Memuat...

JD Vance Sebut Perang Iran Jadi Penyebab Kekalahan Republik dalam Pemilu AS

Zarah Amala
Kamis, 5 November 2026 / 26 Jumadilawal 1448 10:35
JD Vance Sebut Perang Iran Jadi Penyebab Kekalahan Republik dalam Pemilu AS
Wakil Presiden AS JD Vance saat wawancara dengan podcaster Joe Rogan. (Foto: Tangkapan video)

WASHINGTON (Arrahmah.id) - Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyalahkan perang terhadap Iran sebagai penyebab kekalahan Partai Republik dalam pemilu paruh waktu. Ia mengatakan sejumlah pemilih yang mendukung Donald Trump pada pemilu 2024 beralih memilih Partai Demokrat pada 2026 karena menginginkan perang segera diakhiri dan perubahan hubungan Washington dengan 'Israel'.

Dalam pernyataan panjang di platform X pada Rabu (4/11/2026), Vance mengatakan masalah utama Partai Republik bukan rendahnya tingkat partisipasi pemilih, melainkan beralihnya dukungan dari para pemilih yang sebelumnya memilih Trump dan dirinya.

"Masalah utamanya adalah banyak orang yang memilih Trump/Vance pada 2024 justru memilih Demokrat pada 2026," tulisnya.

Vance mengatakan para analis Partai Republik sempat bersikap optimistis secara hati-hati selama pemungutan suara karena basis pendukung mereka terlihat cukup aktif memberikan suara. Namun, seorang analis data memperingatkannya bahwa tingginya partisipasi belum tentu menghasilkan suara bagi Partai Republik.

"Pemilih kita datang ke tempat pemungutan suara, tetapi mereka mungkin tidak akan memilih kita," kata Vance, mengutip peringatan analis tersebut.

Setelah Demokrat meraih kemenangan di kedua kamar Kongres, Vance menilai penyebab kekalahan partainya tidak boleh dikaburkan oleh perdebatan mengenai strategi kampanye.

"Alasan kami kalah adalah perang. Presiden sendiri telah mengatakan hal itu tadi malam," tulisnya.

Vance juga mengutip seorang lembaga jajak pendapat yang tidak disebutkan namanya. Lembaga tersebut sebelumnya memperkirakan Partai Republik akan kalah 13 poin dalam pertanyaan pilihan partai untuk pemilihan Kongres (generic congressional ballot).

Menurut Vance, lembaga itu kemudian bertanya kepada mantan pemilih Trump mengenai hal-hal yang dapat membuat mereka kembali mendukung Partai Republik.

Ia menyebut hampir seluruh jawaban responden terkonsentrasi pada empat tuntutan, yakni: Mengakhiri perang, Memprioritaskan biaya hidup dan inflasi, Mengutamakan kepentingan Amerika (America First), serta Mengubah hubungan Amerika Serikat dengan 'Israel'.

"Para pemilih kita datang ke tempat pemungutan suara. Namun, empat alasan di atas menjadi penyebab banyak dari mereka memilih Demokrat," tulis Vance.

Pernyataan tersebut menempatkan ketidakpuasan terhadap hubungan Washington dengan 'Israel' sebagai salah satu alasan utama peralihan dukungan pemilih Partai Republik, bersamaan dengan penolakan terhadap perang Iran dan keresahan akibat meningkatnya biaya hidup.

Meski demikian, Vance tidak menjelaskan perubahan seperti apa yang diinginkan para pemilih dalam hubungan AS-'Israel' ataupun mengusulkan kebijakan baru terhadap 'Israel'.

Ia juga membela Rachel Campos-Duffy, yang sebelumnya menuai kritik karena menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.

"Ketika banyak orang menghabiskan Senin untuk menyerang Rachel Campos-Duffy karena menyerukan penyelesaian diplomatik atas konflik tersebut, ternyata nasihat politiknya memang tepat," tulis Vance.

Vance mengakui bahwa pesan kampanye Partai Republik mengenai ekonomi seharusnya dapat disampaikan dengan lebih kuat. Namun, ia menolak anggapan bahwa kekalahan tersebut semata-mata disebabkan oleh kegagalan komunikasi.

"Namun, alasan sebenarnya kami kalah sudah jelas bagi hampir semua orang," ujarnya.

Ia juga memperingatkan agar kekalahan tersebut tidak dimanfaatkan untuk mendorong kebijakan amnesti bagi imigran. Menurutnya, usulan semacam itu justru mengalihkan perhatian dari persoalan utama.

Meski membuka peluang perubahan prioritas penegakan hukum imigrasi, termasuk pengawasan lebih ketat terhadap perusahaan yang mempekerjakan pekerja tanpa dokumen resmi, Vance tetap menegaskan bahwa perang menjadi faktor utama kekalahan Partai Republik. (zarahamala/arrahmah.id)