Memuat...

Teror 18 jam, Rincian Serangan 'Israel' Terhadap Kamp Qalandiya di Utara Yerusalem

Zarah Amala
Selasa, 28 April 2026 / 11 Zulkaidah 1447 10:08
Teror 18 jam, Rincian Serangan 'Israel' Terhadap Kamp Qalandiya di Utara Yerusalem
Setelah 18 jam teror, pasukan 'Israel' mundur dari Qalandiya dan Al-Ram (Foto: tangkapan video)

YERUSALEM (Arrahmah.id) - Pasukan pendudukan 'Israel' menarik diri dari kamp pengungsi Qalandiya dan kota Al-Ram di utara Yerusalem yang diduduki pada Selasa (28/4/2026), setelah operasi militer intensif selama 18 jam. Penarikan pasukan ini meninggalkan kerusakan material yang luas serta trauma mendalam bagi penduduk setempat, di tengah kecaman resmi Palestina yang menilai penyerbuan ini sebagai bagian dari agenda pengusiran paksa.

Operasi militer yang dimulai sejak Senin dini hari (27/4) tersebut diwarnai dengan serangkaian pelanggaran hak asasi manusia. Lebih dari 80 warga Palestina dari berbagai usia sempat ditangkap. Meski sebagian besar kemudian dibebaskan, banyak di antaranya melaporkan adanya penyiksaan dan penganiayaan selama penahanan.

Pasukan 'Israel' secara paksa mengusir penghuni rumah dan mengubah kediaman mereka menjadi barak militer, titik pengintaian, serta pusat interogasi lapangan.

Akses masuk dan keluar wilayah ditutup menggunakan tumpukan tanah dan beton, melumpuhkan mobilitas warga. Penggunaan drone untuk menjatuhkan gas air mata ke arah penduduk juga dilaporkan secara luas.

Penduduk lokal menyebut tindakan ini sebagai taktik "lingkungan yang mengusir" (expulsive environment). Muhammad Bazi, seorang warga setempat, menceritakan bagaimana adiknya beserta empat anak dan suaminya dipaksa keluar dari rumah di bawah todongan senjata.

"Memaksa orang meninggalkan rumah menciptakan ketakutan luar biasa. Ini adalah pola sistematis untuk mengosongkan kamp melalui teror yang berulang," ujar Bazi.

Departemen Urusan Yerusalem di Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) menyatakan bahwa penyerbuan ini merupakan eskalasi berbahaya yang bertujuan memecah belah jaringan sosial Palestina di sekitar kota suci. Target serangan bahkan menyasar fasilitas kemanusiaan, termasuk perusakan pintu masuk klinik milik UNRWA di kamp Qalandiya.

Penasihat Media untuk Gubernur Yerusalem, Marouf Al-Rifai, mengungkapkan bahwa tentara 'Israel' sengaja menggunakan pengeras suara untuk meneror warga serta menyebarkan selebaran militer berisi ancaman. Menurutnya, kampanye ini menyasar mantan narapidana dan keluarga martir sebagai bagian dari upaya sistematis untuk mematahkan perlawanan sosial.

Peristiwa ini dipandang oleh para pengamat sebagai upaya untuk mengisolasi Tepi Barat dari Yerusalem yang diduduki, melengkapi realitas pahit yang diciptakan oleh tembok pemisah dan pos pemeriksaan militer yang telah mengepung wilayah tersebut selama puluhan tahun. (zarahamala/arrahmah.id)