Memuat...

Kemenangan Demokrat Picu Kekhawatiran 'Israel', Dukungan Militer AS Terancam Berubah

Zarah Amala
Kamis, 5 November 2026 / 26 Jumadilawal 1448 12:05
Kemenangan Demokrat Picu Kekhawatiran 'Israel', Dukungan Militer AS Terancam Berubah
Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu (kanan). (Foto: QNN)

WASHINGTON (Arrahmah.id) - Kemenangan besar Partai Demokrat dalam pemilu paruh waktu Amerika Serikat (AS) memicu kekhawatiran di kalangan politisi, jurnalis, dan analis 'Israel'. Mereka memperingatkan bahwa hasil pemilu tersebut dapat menjadi titik balik hubungan AS-'Israel', terutama terkait dukungan militer Washington dan posisi 'Israel' di dunia internasional.

Kekhawatiran itu muncul ketika Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menghadapi kritik yang semakin kuat di Washington, di tengah berlanjutnya genosida di Gaza dan perang terhadap Iran.

Mantan Perdana Menteri 'Israel' Yair Lapid mengatakan hasil pemilu tersebut secara efektif telah menutup peluang pembentukan pemerintahan persatuan nasional bersama Netanyahu. Menurutnya, keberlanjutan kepemimpinan Netanyahu justru menjadi ancaman bagi keamanan dan posisi internasional 'Israel'.

“'Israel' tidak bisa membiarkan dia tetap menjabat sebagai perdana menteri. Hal itu membahayakan keamanan, mengancam demokrasi, dan akan menghancurkan posisi kita di mata dunia,” tulis Lapid melalui platform X pada Rabu (4/11/2026).

Pernyataan tersebut muncul di tengah laporan bahwa Presiden AS Donald Trump mendesak Netanyahu dan tokoh-tokoh oposisi 'Israel' membentuk pemerintahan persatuan tanpa melibatkan politisi sayap kanan ekstrem. Langkah itu disebut berkaitan dengan upaya Trump mendorong agenda regionalnya.

Pemimpin koalisi Partai Demokrat 'Israel', Yair Golan, juga memperingatkan bahwa Netanyahu semakin terisolasi di Washington. Ia bahkan menyebut Netanyahu telah menjadi sosok “beracun” bagi Partai Demokrat maupun Republik di AS.

Golan mengatakan 'Israel' menghadapi dua pilihan: tetap berada di bawah kepemimpinan Netanyahu dan semakin terisolasi, atau membentuk pemerintahan yang mampu memulihkan posisi internasional negara tersebut.

Anggota parlemen dari Partai Demokrat, Gilad Kariv, menyampaikan sikap serupa dengan menolak kemungkinan pembentukan pemerintahan persatuan bersama Partai Likud pimpinan Netanyahu.

“Siapa pun yang pagi ini masih berbicara tentang persatuan dengan Netanyahu tidak memahami hasil pemilu di 'Israel' dan tidak memahami hasil pemilu di Amerika Serikat,” tulis Kariv di X.

Hasil pemilu AS juga memunculkan kekhawatiran di kalangan pejabat dan komentator 'Israel' mengenai masa depan dukungan militer serta diplomatik Washington yang selama ini menjadi salah satu penopang utama 'Israel'.

Kekhawatiran tersebut menguat setelah sejumlah politisi Demokrat progresif meraih kemenangan. Beberapa di antara mereka sebelumnya menyerukan penghentian bantuan militer AS kepada 'Israel' sebagai respons atas perang genosida di Gaza.

Salah satunya adalah Abdul El-Sayed, senator terpilih dari Michigan sekaligus Muslim pertama yang terpilih menjadi anggota Senat AS. Ia selama ini menyerukan penghentian bantuan militer Washington kepada 'Israel'.

Mantan Menteri Luar Negeri 'Israel' Tzipi Livni memperingatkan bahwa Netanyahu semakin kesulitan mempertahankan legitimasi internasional bagi 'Israel' maupun memperoleh dukungan atas apa yang disebutnya sebagai hak Israel untuk membela diri.

Gili Cohen, koresponden diplomatik stasiun penyiaran 'Israel' Kan 11, menyebut hasil pemilu tersebut bukan hanya menjadi pukulan bagi Trump, tetapi juga bagi posisi 'Israel' di AS. Ia memperingatkan bahwa kelanjutan bantuan militer Amerika kepada 'Israel' kini dapat dipertanyakan.

Jurnalis Haaretz, Amir Tibon, menyebut hasil pemilu itu sebagai “gempa politik”. Menurutnya, keberlanjutan kepemimpinan Netanyahu merupakan ancaman langsung terhadap hubungan khusus antara Washington dan Tel Aviv.

Tibon mengatakan Netanyahu semakin tidak populer di kalangan Partai Demokrat maupun Republik. Bahkan, sejumlah politisi Republik turut menyalahkan Netanyahu atas kekalahan partai mereka dalam pemilu.

Ia menilai 'Israel' perlu menjauhkan diri dari Netanyahu jika ingin memulihkan posisinya di AS. Jika tidak, 'Israel' berisiko menghadapi konsekuensi serius.

Peringatan mengenai kemungkinan perubahan hubungan AS-'Israel' juga datang dari politisi dan komentator sayap kanan 'Israel'.

Jurnalis Ariel Kahana mengatakan kepada Radio 103FM bahwa 'Israel' mengalami kemunduran besar dalam pemilu AS tersebut. Menurutnya, 'Israel' seolah-olah turut menjadi salah satu pihak yang dipertaruhkan dalam pemilihan itu. Ia juga menyebut Netanyahu telah menjadi beban bagi 'Israel'.

Analis politik Kobby Barda dari Jewish People Policy Institute menyebut Netanyahu sebagai salah satu pihak yang paling dirugikan oleh hasil pemilu. Ia berpendapat 'Israel' tidak lagi bisa menjadikan Netanyahu sebagai wajah pemerintahannya di hadapan dunia internasional, mengingat popularitas sang perdana menteri yang terus menurun di AS.

Mantan diplomPresiden AS Donald Trump (kiri) dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu (kanan). (Foto: QNN)at 'Israel' Michael Oren menyampaikan salah satu peringatan paling keras. Ia mengaku khawatir atas kemenangan politisi progresif, termasuk El-Sayed, yang ia sebut “sangat anti-'Israel'” dan tuduh bersikap antisemit.

Oren memperingatkan bahwa penghentian bantuan militer AS dapat diikuti pembatasan yang lebih luas. Hal itu, menurutnya, berpotensi mencakup kerja sama intelijen, sistem persenjataan gabungan, pemberian visa bagi warga 'Israel', serta pasokan komponen militer penting.

Ia juga mengangkat kemungkinan Washington menjatuhkan sanksi terhadap 'Israel'.

“Era setengah abad hubungan AS-'Israel' sebagaimana yang kita kenal selama ini telah berakhir,” kata Oren. Ia memperingatkan bahwa masa depan hubungan kedua negara kini tidak lagi pasti. (zarahamala/arrahmah.id)