JAKARTA (Arrahmah.id) - Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan tetap menolak penyelenggaraan konser penyanyi asal Italia, Andrea Bocelli, di Jakarta yang digelar pada Selasa (3/11/2026). Sikap penolakan tersebut telah disampaikan secara resmi kepada pemerintah, baik melalui pernyataan tertulis maupun secara lisan.
Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof Sudarnoto Abdul Hakim, mengatakan pihaknya memahami bahwa keputusan akhir terkait penyelenggaraan konser berada di tangan pemerintah.
Namun, ia menegaskan MUI telah menjalankan tanggung jawabnya dengan menyampaikan sikap resmi terkait persoalan tersebut.
Menurut Sudarnoto, MUI telah melakukan pertemuan dengan Kementerian Pariwisata dan Kementerian Ekonomi Kreatif. Dalam pertemuan itu, kedua kementerian menyampaikan bahwa pemerintah tetap melanjutkan penyelenggaraan konser, sementara MUI tetap mempertahankan sikap penolakannya.
Di sisi lain, Sudarnoto menilai dukungan masyarakat terhadap sikap MUI semakin menguat menjelang pelaksanaan konser. Dukungan tersebut datang dari berbagai elemen masyarakat, termasuk lembaga dan organisasi kemasyarakatan Islam yang memiliki kepedulian terhadap Palestina.
Ia berharap berbagai bentuk penolakan yang muncul dapat disampaikan melalui cara-cara yang terhormat dan tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.
“Yang paling penting, saya ingin menyampaikan bahwa pemerintah, masyarakat secara umum, dan saya kira juga masyarakat internasional mengetahui bahwa MUI bersama elemen masyarakat, lembaga, ormas-ormas Islam, serta lembaga-lembaga yang memiliki kepedulian terhadap Palestina tidak mendukung adanya konser Bocelli ini,” ujarnya di Kantor MUI, Selasa (3/11/2026).
Terkait kehadiran masyarakat maupun sejumlah pejabat dalam konser tersebut, Sudarnoto menyebut hal itu merupakan hak dan pilihan masing-masing individu.
Setiap orang, menurutnya, memiliki kebebasan untuk menentukan sikap, termasuk memilih menghadiri atau tidak menghadiri konser tersebut.
Lebih lanjut, Sudarnoto menyayangkan belum adanya penjelasan dari pemerintah, manajemen Andrea Bocelli, maupun pihak promotor mengenai keterlibatan penyanyi tersebut dalam kegiatan penggalangan dana yang diselenggarakan organisasi pro-Israel, The Friends of the Israel Defense Forces (FIDF), di Los Angeles pada 2010.
Ia menilai keterlibatan tersebut perlu dijelaskan secara terbuka kepada publik. Menurut Sudarnoto, kegiatan penggalangan dana itu disebut berhasil menghimpun dana dalam jumlah besar. Namun, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti berapa jumlah dana yang kemudian disalurkan kepada "Israel".
Sudarnoto juga mempertanyakan narasi yang selama ini dibangun dengan menonjolkan pesan cinta dan perdamaian dalam konser Andrea Bocelli.
Menurutnya, pesan tersebut perlu dilihat secara utuh dengan mempertimbangkan rekam jejak keterlibatan Bocelli dalam kegiatan penggalangan dana tersebut.
“Kalau memang cinta damai, harusnya dia tidak ikut andil dalam konser tahun 2010 itu. Kalau cinta damai hanya dalam lirik, tentu bagus saja. Tapi apa buktinya?” katanya.
Ia menegaskan, persoalan tersebut semestinya mendapatkan penjelasan langsung dari Andrea Bocelli maupun pihak promotor.
Pemerintah juga dinilai perlu memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut, bukan hanya mendukung penyelenggaraan konser.
Meski MUI tetap menyatakan penolakan, konser Andrea Bocelli di Jakarta akhirnya tetap digelar sesuai jadwal pada Selasa (3/11/2026).
Sementara itu, masyarakat yang menolak konser tersebut terus menyampaikan aspirasi dan kritik melalui berbagai cara yang tertib dan terhormat.
(ameera/arrahmah.id)
