Memuat...

Hamad bin Jassim Bongkar Fakta: Ancaman Terbesar Teluk Bukan Iran atau ‘Israel’, Tapi Perpecahan Internal

Samir Musa
Senin, 11 Mei 2026 / 24 Zulkaidah 1447 08:09
Hamad bin Jassim Bongkar Fakta: Ancaman Terbesar Teluk Bukan Iran atau ‘Israel’, Tapi Perpecahan Internal
Mantan Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Hamad bin Jassim Al Thani. (Aljazeera)

DOHA (Arrahmah.id) – Mantan Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Hamad bin Jassim Al Thani, memperingatkan bahwa ancaman terbesar bagi kawasan Teluk bukan berasal dari Iran atau “Israel”, melainkan dari perpecahan internal negara-negara Teluk itu sendiri.

Dalam wawancara panjang yang penuh keterbukaan bersama jurnalis Ali Al-Dhafiri dalam program “Al-Muqabalah”Al Jazeera TV, Hamad memaparkan pandangan luas mengenai perang terhadap Iran, masa depan kawasan Teluk, serta peran Amerika Serikat dan “Israel” dalam dinamika geopolitik Timur Tengah.

Ia menegaskan bahwa kawasan saat ini tengah memasuki fase perubahan besar, yang bukan sekadar krisis sementara, tetapi transformasi strategis yang dapat membentuk wajah Timur Tengah selama puluhan tahun ke depan.

Perang yang Sudah Diperkirakan

Hamad menjelaskan bahwa perang terhadap Iran sebenarnya bukan hal yang mengejutkan baginya. Ia mengaku telah memperingatkan potensi konflik ini sejak tahun lalu, serta menyerukan negara-negara Teluk untuk mencegahnya melalui jalur diplomasi dan negosiasi.

Namun, peringatan tersebut tidak ditanggapi secara serius hingga akhirnya konflik benar-benar pecah.

Menurutnya, rencana aksi militer terhadap Iran bukanlah keputusan mendadak, melainkan bagian dari agenda jangka panjang yang didorong oleh kelompok garis keras di “Israel” di bawah kepemimpinan Benjamin Netanyahu.

Bahkan sejak era Presiden Amerika Serikat Bill Clinton, “Israel” disebut telah berupaya mendorong Washington untuk melakukan serangan militer terhadap Iran dengan dalih program nuklirnya.

Qatar Pernah Jadi Perantara

Dalam salah satu pengungkapan penting, Hamad menyatakan bahwa dirinya pernah dikirim ke Iran pada akhir 1990-an untuk menyampaikan pesan dari Amerika Serikat terkait program nuklir Iran.

Saat itu, Washington meminta agar Iran menghentikan program tersebut dalam waktu singkat, baik dengan menyerahkannya kepada Rusia maupun menempatkannya di bawah pengawasan internasional.

Qatar kemudian menjalankan peran sebagai mediator. Namun, Iran menilai Doha seolah mengadopsi posisi Amerika, meskipun menurut Hamad, Qatar hanya menyampaikan pesan sebagaimana diminta.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menghadapi tekanan internal yang kian meningkat di tengah tudingan bahwa keputusan strategis negaranya semakin bergantung pada Amerika Serikat, memicu gelombang kemarahan di dalam negeri. (Arrahmah.id)

Netanyahu Dianggap Paling Diuntungkan

Hamad menilai bahwa berbagai pemerintahan Amerika sebelumnya sebenarnya tidak siap untuk perang besar dengan Iran, termasuk pada masa Presiden Donald Trump, meskipun ada tokoh garis keras seperti John Bolton.

Namun kali ini, Netanyahu dinilai berhasil meyakinkan Washington bahwa perang akan berlangsung cepat dan mampu menjatuhkan rezim Iran dalam waktu singkat.

Menurutnya, perhitungan tersebut keliru. Justru Netanyahu menjadi pihak yang paling diuntungkan secara politik karena berhasil mendorong proyek pembentukan ulang kawasan dan menciptakan aliansi baru.

Krisis Selat Hormuz

Hamad menegaskan bahwa dampak paling berbahaya dari konflik ini adalah krisis di Selat Hormuz, yang kini berubah menjadi pusat ketegangan global.

Ia menjelaskan bahwa meskipun konflik tidak bermula dari kawasan tersebut, Selat Hormuz justru menjadi poros utama pertarungan internasional, yang mengancam stabilitas ekonomi dunia.

Ia juga memperingatkan bahwa Iran mulai memperlakukan selat tersebut seolah sebagai wilayah kedaulatannya sendiri, bukan sebagai jalur pelayaran internasional.

Teluk Jadi Korban Terbesar

Menurut Hamad, negara-negara Teluk adalah pihak yang paling dirugikan dari konflik ini, bukan Amerika Serikat.

Ekonomi Teluk sangat bergantung pada stabilitas jalur energi dan pelayaran, sementara lonjakan harga minyak justru menguntungkan perusahaan-perusahaan energi global.

Ia juga mengkritik serangan Iran terhadap fasilitas minyak, gas, serta wilayah sipil di negara-negara Teluk, yang dinilai telah memicu kerugian besar dan kemarahan publik.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa hubungan dengan Iran tidak bisa diputus sepenuhnya karena faktor geografis yang mengharuskan kedua pihak untuk tetap hidup berdampingan.

Seruan Persatuan Teluk

Hamad menekankan bahwa dialog dengan Iran harus dilakukan secara kolektif oleh negara-negara Teluk, bukan secara terpisah.

Ia menilai bahwa ketiadaan sikap bersama justru membuka ruang bagi pihak luar untuk mempengaruhi kawasan.

Dalam pernyataan tegasnya, ia mengatakan bahwa ancaman terbesar bagi Teluk bukan Iran, bukan “Israel”, bahkan bukan pangkalan militer Amerika, melainkan perpecahan internal di antara negara-negara Teluk itu sendiri.

Ia menambahkan bahwa jika negara-negara Teluk bersatu, tidak ada kekuatan global yang mampu mengabaikan kepentingan mereka.

Gagasan “NATO Teluk”

Sebagai solusi, Hamad mengusulkan pembentukan aliansi pertahanan bersama yang ia sebut sebagai “NATO Teluk”.

Aliansi ini dapat dimulai dari sejumlah negara yang memiliki kesamaan visi, lalu berkembang secara bertahap sebagaimana model Uni Eropa.

Ia menekankan pentingnya sistem hukum dan kelembagaan yang kuat dalam proyek tersebut, serta menyebut Arab Saudi sebagai pilar utama.

Iran Dinilai Semakin Kuat

Hamad menilai bahwa Iran justru keluar lebih kuat secara politik setelah konflik.

Ia menyebut gagasan menjatuhkan rezim Iran melalui kekuatan militer sebagai ilusi, dan menilai Iran akan memanfaatkan konflik ini untuk memperkuat kemampuan militernya serta terus memainkan strategi negosiasi.

Palestina dan Kritik terhadap “Israel”

Terkait Palestina, Hamad menegaskan penolakannya terhadap pembunuhan warga sipil dari pihak mana pun.

Namun, ia menilai respons “Israel” terhadap Gaza sebagai bencana moral dan politik, yang justru meningkatkan simpati global terhadap rakyat Palestina.

Di sisi lain, ia juga mengingatkan bahwa kelompok seperti Hamas perlu mempertimbangkan dampak besar konflik terhadap warga sipil.

Lebanon dan Suriah

Mengenai Lebanon, Hamad menilai Hizbullah menghadapi tekanan internal akibat perannya dalam konflik, meskipun ia tidak melihat potensi besar perang saudara dalam waktu dekat.

Sementara itu di Suriah, ia menyambut jatuhnya rezim Bashar al-Assad dan menilai kepemimpinan baru menunjukkan pendekatan yang lebih bijak dalam menghadapi tantangan.

Kesimpulan

Hamad menegaskan bahwa kawasan Timur Tengah saat ini berada di titik krusial dalam sejarahnya.

Menurutnya, masa depan kawasan akan sangat ditentukan oleh kemampuan negara-negara Teluk untuk bersatu, membangun kekuatan bersama, dan mengurangi ketergantungan pada kekuatan eksternal.

(Samirmusa/arrahmah.id)