TEPI BARAT (Arrahmah.id) -- Musim panen zaitun di Palestina bukan sekadar kegiatan pertanian, melainkan sumber penghidupan, warisan keluarga, dan simbol keterikatan masyarakat dengan tanah leluhur. Namun, setiap musim panen di Tepi Barat yang diduduki 'Israel', para petani Palestina menghadapi ancaman kekerasan, pembatasan akses ke kebun, pencurian hasil panen, hingga perusakan pohon zaitun oleh pemukim Israel.
Menurut laporan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), seperti dilansir Al Jazeera (25/10/2026), sekitar 80.000–100.000 keluarga Palestina menggantungkan penghidupan mereka pada sektor zaitun.
Panen tahun ini diperkirakan dapat menghasilkan sekitar 21.000 ton minyak zaitun, naik dari sekitar 7.000 ton pada 2025, apabila petani dapat menjangkau kebun dan memanen hasilnya. Angka tersebut menunjukkan betapa pentingnya akses ke lahan bagi pemulihan ekonomi keluarga Palestina.
Pohon zaitun juga memiliki arti sosial dan budaya yang mendalam. Banyak pohon diwariskan lintas generasi dan menjadi bagian dari kehidupan keluarga selama puluhan hingga ratusan tahun. Musim panen biasanya melibatkan anggota keluarga dan masyarakat sekitar, mulai dari memetik buah hingga mengolahnya menjadi minyak. Karena itu, kehilangan pohon atau terhalang memanen bukan hanya berarti kehilangan pendapatan pada satu musim, tetapi juga merusak warisan keluarga dan hubungan masyarakat dengan tanah yang mereka kelola.
Kepala Kantor Hak Asasi Manusia PBB di wilayah Palestina yang diduduki, Ajith Sunghay, mengatakan bahwa pohon zaitun merupakan simbol keberadaan masyarakat Palestina dan hubungan mereka dengan tanah. Dalam pernyataan PBB pada 22 Oktober, ia memperingatkan bahwa kekerasan dan pembatasan akses lahan semakin mengancam penghidupan serta hak masyarakat untuk tetap tinggal di komunitas mereka.
Ancaman terhadap panen tahun ini terlihat dari data OCHA. Antara 1 September hingga 12 Oktober 2026, lembaga tersebut mencatat 199 serangan pemukim 'Israel' yang berkaitan dengan musim panen zaitun. Insiden-insiden itu menyebabkan satu warga Palestina tewas, 124 orang terluka, serta lebih dari 2.500 pohon dan bibit zaitun rusak. Sebagian besar serangan terjadi di wilayah Ramallah dan Nablus, dua kawasan penting bagi kegiatan pertanian Palestina.
Dalam laporan terpisah pada 22 Oktober, PBB menyebut setidaknya 160 serangan terkait panen terjadi selama dua pekan pertama Oktober. Serangan dilaporkan meliputi pemukulan terhadap petani, pembakaran kendaraan dan pohon, perusakan properti, serta pencurian buah zaitun dan peralatan pertanian.
Pada 16 Oktober, seorang fotografer The Washington Post yang meliput panen di dekat Ramallah juga dilaporkan diserang oleh pemukim 'Israel'. Angka 160 dan 199 tersebut berasal dari periode pelaporan yang berbeda, sehingga tidak dapat dibandingkan sebagai jumlah kumulatif untuk rentang waktu yang sama.
Laporan Associated Press pada Oktober 2026 turut menyoroti meningkatnya kekerasan selama musim panen. Kelompok hak asasi manusia 'Israel', Yesh Din, mendokumentasikan lebih dari 325 insiden sejak akhir September, termasuk perusakan pohon, pencurian hasil panen, dan kekerasan terhadap petani.
Angka tersebut menggunakan cakupan dan metode pendataan yang berbeda dari OCHA. Para petani mengatakan bahwa serangan dan ancaman membuat mereka kesulitan memanen kebun sendiri, bahkan ketika telah berkoordinasi dengan otoritas 'Israel' untuk mengakses lahan.
Selain kekerasan langsung, pembatasan akses juga menjadi persoalan utama. Sebagian petani Palestina harus memperoleh izin atau koordinasi terlebih dahulu untuk memasuki lahan pertanian di dekat permukiman 'Israel' maupun di wilayah yang dibatasi oleh tembok pemisah.
OCHA melaporkan bahwa banyak gerbang pertanian hanya dibuka pada waktu-waktu tertentu. Akibatnya, petani dapat kehilangan kesempatan memanen tepat waktu atau tidak dapat merawat pohon sepanjang tahun. Dalam sejumlah insiden, pemukim dilaporkan memanen buah dari lahan milik warga Palestina, sementara pemiliknya tidak diizinkan mendekati kebun mereka.
Dampaknya melampaui kerugian satu musim. Pohon zaitun yang rusak atau ditebang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kembali produktif, sedangkan kerusakan sistem irigasi, alat pertanian, dan akses jalan dapat mengurangi hasil panen berikutnya.
PBB memperkirakan sekitar 286.000 pohon zaitun di Tepi Barat mengalami kerusakan antara 2023 hingga akhir September 2026, termasuk sekitar 100.000 pohon pada 2026 sebelum musim panen resmi dimulai.
Di Jalur Gaza, Kementerian Pertanian Palestina memperkirakan 90 persen dari sekitar dua juta pohon zaitun telah hancur sejak Oktober 2023. (hanoum/arrahmah.id)
