Memuat...

Bahrain Tangkap Puluhan Tokoh Syiah di Tengah Eskalasi Perang AS-'Israel' dan Iran

Zarah Amala
Senin, 11 Mei 2026 / 24 Zulkaidah 1447 10:30
Bahrain Tangkap Puluhan Tokoh Syiah di Tengah Eskalasi Perang AS-'Israel' dan Iran
Kendaraan melintas di jalan raya di ibu kota Bahrain, Manama, pada 11 Maret 2026. [Getty]

MANAMA (Arrahmah.id) - Otoritas Bahrain melakukan penangkapan massal terhadap puluhan tokoh Syiah dalam serangkaian penggerebekan besar-besaran pada Sabtu (9/5/2026) malam. Langkah ini menandai peningkatan tindakan keras pemerintah yang dipicu oleh dampak perang Amerika Serikat-'Israel' melawan Iran.

Kementerian Dalam Negeri Bahrain menyatakan telah menahan 41 orang yang dituduh memiliki hubungan dengan Garda Revolusi Iran (IRGC). Pihak berwenang kemudian menuduh para tokoh tersebut melakukan "pendanaan operasi teroris" dengan mengumpulkan dana untuk kelompok paramiliter Iran tersebut.

Bahrain, yang menjadi markas pangkalan angkatan laut utama AS, merupakan salah satu negara Teluk yang paling terdampak oleh serangan balasan rudal dan drone Iran. Perang ini menjadi titik nyala ketegangan di Bahrain, negara dengan penguasa Sunni namun memiliki populasi mayoritas Syiah yang kerap menggelar protes sporadis sebagai bentuk simpati terhadap Iran.

Di antara mereka yang ditangkap terdapat tokoh Syiah paling terkemuka di Bahrain, termasuk Syeikh Mohammed Sanqour dan Syeikh Ali Al-Sadadi.

"Skala penangkapan seperti ini belum pernah terjadi seumur hidup kami," ujar aktivis hak asasi manusia Sayed Ahmed Alwadaei kepada The New Arab. Ia menyebut tindakan pemerintah baru-baru ini sebagai hal yang "belum pernah terjadi sebelumnya" dan bersifat sektarian.

Partai politik Syiah yang telah dilarang, Al-Wefaq, mendeskripsikan penangkapan ini sebagai bagian dari "penindasan sistematis yang terkait dengan ekspresi politik dan posisi publik terkait perang melawan Iran."

Kematian dalam Tahanan dan Pencabutan Kewarganegaraan

Laporan mengenai pelanggaran HAM berat mulai bermunculan di tengah penangkapan ini. Seorang pria berusia 32 tahun, Sayed Mohamed Almosawi, dilaporkan tewas dalam tahanan. Pemantau HAM menemukan tanda-tanda penyiksaan pada tubuhnya.

Raja Hamad bin Isa Al Khalifa mencabut kewarganegaraan puluhan warga Bahrain. Bulan lalu, 69 orang kehilangan kewarganegaraan karena dianggap bersimpati pada Iran. Tiga anggota parlemen dikeluarkan dari dewan pada Kamis (7/5) setelah menentang dekrit raja mengenai pencabutan kewarganegaraan tersebut.

Peneliti HAM Bahrain, Sayed Almuhafdha, mencatat sekitar 350 orang telah ditahan sejak dimulainya perang. Ia menggambarkan periode represi saat ini sebagai yang terburuk sejak peristiwa Arab Spring 2011.

Para tokoh dan warga yang ditangkap dalam penggerebekan Sabtu lalu terancam kehilangan kewarganegaraan mereka, dan beberapa di antaranya bahkan berisiko menghadapi hukuman mati. Sebagian besar penangkapan terkait dengan partisipasi dalam protes damai anti-perang dan unggahan kritis di media sosial. (zarahamala/arrahmah.id)