Memuat...

Obama Sindir Trump soal Perang Iran: “Di Mana Kemenangan Setelah 6 Bulan?”

Samir Musa
Ahad, 25 Oktober 2026 / 15 Jumadilawal 1448 16:47
Obama Sindir Trump soal Perang Iran: “Di Mana Kemenangan Setelah 6 Bulan?”
Presiden Amerika Serikat sebelumnya, Barack Obama, berbicara dalam sebuah kampanye pemilihan untuk mendukung calon-calon Partai Demokrat di kota Cleveland, negara bagian Ohio (Getty).

CLEVELAND (Arrahmah.id) — Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama melontarkan kritik tajam terhadap Presiden Donald Trump terkait perang melawan Iran. Obama mengkritik penggunaan kekuatan militer dan menilai kesepakatan nuklir yang dicapai pemerintahannya dengan Teheran pada 2015 dapat mencegah Iran memiliki senjata nuklir melalui jalur diplomasi tanpa harus meluncurkan satu rudal pun.

Pernyataan tersebut disampaikan Obama dalam kampanye politik di Cleveland, negara bagian Ohio, pada Sabtu (24/10/2026). Ia hadir untuk mendukung Amy Acton, kandidat Partai Demokrat dalam pemilihan gubernur Ohio, serta Sherrod Brown yang berupaya kembali menduduki kursi Senat Amerika Serikat.

Dalam kesempatan itu, Obama menyinggung sejumlah janji Trump sebelum pemilihan presiden 2024, termasuk menurunkan harga kebutuhan dan menghindari keterlibatan Amerika Serikat dalam perang baru.

Obama mengakui bahwa seorang presiden tidak memiliki kendali penuh atas seluruh kondisi perekonomian. Namun, ia kemudian mengalihkan pembicaraan pada perang melawan Iran.

“Baiklah, mengenai hal ini, saya tahu satu atau dua hal,” ujar Obama, sebagaimana dikutip dari laporan yang beredar di media sosial.

Diplomasi sebagai Alternatif Perang

Obama mengingatkan kembali kesepakatan nuklir Iran yang dicapai pemerintahannya pada 2015, yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Menurutnya, kesepakatan tersebut merupakan alternatif konfrontasi militer sekaligus instrumen untuk membatasi program nuklir Iran.

Ia mengatakan bahwa alasan utama perang saat ini adalah memaksa Iran meninggalkan program nuklirnya. Namun, Obama menegaskan bahwa selama masa pemerintahannya, Iran tidak memiliki senjata nuklir.

“Saya tidak perlu meluncurkan satu rudal pun untuk mencapai hal itu. Saya hanya menggunakan diplomasi,” katanya.

Obama juga mengkritik keputusan Trump menarik Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir tersebut. Menurutnya, keputusan itu turut membuka jalan menuju konfrontasi militer yang terjadi sekarang.

Ia sekaligus mempertanyakan klaim kemenangan yang disampaikan pemerintah Amerika Serikat. Obama menyoroti hasil perang setelah berbulan-bulan berlangsung dan mempertanyakan apakah tujuan yang dijanjikan Washington benar-benar telah tercapai.

Kerugian Militer dan Dampak Ekonomi

Obama turut menyoroti berbagai konsekuensi militer dan ekonomi akibat perang tersebut. Ia mengatakan sekutu Amerika Serikat dan pangkalan-pangkalan militernya telah menjadi sasaran serangan, sementara sejumlah personel militer Amerika tewas dan ratusan lainnya terluka.

Menurut Obama, perang itu juga menguras persediaan rudal Amerika Serikat.

Ia kemudian menyinggung kemampuan Iran memengaruhi lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui pasokan minyak dalam jumlah besar menuju pasar dunia.

Gangguan pelayaran di kawasan tersebut, menurut Obama, berkaitan dengan kenaikan harga minyak dan solar yang kemudian berdampak pada harga barang dan jasa.

Ia menilai masyarakat Amerika Serikat pada akhirnya harus menanggung beban ekonomi akibat perang, mulai dari kenaikan biaya energi hingga meningkatnya harga kebutuhan sehari-hari.

Obama Sindir Menteri Perang AS

Kritik Obama tidak hanya diarahkan kepada Trump, tetapi juga kepada Menteri Perang Amerika Serikat Pete Hegseth.

Obama menyindir perhatian Hegseth terhadap penampilan fisik para prajurit, termasuk bentuk rahang dan kadar hormon testosteron. Menurutnya, perhatian semacam itu justru mengesampingkan persoalan militer yang lebih mendesak.

Dengan nada mengejek, Obama mempertanyakan berapa lama sang menteri menghabiskan waktu di depan cermin setiap pagi, menyinggung perhatiannya terhadap penampilan dan gaya rambut.

Obama menilai para pejabat yang mengelola perang tersebut tidak menunjukkan keseriusan yang semestinya. Ia menegaskan bahwa rakyat Amerika Serikat pada akhirnya harus menanggung konsekuensi dari kebijakan tersebut.

Pernyataan Obama Ramai Diperbincangkan

Pernyataan Obama mendapat perhatian luas di media sosial. Sejumlah pengguna membagikan potongan pidatonya, terutama bagian yang mengkritik Trump atas perang melawan Iran dan mempertanyakan hasil yang telah dicapai setelah berbulan-bulan konflik berlangsung.

Kalimat “Di mana kemenangan setelah 6 bulan?” menjadi salah satu bagian yang paling banyak disorot. Sejumlah pengguna menilai pertanyaan tersebut mencerminkan keraguan terhadap tujuan perang dan hasil yang diperoleh Washington, terutama ketika dampak militer dan ekonomi masih terus dirasakan.

Sindiran Obama terhadap Hegseth juga menarik perhatian. Kritik mengenai fokus sang menteri pada penampilan fisik prajurit dinilai menyoroti persoalan prioritas di tengah tantangan yang dihadapi militer Amerika Serikat.

Potongan pidato tersebut turut memicu perbincangan mengenai perhatian berlebihan terhadap penampilan dibandingkan persoalan strategis yang lebih mendesak.

Di sisi lain, pernyataan Obama kembali memunculkan perbandingan antara pendekatan diplomasi yang ditempuh pemerintahannya melalui kesepakatan nuklir 2015 dan pendekatan militer yang dijalankan pemerintahan Trump.

Perdebatan tersebut berpusat pada efektivitas diplomasi dalam membatasi program nuklir Iran serta kemampuan perang untuk mencapai tujuan yang dicanangkan tanpa menimbulkan kerugian lebih besar.

Pernyataan Obama juga kembali menyoroti besarnya biaya perang bagi Amerika Serikat, termasuk dampaknya terhadap keamanan sekutu, stabilitas pasokan energi, dan pasar global.

Sementara itu, Amerika Serikat dan “Israel” dilaporkan memulai serangan udara terhadap Iran pada 28 Februari 2026 dalam operasi yang oleh Washington diberi nama “Epic Fury” atau “Kemarahan Epik”. Konflik tersebut menjadi latar belakang kritik Obama terhadap strategi militer pemerintahan Trump.

(Samirmusa/arrahmah.id)