Memuat...

Diplomasi di Balik Layar, AS dan Iran Bahas Pembukaan Kembali Selat Hormuz

Zarah Amala
Selasa, 28 April 2026 / 11 Zulkaidah 1447 10:18
Diplomasi di Balik Layar, AS dan Iran Bahas Pembukaan Kembali Selat Hormuz
Garda Revolusi Iran telah berulang kali mengumumkan kendalinya atas kapal-kapal di Selat Hormuz (AFP)

WASHINGTON (Arrahmah.id) - Upaya diplomatik intensif terus berlangsung di balik layar antara Amerika Serikat dan Iran guna mencari jalan keluar dari konflik yang telah melumpuhkan jalur perdagangan global. Laporan terbaru mengungkapkan bahwa kedua belah pihak tengah menggodok proposal untuk membuka kembali Selat Hormuz sebagai pintu masuk utama penyelesaian perang.

Menurut laporan The New York Times dan CNN, Teheran telah menyampaikan proposal terbaru melalui mediator Pakistan setelah draf awal ditolak oleh Presiden AS, Donald Trump.

Pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade laut AS sebagai prasyarat utama untuk mengakhiri perang. Iran mengusulkan agar isu program nuklir ditunda dan dibahas pada fase negosiasi berikutnya setelah situasi keamanan stabil.

Iran mengisyaratkan niat untuk mengelola Selat Hormuz secara finansial pasca-pembukaan kembali, termasuk rencana pengenaan biaya transit atau penyediaan layanan bagi kapal tanker minyak.

Situasi di lapangan mendorong percepatan diplomasi. Pihak Iran mengakui bahwa kondisi saat ini sudah tidak berkelanjutan. Terdapat kekhawatiran serius akan habisnya stok bahan makanan pokok dalam beberapa pekan mendatang.

Pemerintah Iran telah mengaktifkan rencana darurat dengan mengalihkan logistik melalui jalur darat via Pakistan dan Turki, serta pengiriman dalam volume kecil dari Rusia melalui Laut Kaspia.

Sumber diplomatik menilai beberapa hari ke depan sangat menentukan bagi keberlangsungan upaya perdamaian ini. Meski belum ada putaran kedua pembicaraan langsung di Pakistan, sumber CNN menyebutkan bahwa posisi Washington dan Teheran sebenarnya tidak sejauh yang terlihat di ruang publik.

Respons Gedung Putih

Gedung Putih menanggapi laporan tersebut dengan sikap hati-hati. Juru bicara Gedung Putih menegaskan bahwa pihaknya tidak akan melakukan negosiasi melalui media massa. AS menekankan bahwa kesepakatan hanya akan diambil jika memenuhi kepentingan nasional Amerika, dengan syarat mutlak bahwa Iran tidak akan memiliki akses menuju senjata nuklir.

Meski masih terdapat perbedaan kepentingan yang tajam, dorongan untuk menghindari eskalasi lebih lanjut menjadi motif utama bagi kedua negara untuk tetap membuka pintu komunikasi diplomatik di tengah krisis pangan dan navigasi yang mengancam stabilitas ekonomi dunia. (zarahamala/arrahmah.id)