Memuat...

Krisis Hormuz Memanas: AS Luncurkan “Freedom Plus”, Siap Hantam Ancaman Sebelum Menyerang

Samir Musa
Senin, 11 Mei 2026 / 24 Zulkaidah 1447 20:10
Krisis Hormuz Memanas: AS Luncurkan “Freedom Plus”, Siap Hantam Ancaman Sebelum Menyerang
Krisis Hormuz Memanas: AS Luncurkan “Freedom Plus”, Siap Hantam Ancaman Sebelum Menyerang

HORMUZ (Arrahmah.id) – Amerika Serikat dikabarkan tengah menyiapkan skema baru bernama “Proyek Freedom Plus”, sebuah pengembangan dari operasi sebelumnya yang hanya berfokus pada pengawalan kapal dagang di Selat Hormuz serta merespons serangan secara defensif.

Dalam versi terbarunya, pendekatan ini mengalami perubahan signifikan. Jika sebelumnya bersifat perlindungan, kini Amerika beralih ke strategi yang lebih agresif berupa serangan pendahuluan terhadap potensi ancaman.

Perbedaan utama antara “Freedom” dan “Freedom Plus” meliputi:

  • Peralihan dari kebijakan perlindungan menuju kebijakan serangan pre-emptive menurut penilaian militer AS.
  • Rencana penghancuran platform ancaman Iran sebelum serangan diluncurkan.
  • Perluasan cakupan operasi hingga wilayah yang lebih luas di Teluk dan Laut Arab.

Gagasan ini disampaikan oleh mantan Presiden AS, Donald Trump, di tengah krisis pelayaran yang belum pernah terjadi sebelumnya di Selat Hormuz.

Data dari lembaga pelacakan maritim menunjukkan bahwa lalu lintas kapal hampir lumpuh total. Pada 7 dan 8 Mei, tidak ada satu pun kapal yang melintas. Baru pada 9 Mei, hanya dua kapal yang tercatat melewati selat tersebut—satu menuju pelabuhan Imam Khomeini di Iran dan satu lagi keluar menuju Pakistan.

Diperkirakan antara 1.500 hingga 2.000 kapal kini tertahan di perairan Teluk. Komando Pusat AS juga mengumumkan telah mengalihkan rute 58 kapal dan menghentikan 4 kapal sejak dimulainya blokade pelabuhan. Beberapa kapal bahkan dilaporkan menjadi sasaran serangan, menandakan bahwa kawasan Teluk telah berubah menjadi arena ketegangan yang tidak diumumkan secara resmi.

Eskalasi Lebih Besar

Menurut laporan jurnalis Ahmed Vall Ould Eddine untuk Al Jazeera, wacana “Freedom Plus” mencerminkan pergeseran kebijakan Washington dari sekadar perlindungan menjadi pengelolaan konflik yang lebih eskalatif, terutama jika jalur diplomasi gagal.

AS kini memperkuat kehadiran militernya dengan menempatkan kapal induk di Laut Arab, kapal perusak dengan sistem pertahanan udara, pesawat pengintai, serta drone yang terus beroperasi di udara. Tujuan utamanya adalah menciptakan efek gentar terhadap Iran melalui ancaman serangan cepat dan mendadak.

Di sisi lain, Iran juga tidak tinggal diam. Teheran meningkatkan kemampuan militernya dengan mengerahkan kapal selam siluman, kapal cepat bersenjata, serta drone kamikaze.

Strategi ini bertujuan menjaga tekanan terhadap pasukan AS tanpa harus masuk ke dalam perang terbuka, memanfaatkan karakteristik perairan dangkal Selat Hormuz yang padat dengan lalu lintas sipil.

“Senjata Kabel” dan Ancaman Baru

Menariknya, media yang dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran mulai membahas pendekatan berbeda yang tidak langsung bersifat militer, yakni potensi pengenaan biaya terhadap kabel bawah laut yang melintasi Selat Hormuz.

Kabel-kabel ini merupakan infrastruktur vital berbasis serat optik yang dilapisi baja, plastik, dan tembaga, dan menyumbang sekitar 97% komunikasi digital di kawasan tersebut. Bahkan, sekitar 30% lalu lintas internet global antara Eropa, Asia, dan Timur Tengah melewati jalur ini.

Ancaman terhadap kabel bawah laut ini dinilai memiliki dampak yang sangat besar—bukan hanya pada sektor energi, tetapi juga pada komunikasi, sistem keuangan, dan konektivitas digital lintas benua.

Jika skenario ini terjadi, dampaknya bisa jauh lebih besar dibanding gangguan terhadap pasokan minyak, karena membuka front konflik baru di ranah infrastruktur digital global.

Hingga kini, detail lengkap “Proyek Freedom Plus” masih belum terungkap sepenuhnya. Namun, para analis memperkirakan bahwa proyek ini merupakan kelanjutan dari rencana sebelumnya dengan penggunaan kekuatan militer yang lebih besar guna mengendalikan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.

Di sisi lain, Washington juga telah memberi sinyal bahwa proyek ini akan dijalankan apabila negosiasi dengan Teheran tidak berjalan sesuai harapan.

(Samirmusa/arrahmah.id)