BARCELONA (Arrahmah.id) -- Kerusuhan melanda pusat Kota Barcelona, Spanyol, pada Sabtu malam (24/10/2026), ketika demonstrasi yang terinspirasi gerakan pelajar di Prancis berakhir dengan bentrokan, penjarahan toko, dan pembakaran fasilitas umum. Polisi menangkap sedikitnya 100 orang, dengan angka yang kemudian diperbarui menjadi 128 orang pada Ahad.
Menurut laporan Euronews (25/10), demonstrasi berpusat di sekitar Plaça de Catalunya dan mulai memanas sekitar pukul 18.00 waktu setempat. Aksi tersebut digerakkan melalui media sosial dengan slogan “Instituts Indignats”, yang terinspirasi oleh gerakan pelajar Prancis “Lycéens Indignés”.
Situasi memburuk ketika sejumlah peserta, banyak di antaranya mengenakan pakaian hitam dan menutupi wajah, mulai merusak fasilitas jalan. Bentrokan pecah setelah polisi antihuru-hara bergerak membubarkan kerumunan.
Sejumlah demonstran melemparkan batu dan benda keras ke arah petugas, mendirikan barikade, membakar tempat sampah, serta memecahkan kaca toko. Kelompok-kelompok tersebut kemudian menyebar ke jalan-jalan di sekitar alun-alun, sehingga bentrokan berlanjut di beberapa titik.
Menurut laporan Reuters, sedikitnya 14 toko dirusak atau dijarah dan lebih dari 30 kebakaran dilaporkan terjadi. Sejumlah sepeda motor, sepeda, halte bus, serta fasilitas umum lainnya juga mengalami kerusakan. Beberapa toko terpaksa menurunkan pintu pengaman untuk melindungi pegawai dan pengunjung dari kerumunan yang bergerak di jalan.
Kepolisian Catalonia kemudian memperbarui jumlah orang yang ditangkap menjadi 128 orang, termasuk 73 anak di bawah umur. Sekitar 15 petugas polisi dilaporkan mengalami cedera selama bentrokan.
Angka penangkapan awal yang diberitakan Reuters adalah 100 orang, sebelum laporan berikutnya menyebut jumlah yang lebih tinggi. Pihak berwenang menyatakan kasus-kasus yang melibatkan anak di bawah umur akan diteruskan kepada kejaksaan anak.
Wali Kota Barcelona, Jaume Collboni, mengecam perusakan dan penjarahan tersebut serta menyatakan pemerintah kota akan ikut menempuh jalur hukum untuk meminta pertanggungjawaban pelaku. Ia memperingatkan bahwa tindakan tersebut tidak akan dibiarkan tanpa konsekuensi, termasuk kemungkinan tanggung jawab hukum bagi orang tua atau wali dari anak di bawah umur yang terlibat.
Presiden Pemerintah Catalonia, Salvador Illa, juga menegaskan bahwa demonstrasi merupakan hak demokratis, tetapi kekerasan tidak dapat dibenarkan sebagai bagian dari hak tersebut. Menteri Dalam Negeri Catalonia, Núria Parlon, menyebut insiden itu sebagai tindakan kekerasan dan vandalisme yang tidak beralasan. (hanoum/arrahmah.id)
