Memuat...

JNIM Klaim Tewaskan 150 Tentara Mali

Hanoum
Senin, 21 September 2026 / 10 Rabiulakhir 1448 03:50
JNIM Klaim Tewaskan 150 Tentara Mali
Angota kelompok JNIM. [Foto: Long War Journal]

BAMAKO (Arrahmah.id) -- Kelompok militan yang berafiliasi dengan Al Qaeda, Jama’at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM), mengklaim menewaskan sekitar 150 tentara Mali dan menangkap 93 lainnya dalam serangan terhadap pangkalan militer di Dioura, Mali tengah. Serangan yang berlangsung pada 10 September 2026 itu menjadi perhatian setelah JNIM merilis video yang disebut memperlihatkan puluhan tentara Mali yang ditawan.

Dalam pernyataannya, seperti dilansir The Washingon Post (19/9/2026), JNIM mengatakan para pejuangnya "menetralisasi" 150 anggota militer Mali, termasuk dua kolonel dan seorang kapten, serta menangkap 93 tentara lainnya saat menyerang garnisun militer di kawasan Dioura, wilayah Mopti.

Video yang dirilis melalui saluran propaganda kelompok itu kemudian memperlihatkan sejumlah orang yang disebut sebagai tentara Mali yang ditangkap dalam pertempuran.

Militer Mali mengonfirmasi bahwa pasukannya mengalami kerugian dalam pertempuran tersebut, tetapi tidak memberikan jumlah korban secara rinci. Mereka juga mengatakan unit-unitnya masih melakukan serangan terarah terhadap kelompok bersenjata di sekitar garnisun dan kota Dioura.

Militer Mali sebelumnya menyatakan bahwa operasi di wilayah tersebut telah menewaskan sejumlah anggota kelompok bersenjata dan menghancurkan kendaraan mereka. Pernyataan itu berbeda dengan klaim JNIM mengenai besarnya kerugian pasukan pemerintah.

Serangan Dioura berlangsung ketika keamanan Mali mengalami tekanan yang meningkat. Pada Juli, seperti dilansir Al Jazeera, JNIM bersama kelompok separatis Tuareg, Front de Libération de l'Azawad (FLA), mengklaim serangkaian serangan terkoordinasi terhadap posisi militer di sejumlah pangkalan dan posisi pasukan pemerintah, termasuk di Aguelhok, Anefis, Gao, Sévaré dan Kenieroba.

Kerja sama antara JNIM dan FLA menjadi perkembangan penting dalam konflik Mali pada 2026. Al Jazeera melaporkan bahwa kedua kelompok memiliki tujuan politik yang berbeda, tetapi bekerja sama dalam sejumlah operasi militer. JNIM merupakan kelompok yang berafiliasi dengan Al Qaeda, sementara FLA merupakan gerakan separatis yang memperjuangkan kemerdekaan wilayah Azawad di Mali utara.

JNIM sendiri dibentuk pada 2017 melalui penggabungan sejumlah kelompok yang berafiliasi dengan Al Qaeda dan kini menjadi salah satu kelompok bersenjata paling aktif di kawasan Sahel. Menurut laporan AP yang dikutip Washington Post, kelompok tersebut beroperasi di wilayah utara, tengah dan barat Mali serta telah memperluas aktivitasnya ke negara-negara tetangga seperti Burkina Faso dan Niger. Pemimpinnya adalah Iyad Ag Ghaly, tokoh yang sebelumnya memiliki latar belakang dalam gerakan pemberontak Tuareg. (hanoum/arrahmah.id)