Memuat...

GSF Siapkan Langkah Hukum Internasional terhadap "Israel", Relawan Indonesia Ungkap Dugaan Penyiksaan di Tahanan

Ameera
Selasa, 26 Mei 2026 / 10 Zulhijah 1447 05:57
GSF Siapkan Langkah Hukum Internasional terhadap "Israel", Relawan Indonesia Ungkap Dugaan Penyiksaan di Tahanan
GSF Siapkan Langkah Hukum Internasional terhadap "Israel", Relawan Indonesia Ungkap Dugaan Penyiksaan di Tahanan

TANGERANG (Arrahmah.id) — Koordinator Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Maimon Herawati, menyatakan bahwa Global Sumud Flotilla (GSF) tengah menyiapkan langkah hukum internasional terhadap "Israel" menyusul dugaan pelanggaran yang dialami para relawan kemanusiaan dalam misi menuju Gaza.

Pernyataan tersebut disampaikan Maimon dalam konferensi pers di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Ahad (24/5/2026), usai kepulangan sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) peserta misi kemanusiaan tersebut.

Menurut Maimon, saat ini telah terdapat puluhan surat perintah penangkapan terhadap personel militer "Israel" dan para pemimpinnya terkait dugaan pelanggaran kemanusiaan.

“Sudah ada 35 arrest warrant terhadap IDF dan pemimpin-pemimpinnya terkait berbagai pelanggaran yang mereka lakukan, dan akan semakin banyak tentunya,” ujar Maimon.

Ia menambahkan, sejumlah langkah hukum terhadap pejabat "Israel" juga mulai bermunculan di berbagai negara. Salah satu contohnya adalah larangan masuk ke Prancis terhadap Menteri Keamanan Nasional "Israel", Itamar Ben-Gvir.

GSF Siapkan Bantuan Hukum Internasional

Sebagai anggota Steering Committee GSF, Maimon menjelaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan sistem pelacakan dan pendampingan hukum internasional bagi peserta misi yang ditahan "Israel".

Sistem tersebut memungkinkan tim mengetahui posisi relawan yang ditangkap sekaligus mempercepat proses penyusunan kuasa hukum.

“Begitu mereka mendapatkan surat kuasa, yang langsung diusahakan adalah membebaskan mereka karena memang tidak ada pelanggaran hukum sama sekali,” katanya.

Maimon juga mengungkapkan bahwa pemerintah Turkiye awalnya hanya menyiapkan satu pesawat untuk sekitar 90 peserta asal negara tersebut.

Namun setelah berkoordinasi dengan Steering Committee GSF, akhirnya disiapkan tiga pesawat untuk membawa seluruh peserta menuju Istanbul.

Langkah itu dilakukan guna mempermudah proses visum, pendokumentasian kasus, hingga penyusunan langkah hukum terhadap "Israel". Selain itu, pemerintah Turkiye juga disebut membantu menyediakan akomodasi hotel bagi para peserta setibanya dari Israel.

Dalam kesempatan itu, Maimon turut menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia yang telah membantu proses kepulangan sembilan WNI peserta flotilla.

Relawan Indonesia Ungkap Dugaan Kekerasan di Tahanan

Sementara itu, jurnalis GPCI, Rahendro Herubowo, mengaku mengalami kekerasan fisik selama berada dalam tahanan "Israel".

Menurut Heru, perlakuan tersebut mulai terjadi sejak para aktivis dipindahkan ke penjara. Ia mengatakan para tahanan diborgol, barang-barang mereka disiram air, lalu menjalani pemeriksaan administrasi sebelum ditempatkan di ruang tahanan.

Heru mengaku mengalami pemukulan hingga terjatuh dan diinjak. Ia juga menyebut sempat disetrum sebelum akhirnya dilepaskan setelah berteriak di dalam ruang tahanan.

Menurut pengakuannya, tindakan paling berat terjadi saat kedatangan dan menjelang proses imigrasi. Ia menyebut terdapat bilik-bilik khusus yang digunakan untuk melakukan kekerasan terhadap tahanan sebelum dipindahkan ke lokasi lain.

Selama proses pemindahan, para tahanan disebut dipaksa berjalan sambil menunduk dalam kondisi diborgol, ditendang, hingga dijatuhkan.

Aktivis Mengaku Hanya Diberi Roti dan Air

Selain dugaan kekerasan fisik, Heru juga mengungkapkan kondisi konsumsi selama masa penahanan sangat terbatas.

Ia mengatakan para tahanan hanya menerima roti dan air dalam jumlah minim. Menurut pengakuannya, ia hanya mengonsumsi seperempat porsi makanan setiap hari sehingga kondisi fisiknya terus menurun selama masa penahanan.

Meski mengalami perlakuan tersebut, Heru menegaskan dirinya tidak kapok mengikuti misi kemanusiaan ke Gaza.

Ia menilai penderitaan yang dialami para relawan masih jauh lebih ringan dibanding kondisi warga Palestina yang hidup di tengah konflik berkepanjangan.

Heru juga menyebut pencegatan terhadap kapal flotilla menjadi bukti bahwa Israel masih berupaya menghalangi bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza.

Karena itu, para aktivis menegaskan akan terus berupaya menembus blokade demi membantu warga sipil Palestina.

(ameera/arrahmah.id)