Memuat...

Barrack: Presiden Suriah Ingin Normalisasi dengan 'Israel'

Hanoum
Rabu, 21 Oktober 2026 / 11 Jumadilawal 1448 03:56
Barrack: Presiden Suriah Ingin Normalisasi dengan 'Israel'
Presiden Suriah Ahmad asy Syaraa (kanan) menerima utusan khusus Amerika untuk Suriah, Thomas Barrack, di Damaskus, pada 29 Mei 2025. [Foto: AFP/SANA]

DOHA (Arrahmah.id) -- Utusan khusus Amerika Serikat (AS) untuk Suriah, Tom Barrack, mengatakan Presiden Suriah Ahmad asy Syaraa menginginkan normalisasi hubungan dengan 'Israel' di tengah upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan kedua negara. Pernyataan tersebut disampaikan Barrack dalam forum Global Security Forum di Doha, Qatar, Selasa (20/10/2026), ketika ia juga mendesak 'Israel' menghentikan operasi militernya di wilayah Suriah.

Dikutip L'Orient Today (20/10), Barrack menilai asy Syaraa telah menangani situasi sulit dengan baik dan berupaya meyakinkan 'Israel' bahwa pemerintahan baru Suriah tidak bermaksud mengancam negara tersebut. Barrack menggambarkan pesan yang ingin disampaikan pemimpin Suriah itu sebagai berikut: dirinya tidak memiliki niat agresif terhadap 'Israel' dan menginginkan normalisasi hubungan.

Meski demikian, pernyataan tersebut merupakan penilaian Barrack atas sikap asy Syaraa, bukan pengumuman kesepakatan diplomatik resmi dari kedua negara.

Dalam kesempatan yang sama, Barrack mendesak 'Israel' menghentikan operasi militernya di Suriah. Ia juga mempertanyakan apakah Amerika Serikat perlu turun tangan secara langsung untuk menghentikan tindakan tersebut.

Sikap asy Syaraa mengenai hubungan dengan 'Israel' sebelumnya telah disampaikan dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera pada 26 Juli 2026. Saat itu, ia mengatakan pemerintahannya sedang mengupayakan kesepakatan keamanan dengan 'Israel' melalui keterlibatan sejumlah negara.

Menurut asy Syaraa, kesepakatan keamanan berpotensi menjadi pintu masuk menuju perdamaian yang lebih luas, tanpa mengorbankan klaim kedaulatan Suriah atas Dataran Tinggi Golan yang diduduki 'Israel'. Namun, pendekatan tersebut tidak berarti Damaskus bersedia menerima seluruh tuntutan Israel'.

Dalam forum Atlantic Council di New York pada September 2026, asy Syaraa menyatakan bahwa pembicaraan dengan 'Israel' harus mencakup penarikan pasukan 'Israel' dari wilayah Suriah yang diduduki setelah jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad pada Desember 2024. Setelah persoalan penarikan pasukan dan pengaturan keamanan diselesaikan, kedua negara baru dapat membahas kemungkinan perdamaian jangka panjang.

Media internasional Anadolu Agency pada 23 September 2026 juga melaporkan bahwa asy Syaraa menyebut negosiasi Suriah–Israel sebelumnya hampir mencapai 90 persen kesepakatan mengenai kerangka keamanan sebelum 'Israel' menarik diri atau mengajukan persyaratan tambahan.

Asy Syaraa mengatakan Suriah tetap memilih jalur diplomasi meskipun menuduh 'Israel' terus melakukan serangan, penyerbuan, dan pendudukan wilayah baru. Klaim mengenai kemajuan negosiasi tersebut disampaikan oleh asy Syaraa dan tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa kesepakatan telah tercapai.

Sementara itu, Al-Monitor melaporkan pada 15 Oktober 2026 bahwa Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu mengungkapkan dirinya pernah melakukan percakapan singkat dengan asy Syaraa setelah 'Israel' membombardir Kementerian Pertahanan Suriah di Damaskus pada Juli 2025.

Pengungkapan tersebut menjadi perkembangan penting karena kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dan telah lama berada dalam konflik. Pemerintahan Suriah sebelumnya telah memulai pembicaraan yang dimediasi Amerika Serikat untuk mencari pengaturan keamanan. (hanoum/arrahmah.id)