Memuat...

Ditemukan banyak peluru bersarang di tubuh WNI korban penembakan di Selandia Baru

Ameera
Sabtu, 16 Maret 2019 / 10 Rajab 1440 08:11
Ditemukan banyak peluru bersarang di tubuh WNI korban penembakan di Selandia Baru
Zulfirman Syah, WNI asal Padang, Sumatera Barat menjadi korban dalam kejadian penembakan brutal oleh teroris saat melaksanakan shalat Jum'at di Mesjid wilayah New Zealand, Selandia Baru (15 Maret 2019). Beliau terkena luka tembak sehingga harus dilarikan ke Rumah Sakit dalam kondisi kritis. Sedangkan anaknya dalam proses perawatan. [Facebook]

PADANG (Arrahmah.com) - Hendra Yaspita, kakak kandung Zulfirman Syah, warga Kota Padang, Sumatera Barat, yang menjadi korban penembakan brutal di masjid Kota Christchurch, Selandia Baru mengatakan terdapat banyak peluru bersarang di tubuh Zulfirman.

Meski tidak merinci berapa banyak peluru yang bersarang di tubuh Zulfirman, namun Hendra memastikan jika kondisi paru-paru korban bocor akibat terkena tembakan.

Tapi berdasarkan informasi dari istri korban, kondisi Zulfirman mulai stabil pasca operasi pertama, walau masih belum sadar.

“Operasi pertama, karena ada beberapa peluru. Tidak dijelaskan dimana saja peluru itu, tapi ada banyak peluru. Yang paling parah paru-parunya bocor,” kata Hendra Yaspita di Padang, Jumat malam (15/3/2019), lansir VIVA.

Hendra mengungkapkan, selain kondisi adiknya yang mulai stabil, kondisi keponakannya yang bernama Omar Rois (2) juga sudah mulai membaik.

Omar sudah sadar. Dalam peristiwa berdarah itu, Omar mengalami luka tembak pada bagian tangan dan kaki.

“Kondisi anaknya sudah sadar, dia tertembak di tangan dan kaki. Dia sama anaknya itu salat Jumat. Masjid itu terdekat dari tempat tinggalnya," terang Hendra.

Hendra menjelaskan, informasi mengenai adiknya menjadi salah satu korban penembakan brutal itu, ia dapati dari WhatsApp group keluarga. Tak lama kemudian, Hendra segera menghubungi istri korban untuk memastikan kebenaran informasi itu, serta mengetahui kondisi adiknya.

Hendra yang mewakili keluarga besar korban, memohon doa agar adik kandungnya itu segera pulih dan bisa kembali dan berkumpul bersama keluarga.

Ia juga mengutuk keras serangan teroris yang brutal terhadap jamaah Muslim yang sedang melaksanakan shalat di masjid Kota Christchurch, Selandia Baru.

Diketahui, Zulfirman bersama anak dan istrinya sudah pindah dan menetap di Selandia Baru, sejak Januari 2019.

Sebelumnya, Zulfirman sempat tinggal dan menikah di Yogyakarta dengan seorang wanita berkebangsaan Amerika pada 2015.

Korban terakhir pulang ke Kota Padang pada November 2018. Minta izin mau merantau ke Selandia Baru. Dengan niatan mencoba peruntungan nasib menjadi seniman di sana.

VIVA

(ameera/arrahmah.com)