DAMASKUS (Arrahmah.id) -- Sebuah kelompok militan yang menyebut dirinya Saraya Nuzza’ al-Qaba’il mengumumkan pembentukan sayap bersenjata di Suriah pada 30 September 2026 dan menyatakan akan menghadapi keberadaan militer 'Israel' di wilayah selatan Suriah. Namun hingga kini belum ada konfirmasi independen mengenai jumlah anggota, lokasi basis, struktur komando, maupun kemampuan militer kelompok tersebut.
Dalam pernyataannya, seperti dilansir Shabab al Sham (30/9/2026), kelompok tersebut mengaitkan pembentukannya dengan situasi keamanan di Suriah selatan dan apa yang mereka sebut sebagai serangkaian serangan, penangkapan serta operasi militer 'Israel' di wilayah Suriah.
Kelompok itu menyatakan bahwa anggotanya berasal dari kalangan yang mereka sebut sebagai “mujahidin” di Levant dan menyerukan kepada warga Suriah untuk bergabung. Pernyataan tersebut ditandatangani oleh seseorang yang menggunakan nama Abu Moaz Aknaf dan menyebut dirinya bagian dari struktur militer kelompok.

Pengumuman tersebut muncul ketika aktivitas militer 'Israel' di selatan Suriah memang dilaporkan berlangsung berulang kali. Pada 25 September, Anadolu Agency melaporkan sebuah patroli militer 'Israel' memasuki kawasan Wadi al-Ruqad di pedesaan Daraa dan melepaskan tembakan, berdasarkan laporan media pemerintah Suriah. Presiden Suriah Ahmad asy Syaraa sebelumnya mengatakan dalam pidatonya di Majelis Umum PBB bahwa sejak akhir 2024 telah terjadi ratusan serangan udara dan artileri serta lebih dari seribu operasi masuk ke wilayah Suriah yang dikaitkan dengan 'Israel'.
Aktivitas serupa juga dilaporkan di Provinsi Quneitra. Pada 29 September, lima kendaraan militer 'Israel' dilaporkan memasuki kawasan Desa Zbayda ketika para pelajar sedang menuju sekolah. Laporan L'Orient Today, yang mengutip Syrian Observatory for Human Rights (SOHR), menyebut tidak ada bentrokan dengan warga dalam insiden tersebut. Pergerakan pasukan 'Israel' di Quneitra dan Daraa disebut telah berlangsung berulang dalam beberapa bulan terakhir.
Anadolu sebelumnya melaporkan bahwa pada 16 September pasukan 'Israel' memasuki Abdeen di pedesaan Daraa dan kemudian menarik diri setelah beberapa jam. Komisi Penyelidikan Internasional Independen untuk Suriah juga menyatakan dalam pengarahan kepada Dewan HAM PBB pada September bahwa aktivitas militer 'Israel' di Suriah selatan semakin berulang dan menetap, termasuk patroli, operasi penggerebekan, pemeriksaan serta pendirian pos pemeriksaan dan fasilitas militer.
Di tengah perkembangan tersebut, pemerintah Suriah juga melakukan operasi keamanan terhadap kelompok bersenjata yang dianggap dapat mengancam stabilitas wilayah selatan. Pada 30 September, Kementerian Dalam Negeri Suriah mengatakan pihaknya membongkar sel beranggotakan tiga orang yang menurut pemerintah memiliki hubungan dengan milisi Syiah Hizbullah di wilayah Basin Yarmouk, Daraa barat. Aparat menuduh sel tersebut berupaya menyiapkan peluncur roket untuk melakukan serangan, tetapi pihak Hizbullah belum memberikan tanggapan atas tuduhan tersebut.
Namun, sejauh informasi yang tersedia pada 30 September, belum ada bukti independen bahwa Saraya Nuzza’ al-Qaba’il telah melakukan operasi bersenjata terhadap pasukan 'Israel' atau memiliki kapasitas militer yang signifikan. (hanoum/arrahmah.id)
