Memuat...

Meningitis Merebak di Gaza, Empat Anak Meninggal dalam Sebulan

Zarah Amala
Senin, 26 Oktober 2026 / 16 Jumadilawal 1448 11:01
Meningitis Merebak di Gaza, Empat Anak Meninggal dalam Sebulan
Kasus meningitis di Jalur Gaza meningkat tajam. Sebelum perang, hanya tercatat satu hingga dua kasus per tahun, tetapi kini jumlahnya mencapai enam kasus dalam sebulan. (Al Jazeera)

GAZA (Arrahmah.id) - Empat anak Palestina meninggal akibat meningitis atau radang selaput otak dalam kurun waktu satu bulan di Jalur Gaza. Dokter memperingatkan peningkatan kasus penyakit tersebut di kalangan anak-anak, di tengah kelangkaan obat-obatan, keterbatasan perlengkapan pencegahan, serta sulitnya menangani pasien dalam kondisi kritis.

Salah satu pasien yang kini dirawat adalah Nasim Saqr, bocah berusia tujuh tahun. Ia menjalani perawatan di ruang isolasi Kompleks Medis Nasser di Khan Yunis, Gaza selatan, setelah didiagnosis mengalami meningitis bakteri.

Nenek Nasim mengatakan kepada Al Jazeera bahwa keluarganya awalnya melihat suhu tubuh sang cucu berulang kali meningkat. Pemeriksaan medis kemudian memastikan bahwa Nasim terinfeksi bakteri meningitis. Menurut informasi yang diterima keluarga, indikator bakteri dalam hasil pemeriksaannya mencapai 30 ribu, angka tertinggi di antara pasien yang sedang dirawat di kompleks medis tersebut.

Kepala Departemen Anak Kompleks Medis Nasser, Dr. Ahmed al-Farra, mengatakan kasus Nasim bukan satu-satunya. Ia menyebut terjadi peningkatan signifikan jumlah anak yang terinfeksi bakteri meningitis, sebagian di antaranya disertai infeksi aliran darah atau sepsis.

Dalam keterangannya kepada Al Jazeera, Al-Farra menjelaskan bahwa sebelum perang 'Israel' di Jalur Gaza, rumah sakit tersebut biasanya hanya menangani satu hingga dua kasus meningitis setiap tahun. Namun, dalam satu bulan terakhir, jumlahnya meningkat menjadi enam kasus, dengan empat pasien anak meninggal dunia.

Menurutnya, peningkatan kasus berkaitan dengan memburuknya kondisi kesehatan dan kehidupan masyarakat Gaza. Faktor-faktor yang berkontribusi antara lain kepadatan ekstrem di tempat-tempat pengungsian, kekurangan gizi, melemahnya sistem kekebalan tubuh, buruknya kebersihan diri, pencemaran air, serta tekanan psikologis yang dialami anak-anak selama perang dan pengungsian.

Keterbatasan obat-obatan dan perlengkapan pencegahan juga menyulitkan tenaga medis menangani pasien dalam kondisi kritis. Padahal, penyakit ini membutuhkan diagnosis dini, penanganan cepat, dan isolasi untuk mengurangi risiko penularan.

Al-Farra memperingatkan bahwa peningkatan kasus meningitis bakteri menjadi perkembangan yang mengkhawatirkan bagi bagian anak di rumah sakit-rumah sakit Gaza. Kekhawatiran ini semakin besar karena sebagian bakteri penyebab penyakit tersebut dapat menular antarmanusia, sementara kondisi yang mendukung penyebaran infeksi masih berlangsung.

Menurut data Kementerian Kesehatan Palestina yang dirilis bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober, tingkat kekurangan gizi dan kelaparan di Jalur Gaza telah mencapai taraf yang disebut “katastrofik”, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya.

Kementerian tersebut memperkirakan lebih dari 1,4 juta warga Palestina atau sekitar 67 persen penduduk Gaza akan menghadapi krisis pangan akut atau kondisi yang lebih buruk hingga akhir 2026.

Data yang sama mencatat 157 anak meninggal akibat kekurangan gizi. Selain itu, sebanyak 158 ribu kasus kekurangan gizi akut pada anak berusia di bawah lima tahun tercatat sejak 2024 hingga Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, 28.716 kasus tergolong parah dan mengancam jiwa.

Kondisi ini menambah kekhawatiran tenaga medis terhadap kesehatan anak-anak Gaza, yang harus menghadapi peningkatan risiko infeksi di tengah krisis pangan, buruknya sanitasi, dan keterbatasan layanan kesehatan. (zarahamala/arrahmah.id)