.

Gunakan Bahasa Jawa untuk Sampaikan Keluhan

Kalam kemudian beralih menggunakan bahasa Jawa ketika menyampaikan dampak kabut asap kepada Presiden Prabowo. Ia menyinggung kemungkinan penggunaan bahasa Jawa dapat membantu pesannya dipahami oleh pemimpin Indonesia.

“Pak, asap songko kobongan asap kuwi nggawe masyarakat Malaysia susah ambegan. Akeh sing watuk, tenggorokan podo gathel, sesek ambegane. Sekolah nganti tutup, pariwisata dadhi sepi, lan uwong-uwong sing nyambut gawe ning kebun, raiso podho kerja,” kata Kalam.

Dalam bahasa Indonesia, pernyataan tersebut berarti bahwa asap akibat kebakaran membuat masyarakat Malaysia kesulitan bernapas. Banyak warga mengalami batuk, tenggorokan gatal, dan sesak napas. Aktivitas sekolah terganggu, sektor pariwisata menjadi sepi, sementara para pekerja perkebunan kesulitan menjalankan pekerjaan mereka.

Penggunaan bahasa Jawa ngoko dalam menyampaikan pesan kepada seorang presiden juga menjadi sorotan.

Dalam tradisi budaya Jawa, bahasa krama umumnya digunakan untuk menunjukkan penghormatan kepada orang yang lebih tua atau memiliki kedudukan tinggi, meskipun pemilihan ragam bahasa turut bergantung pada konteks dan kebiasaan penuturnya.

Di akhir pesannya, Kalam menyampaikan, “Kulo matur suwun, Bapak Presiden,” sebagai ungkapan terima kasih kepada Prabowo.

Singgung Nasib Pekerja Migran Indonesia

Kalam menegaskan bahwa persoalan kabut asap tidak hanya menyangkut hubungan bilateral antara Malaysia dan Indonesia. Dampaknya juga dirasakan pekerja migran Indonesia yang mencari nafkah di Malaysia.

Ketika kabut asap mengganggu kegiatan perkebunan, para pekerja berisiko kehilangan kesempatan bekerja dan mengalami penurunan pendapatan.

Kondisi tersebut dapat menyulitkan mereka memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk mengirimkan uang ke Tanah Air.

Kalam juga menyindir pernyataan seorang pemimpin Indonesia yang menyebut hutan Indonesia selama ini memasok oksigen bagi Malaysia. Ia mempertanyakan pernyataan tersebut dengan nada kritis.

“Mulo, ojo malah iki digawe guyonan,” ujarnya, yang berarti agar persoalan tersebut tidak dijadikan bahan lelucon.

Ia juga melontarkan sindiran mengenai peran hutan dalam menghasilkan oksigen. “Apakah pohon-pohon di Malaysia terbuat dari plastik sehingga tidak bisa menghasilkan oksigen?” demikian inti sindirannya sebagaimana dilaporkan media Malaysia.

Pernyataan tersebut menegaskan kritik Kalam bahwa persoalan kabut asap perlu ditangani secara serius, bukan sekadar menjadi perdebatan atau bahan sindiran di antara para pemimpin negara.

Ajukan Lima Usulan Penanganan Kabut Asap

Dalam pidatonya, Kalam turut mendesak pemerintah Malaysia memanfaatkan jalur diplomatik untuk mendorong Filipina, yang memegang keketuaan ASEAN pada 2026, mengambil langkah regional yang lebih kuat dalam menangani pencemaran asap lintas batas.

Ia mengajukan lima usulan untuk memperkuat penanganan persoalan tersebut.

Pertama, memperkuat penegakan hukum bersama terhadap pihak-pihak yang terbukti bertanggung jawab atas kebakaran hutan dan lahan.

Kedua, membangun sistem peringatan dini ASEAN dengan memanfaatkan pemantauan satelit dan data titik panas secara waktu nyata agar potensi kebakaran dapat diketahui lebih cepat.

Ketiga, membentuk tim tanggap darurat regional yang dapat dikerahkan untuk membantu memadamkan kebakaran sebelum asap menyebar ke negara tetangga.

Keempat, memperkuat mekanisme pertanggungjawaban dalam Perjanjian ASEAN tentang Pencemaran Asap Lintas Batas.

Kelima, membentuk dana regional untuk mendukung pencegahan kebakaran, pemulihan lahan gambut, serta pemberian bantuan kepada masyarakat yang terdampak.

Usulan tersebut diarahkan untuk mendorong kerja sama yang lebih konkret antarnegara ASEAN, mengingat dampak kebakaran dan kabut asap dapat melampaui batas wilayah nasional.

Malaysia dan Indonesia Jajaki Kerja Sama Lingkungan

Di tengah persoalan kabut asap yang berulang, Malaysia dan Indonesia juga tengah menjajaki penguatan kerja sama di bidang lingkungan dan perubahan iklim.

Pada hari yang sama, Wakil Menteri Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan Malaysia, Syed Ibrahim Syed Noh, menyampaikan bahwa kedua negara sedang menjajaki nota kesepahaman yang mencakup sejumlah bidang kerja sama lingkungan.

Pembahasan tersebut meliputi pertukaran data titik panas, pengelolaan kawasan berisiko tinggi, serta koordinasi penanganan dini untuk mencegah kebakaran meluas.

Malaysia juga telah menawarkan bantuan untuk menangani kebakaran di Sumatra dan Kalimantan. Pemerintah Indonesia menyatakan menerima tawaran tersebut, sementara pengaturan pengerahan bantuan masih dikoordinasikan.

Kabut asap lintas batas selama ini menjadi persoalan berulang di Asia Tenggara, terutama ketika kebakaran hutan dan lahan gambut terjadi. Asap yang terbawa angin dapat menyebar ke negara tetangga, termasuk Malaysia dan Singapura.

Dampaknya meliputi penurunan kualitas udara, gangguan pernapasan, memburuknya kondisi penderita asma, terganggunya kegiatan pendidikan, hingga penurunan aktivitas ekonomi dan pariwisata.

Pesan Kalam kepada Prabowo kembali menyoroti pentingnya penanganan karhutla secara serius dan berkelanjutan.

Selain upaya pemadaman, pencegahan kebakaran, penegakan hukum, pemulihan ekosistem, serta koordinasi regional dinilai menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko kabut asap di masa mendatang.

(ameera/arrahmah.id)