Seperempat abad setelah serangan 11 September 2001 yang menewaskan hampir 3.000 orang di New York dan Washington, dunia masih menghadapi potensi dari jaringan jihad internasional. Namun, tidak seperti masa ketika Osama bin Laden menjadi wajah utama al Qaeda, gerakan tersebut kini tidak lagi memiliki satu tokoh yang dikenal luas sebagai pemimpin, ideolog, sekaligus simbol perlawanan.
Osama bin Laden gugur dalam operasi pasukan khusus Amerika Serikat di Abbottabad, Pakistan, pada 2 Mei 2011. Sejumlah pemimpin senior kelompok militan al-Qaeda dan Islamic State (ISIS) kemudian mengalami nasib serupa—gugur, ditangkap, atau dipenjara. Meski demikian, kematian para pemimpin itu tidak serta-merta mengakhiri kedua organisasi tersebut. Al-Qaeda, ISIS, dan kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan mereka justru berkembang menjadi jaringan yang lebih tersebar dan sulit dilumpuhkan.
Perubahan ini membuat pertanyaan lama kembali muncul: siapa yang akan menjadi “Bin Laden berikutnya”? Para ahli menilai, kemungkinan munculnya tokoh dengan pengaruh sebesar bin Laden semakin kecil. Jaringan jihad saat ini lebih terfragmentasi, para pemimpinnya lebih tertutup, dan sebagian besar beroperasi jauh dari sorotan publik.
“Tokoh seperti bin Laden tidak akan bertahan lama dalam lingkungan saat ini,” kata Lucas Webber, peneliti asal Kanada, seperti dilansir Militant Wire (13/9/2026). Menurut dia, kemampuan militer dan badan intelijen dalam melacak individu telah berkembang sangat pesat sehingga para pemimpin kelompok bersenjata lebih mudah menjadi sasaran.
Berbeda dengan bin Laden yang pernah tampil dalam wawancara dan konferensi pers, para pemimpin kelompok jihad saat ini cenderung menghindari publikasi identitas. Bahkan, informasi mengenai lokasi mereka sering kali sulit dipastikan. Rekaman video yang mereka keluarkan pun dapat dianalisis melalui petunjuk geografis, suara, maupun latar tempat, sehingga berpotensi membantu aparat mengidentifikasi dan memburu mereka.
Kerahasiaan itu terlihat dalam sosok Abu Hafs al-Hashimi al-Qurashi, yang disebut sebagai pemimpin ISIS saat ini. Setelah beberapa pendahulunya tewas, identitas Abu Hafs menjadi begitu samar hingga badan-badan intelijen mempertanyakan siapa sebenarnya tokoh tersebut, bahkan apakah ia benar-benar ada.
Sejarawan dan pakar kawasan dari Universitas Texas di Austin, Cole Bunzel, menilai tidak adanya figur pemersatu seperti bin Laden menjadi salah satu kelemahan utama gerakan jihad Salafi. Menurutnya, sejak kematian bin Laden, gerakan tersebut tidak memiliki tokoh yang mampu menyatukan berbagai kelompok dengan latar belakang, kepentingan, dan agenda berbeda.
“Gerakan ini benar-benar belum memiliki figur seperti itu sejak Osama bin Laden,” ujar Bunzel. Ia menilai pembunuhan bin Laden menjadi titik balik penting yang membuat kepemimpinan jihad internasional semakin tersembunyi dan kehilangan daya tarik simbolisnya.
Namun, tidak semua pengamat sepakat bahwa al Qaeda sedang melemah. Niccola Milnes, penasihat bidang kontra-terorisme dan konflik, menilai organisasi tersebut masih berfungsi sebagai jaringan global. Ia menyebut Sayf al-Adl, yang diyakini berada di Iran, sebagai tokoh penting dalam arah strategis al-Qaeda, meskipun keberadaan dan ruang geraknya sulit diverifikasi secara independen.
Menurut Milnes, al-Qaeda menjalankan strategi yang dapat disebut sebagai “kesabaran strategis”. Setelah kehilangan basisnya di Afghanistan akibat invasi yang dipimpin Amerika Serikat, organisasi itu tidak lagi berfokus pada aksi spektakuler berskala global, melainkan membangun pengaruh secara perlahan melalui jaringan lokal, konflik bersenjata, dan hubungan dengan komunitas setempat.
Strategi tersebut terlihat dari perkembangan sejumlah afiliasi al-Qaeda. Di kawasan Sahel Afrika, Jama’a Nusrat ul-Islam wa al-Muslimin atau JNIM memperluas pengaruhnya di Mali dan Burkina Faso. Kelompok tersebut memanfaatkan lemahnya struktur negara, konflik lokal, serta penculikan untuk mendapatkan dana. Aktivitasnya menunjukkan bahwa ancaman al-Qaeda tidak selalu hadir melalui satu serangan besar, tetapi juga melalui penguasaan wilayah, tekanan terhadap pemerintah, dan eksploitasi ketidakstabilan politik.
Di Yaman, al-Qaeda di Semenanjung Arab atau AQAP berupaya membangun kembali kekuatannya melalui hubungan dengan kelompok-kelompok suku. Organisasi itu dipimpin Saad bin Atef al-Awlaki, sementara Ibrahim al-Qosi—mantan tahanan Guantanamo—disebut menjadi salah satu tokoh propagandanya. Di Asia Selatan, al-Qaeda di Subkontinen India tetap berusaha bertahan di bawah kepemimpinan tokoh yang dikenal dengan nama samaran Osama Mahmood.
ISIS menghadapi situasi yang berbeda. Para pemimpinnya terus menjadi sasaran operasi militer dan intelijen, antara lain karena organisasi tersebut memiliki banyak musuh dan cenderung sulit membangun aliansi jangka panjang dengan kelompok lokal. Sejumlah tokoh penting ISIS telah tewas dalam beberapa operasi terakhir, termasuk Abu Hudhayfah al-Ansari, yang dikenal sebagai propagandis dan juru bicara kelompok tersebut.
Meski demikian, kemunduran kepemimpinan tidak otomatis menghilangkan kemampuan ISIS untuk bertahan. Sanaullah Ghafari, yang juga dikenal sebagai Shahab al-Muhajir dan memimpin ISIS Provinsi Khorasan, masih dipandang sebagai tokoh berbahaya. Cabang ISIS di kawasan tersebut dituduh terlibat dalam sejumlah serangan besar. Di Afrika, Abdulkadir Mumin juga disebut sebagai salah satu figur penting dalam jaringan ISIS yang terus berkembang.
Perbedaan antara al-Qaeda dan ISIS menunjukkan bahwa potensi jihad internasional kini tidak dapat diukur hanya berdasarkan popularitas atau ketenaran pemimpinnya. Organisasi yang kehilangan pemimpin dapat tetap bertahan melalui jaringan lokal, propaganda digital, sumber pendanaan alternatif, dan konflik yang tidak kunjung selesai.
“Sejarah mengajarkan kita untuk rendah hati,” kata Milnes. “ISIS telah menunjukkan bahwa sebuah organisasi dapat memiliki banyak personel yang cakap dan mampu mengatasi kehilangan para pemimpin tingkat tinggi.”
Karena itu, pertanyaan mengenai siapa “Bin Laden berikutnya” mungkin tidak lagi tepat untuk menggambarkan potensi jihad masa kini. Dunia tidak sedang menunggu satu tokoh baru yang menggantikan Osama bin Laden, melainkan menghadapi jaringan yang lebih tersebar, lebih sulit dipetakan, dan tidak bergantung pada satu figur. Justru dalam bentuknya yang terfragmentasi itulah, al-Qaeda, ISIS, dan kelompok-kelompok afiliasinya tetap akan eksis. (hanoum/arrahmah.id)
