Memuat...

Penjara 'Israel' Paksa Lepas Hijab Tahanan Perempuan Palestina

Hanoum
Rabu, 21 Oktober 2026 / 11 Jumadilawal 1448 04:01
Penjara 'Israel' Paksa Lepas Hijab Tahanan Perempuan Palestina
Foto ilustrasi. [Foto: X]

GAZA (Arrahmah.id) -- Petugas penjara 'Israel' memaksa sejumlah tahanan perempuan Palestina melepas hijab dan menjalani pemeriksaan rambut, disertai pemukulan serta penggunaan gas air mata di dalam sel.

Dilansir Asra Media Office (AMO), lembaga informasi tahanan Palestina, pada Senin (19/10/2026), menyebutkan bahwa 17 tahanan perempuan ditempatkan dalam sel isolasi setelah mengalami tindakan tersebut. Sejumlah tahanan dilaporkan mengalami penurunan kondisi kesehatan, termasuk seorang perempuan hamil.

Menurut laporan AMO, seorang petugas laki-laki memaksa para tahanan perempuan melepaskan hijab agar rambut mereka dapat diperiksa. Mereka juga disebut dipaksa mengurai kepangan rambut. Tindakan tersebut dinilai oleh lembaga itu sebagai pelanggaran terhadap privasi dan martabat para tahanan perempuan.

Laporan yang sama menyebutkan bahwa sejumlah tahanan dipaksa tengkurap di lantai selama sekitar satu jam dan dipukuli sebelum dibawa ke sel yang dipenuhi gas air mata.

AMO juga melaporkan penggunaan semprotan merica di ruangan yang menampung 15 tahanan perempuan, termasuk perempuan lanjut usia. Beberapa tahanan disebut mengalami muntah, sementara seorang tahanan dilaporkan pingsan dan lainnya kehilangan kemampuan berjalan.

Laporan terbaru tersebut menambah perhatian terhadap kondisi tahanan perempuan Palestina di penjara 'Israel'. Pada Desember 2025, Al Jazeera, juga memberitakan tuduhan bahwa tahanan perempuan di Penjara Damon mengalami pemukulan dan pemaksaan pelepasan hijab. Laporan ketika itu menyebut insiden serupa terjadi berulang kali sepanjang bulan tersebut.

Temuan yang lebih luas juga tercantum dalam laporan Komisi Penyelidikan Internasional Independen Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai wilayah Palestina yang diduduki dan 'Israel'.

Dokumen tersebut memuat kesaksian tahanan perempuan yang mengaku mengalami pemeriksaan tubuh invasif, pemaksaan melepas pakaian termasuk kerudung, pemukulan, serta ancaman kekerasan seksual.

Laporan itu juga menyoroti persoalan kurangnya makanan, air, dan perawatan medis bagi tahanan perempuan, termasuk perempuan hamil. (hanoum/arrahmah.id)