Memuat...

Media 'Israel': Militer Bersiap Hadapi Eskalasi Besar di Tepi Barat

Zarah Amala
Senin, 14 September 2026 / 3 Rabiulakhir 1448 10:30
Media 'Israel': Militer Bersiap Hadapi Eskalasi Besar di Tepi Barat
Tentara 'Israel' berpatroli di dekat pos pemukiman "Havat Emek Dotan" yang menghadap kota Palestina Ya'bad (Getty).

RAMALLAH (Arrahmah.id) - Militer 'Israel' bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi besar di Tepi Barat yang diduduki dalam beberapa hari mendatang. Menurut laporan media 'Israel' Walla, otoritas politik 'Israel' berpotensi mendorong pendudukan kamp pengungsi tambahan dan melancarkan operasi militer besar, terutama di wilayah utara Tepi Barat.

Walla melaporkan militer 'Israel' tengah mempersiapkan apa yang disebut sebagai “penanganan menyeluruh terhadap terorisme” di Tepi Barat. Meski tingkat operasi Palestina disebut berada pada level terendah sejak 2011, militer 'Israel' mengaku melihat sejumlah perkembangan yang dapat mengubah situasi, mulai dari meningkatnya gesekan di lapangan hingga skenario yang mereka sebut “senjata berbalik”.

Menurut sumber keamanan 'Israel' yang dikutip Walla, militer saat ini memiliki keleluasaan besar untuk beroperasi di Tepi Barat, khususnya setelah menduduki sejumlah kamp pengungsi di wilayah utara dan memperkuat keberadaannya di sana. 'Israel' juga disebut membangun sejumlah posisi militer untuk memperkuat kontrolnya.

Salah satu kekhawatiran utama aparat keamanan 'Israel' adalah meningkatnya gesekan antara warga Palestina dan pemukim 'Israel'. Walla menyebut terdapat 84 permukiman baru selain sekitar 180 permukiman yang telah ada, ditambah sekitar 140 pertanian permukiman dan lebih dari 100 pos permukiman ilegal.

'Israel' juga mengkhawatirkan kondisi aparat keamanan Palestina. Menurut Walla, koordinasi keamanan antara kedua pihak masih berlangsung, tetapi aparat 'Israel' menilai terdapat perkembangan yang memerlukan kewaspadaan, termasuk kepemilikan senjata dan amunisi dalam jumlah besar oleh Otoritas Palestina.

Skenario “senjata berbalik” yang ditakuti 'Israel' merujuk pada kemungkinan terjadinya konflik perebutan suksesi Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Dalam skenario tersebut, senjata milik aparat Palestina dikhawatirkan digunakan untuk menyerang tentara dan pemukim 'Israel'.

Walla menyebut sejumlah perkembangan dapat memicu peningkatan operasi 'Israel' di Tepi Barat. Di antaranya pemilu 'Israel' pada akhir Oktober, pemilu legislatif Palestina pada November, serta periode hari-hari besar Yahudi yang biasanya diwarnai peningkatan ketegangan antara pemukim dan warga Palestina.

Menurut laporan tersebut, Menteri Pertahanan 'Israel' Israel Katz dapat mendorong militer untuk menduduki kamp pengungsi tambahan dan melancarkan operasi besar, terutama di Tepi Barat bagian utara.

Sejak 21 Januari 2025, 'Israel' telah menjalankan operasi militer besar di Tepi Barat utara, termasuk di kamp Jenin, Tulkarm, dan Nur Shams. Menurut data UNRWA yang dikutip laporan tersebut, operasi itu menewaskan puluhan warga Palestina dan memaksa sekitar 32.000 orang mengungsi.

Pada paruh pertama 2026, Komisi Perlawanan terhadap Tembok dan Permukiman Palestina mencatat 3.488 serangan pemukim 'Israel' di Tepi Barat. Serangan tersebut menewaskan 17 warga Palestina, menggusur 26 komunitas Badui dan penggembala secara keseluruhan atau sebagian, serta diikuti pembangunan 42 pos permukiman baru.

Saat ini sekitar 750.000 pemukim 'Israel' diperkirakan tinggal di 194 permukiman dan sekitar 400 pos permukiman di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur. Serangan terhadap warga Palestina dan properti mereka dilaporkan berlangsung hampir setiap hari. (zarahamala/arrahmah.id)