BRUSSELS (Arrahmah.id) - Pertemuan antara delegasi Imarah Islam dan Uni Eropa diadakan di Brussels.
Topik utama yang dibahas antara perwakilan Imarah Islam dan Uni Eropa meliputi dimulainya kembali layanan konsuler bagi warga Afghanistan yang tinggal di Eropa, langkah-langkah membangun kepercayaan, kehadiran konsuler, dan memfasilitasi kepulangan migran secara bermartabat.
Abdul Qahar Balkhi, yang memimpin delegasi Imarah Islam dalam pertemuan tersebut, mengatakan ia berharap kunjungan ini akan membuka jalan bagi jalur baru keterlibatan positif dan perluasan kerja sama berdasarkan rasa saling menghormati dan kepentingan bersama, lansir Tolo News (25/6/2026).
Zakir Jalaly, Direktur Politik Kedua Kementerian Luar Negeri, menggambarkan kunjungan tersebut sebagai titik balik dalam hubungan Afghanistan dengan Uni Eropa. Ia menambahkan bahwa perjalanan tersebut merupakan kelanjutan dari kesepahaman sebelumnya antara Afghanistan, Jerman, dan Norwegia, yang menyebabkan para diplomat Imarah Islam melanjutkan aktivitas mereka di negara-negara tersebut.
Ia menekankan bahwa negara-negara Eropa dapat menggunakan pengalaman ini sebagai model praktis untuk membentuk pendekatan mereka dalam keterlibatan dengan Afghanistan.
Jalaly menyatakan: “Langkah ini diambil sebagai kelanjutan dari kesepahaman sebelumnya antara Afghanistan, Jerman, dan Norwegia, di mana para diplomat Afghanistan melanjutkan aktivitas mereka di negara-negara tersebut. Sejak saat itu, misi-misi ini telah beroperasi secara teratur dan memberikan layanan yang transparan kepada warga Afghanistan yang tinggal di Eropa. Pengalaman ini dapat berfungsi sebagai model praktis bagi negara-negara Eropa lainnya dalam menentukan bagaimana mereka berinteraksi dengan Afghanistan.”
Janat Fahim Chakari, seorang profesor universitas, mengatakan: “Ini adalah kesempatan yang baik bagi Imarah Islam untuk meningkatkan hubungannya dengan negara-negara Eropa dan menunjukkan melalui tindakannya bahwa langkah-langkahnya sesuai dengan norma internasional. Jika ada kekurangan, Imarah Islam harus menyesuaikan diri dengan hukum dan piagam internasional.”
Sementara itu, juru bicara Komisi Eropa, tanpa memberikan rincian tentang pertemuan tersebut, sekali lagi menggambarkannya sebagai pertemuan teknis murni yang diadakan atas permintaan 20 negara anggota Uni Eropa.
Markus Lammert, juru bicara Komisi Eropa, mengatakan: “Pertemuan-pertemuan ini diadakan pada tingkat teknis, dan tujuannya adalah untuk membangun kontak dan koordinasi teknis. Tidak ada proposal lain yang dapat saya komentari.”
Sebelumnya, organisasi hak asasi manusia, termasuk Amnesty International dan Human Rights Watch, menyerukan Uni Eropa untuk membatalkan rencana deportasi migran Afghanistan. (haninmazaya/arrahmah.id)
