Memuat...

Dua Tentara 'Israel' Tewas, 2.600 Warga Hebron Diusir dari Rumah

Hanoum
Senin, 26 Oktober 2026 / 16 Jumadilawal 1448 04:48
Dua Tentara 'Israel' Tewas, 2.600 Warga Hebron Diusir dari Rumah
Keluarga-keluarga di Hebron memanfaatkan pencabutan sementara jam malam pada 21 Januari 2026 untuk pergi ke bagian lain kota atau kota-kota Palestina lainnya, karena takut akan berlanjutnya operasi militer yang melibatkan ratusan tentara Israel. [Foto: Faiz Abu Rmeleh/Getty Images]

HEBRON (Arrahmah.id) -- Ribuan warga Palestina dilaporkan terusir dari rumah mereka di Hebron, Tepi Barat yang diduduki 'Israel', setelah militer 'Israel' melancarkan operasi besar-besaran menyusul tewasnya dua tentara 'Israel' dalam serangan bersenjata pada Jumat (23/10/2026).

Hingga Ahad (25/10), pemerintah kota Hebron menyebut lebih dari 2.600 orang telah mengungsi akibat pengosongan permukiman, penghancuran bangunan, dan pembatasan pergerakan warga.

Dilansir The Times of Israel (25/10), operasi militer dimulai setelah dua pria bersenjata Palestina menyerang pos pemeriksaan militer di dekat Hebron. Serangan tersebut menewaskan dua tentara 'Israel' dan melukai tiga lainnya. Kedua penyerang juga tewas dalam baku tembak dengan pasukan 'Israel'.

Militer 'Israel' menyatakan operasi berikutnya difokuskan pada wilayah asal para penyerang untuk mencari senjata dan orang-orang yang diduga terlibat dalam aktivitas bersenjata. Namun, dampak operasi meluas ke penduduk sipil.

Pada Sabtu, sekitar 1.200 hingga 1.500 warga Palestina dilaporkan telah meninggalkan rumah mereka di kawasan Al-Jaladah dan Ein Deir Baha, menurut laporan Reuters dan Arab News yang mengutip pejabat setempat.

Sehari kemudian, pemerintah kota Hebron menyebut jumlah warga yang mengungsi telah melampaui 2.600 orang. Perbedaan angka tersebut mencerminkan perkembangan jumlah pengungsi seiring berlanjutnya operasi.

Wali Kota Hebron, Yousef al-Jaabari, mengatakan pasukan 'Israel' memerintahkan keluarga-keluarga meninggalkan rumah mereka dan menutup akses ke sejumlah kawasan. Sejumlah warga terpaksa pergi tanpa kendaraan dan hanya membawa barang-barang penting.

Pemerintah kota juga melaporkan bahwa rumah, toko, pabrik, dan jalan mengalami kerusakan, sementara beberapa bangunan diambil alih untuk dijadikan pos militer atau tempat pemeriksaan.

“Perempuan, anak-anak, dan orang lanjut usia ditinggalkan di jalanan Hebron tanpa tempat untuk pergi setelah dipaksa meninggalkan rumah mereka,” kata al-Jaabari kepada Arab News.

Ia menilai operasi tersebut sebagai hukuman kolektif terhadap masyarakat yang tidak terbukti terlibat dalam serangan terhadap tentara 'Israel'.

Pemerintah kota menyatakan telah menyiapkan tempat penampungan sementara, tetapi penutupan akses menyulitkan distribusi bantuan dan layanan bagi warga yang masih terjebak di kawasan terdampak.

Laporan Reuters menyebut otoritas Palestina memperkirakan sekitar 1.300 warga lainnya berisiko kehilangan tempat tinggal. Organisasi Palestinian Prisoners’ Society juga melaporkan sekitar 70 warga Palestina ditangkap dalam operasi di Tepi Barat pada Jumat dan Sabtu.

Sejumlah warga melihat rumah yang telah dikosongkan ditandai dengan tanda silang hitam oleh tentara 'Israel', meskipun tujuan penandaan tersebut belum diketahui secara pasti.

Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu memerintahkan operasi berskala besar dan menyatakan pasukannya akan melakukan penggeledahan dari rumah ke rumah. Ia juga mengancam akan menghancurkan kawasan tempat para penyerang berasal.

Dalam wawancara dengan media 'Israel', Netanyahu menjanjikan akan ada “kejutan besar” bagi Otoritas Palestina (PA), tanpa menjelaskan secara terperinci langkah yang dimaksud.

Dalam laporan Al Jazeera, operasi tersebut mencakup penggerebekan, penangkapan, rencana penghancuran bangunan, serta pengosongan kawasan permukiman.

Kelompok hak asasi manusia 'Israel', B’Tselem, memperingatkan bahwa tindakan terhadap penduduk sipil dapat tergolong hukuman kolektif dan berpotensi melanggar hukum perang. Sementara itu, militer 'Israel' menyebut operasi tersebut sebagai langkah kontraterorisme yang ditargetkan dan mengatakan kegiatan pencarian akan berlangsung selama beberapa hari. (hanoum/arrahmah.id)