GAZA (Arrahmah.id) -- Kelompok bersenjata anti-Hamas di Gaza mengungkapkan tujuan dan pandangan strategisnya dalam wawancara eksklusif yang menunjukkan komitmen mereka untuk menghancurkan kelompok perlawanan Palestina Hamas/ Dalam kesempatan yang sama. mereka juga membela diri atas kerja sama dengan 'Israel' sebagai bagian dari upaya yang mereka gambarkan sebagai menghapus penindasan dari rakyat Gaza.
Dilansir Aymennaltamimi.com (23/2/2026), pernyataan itu muncul dalam wawancara dengan anggota Free Homeland Forces (Quwat al-Watan al-Hurr), sebuah faksi anti-Hamas yang aktif di wilayah yang sekarang berada di bawah kendali Israel.
Dalam wawancara tersebut, anggota kelompok yang diwawancarai menjelaskan bahwa Free Homeland Forces didirikan pada 1 September 2025 di pusat Dair al-Balah dengan tujuan jelas melawan apa yang mereka sebut terorisme Hamas dan penindasan terhadap rakyat Gaza. Mereka menyatakan bahwa tujuan utama mereka adalah menghancurkan Hamas karena menolak pemerintahan orang-orang berseragam yang menguasai wilayah tersebut, mengatakan mereka berusaha membebaskan rakyat dari dominasi gerakan itu.
Kelompok itu juga mengakui bekerja dengan 'Israel' demi perdamaian dan hilangnya penindasan, dengan mengatakan bahwa mereka menerima dukungan logistik, makanan, dan persenjataan dari pasukan Israel untuk melawan Hamas. “Tidak ada genosida; ini tentang menghapus sarang terorisme,” kata perwakilan kelompok itu. Mereka bahkan menegaskan bahwa 'Israel' adalah negara yang paling berkepentingan dalam perdamaian.
Pandangan ini mencerminkan dinamika yang lebih luas dari faksi anti-Hamas yang muncul di Gaza, beberapa di antaranya beroperasi dari zona yang dikuasai 'Israel' setelah gencatan senjata pada akhir 2025. Menurut laporan Reuters pada Desember 2025, kelompok-kelompok kecil anti-Hamas itu bertekad melanjutkan perjuangan mereka meskipun pemimpin paling menonjol mereka tewas, dan berharap untuk memainkan peran yang lebih permanen di masa depan Gaza.
Kelompok Free Homeland Forces adalah bagian dari jaringan faksi anti-Hamas yang lebih luas yang juga mencakup entitas seperti Popular Forces, meskipun setiap kelompok memiliki struktur komando dan basis wilayahnya sendiri. Beberapa analis mencatat bahwa kehadiran milisi militan anti-Hamas ini — beberapa dipandang sebagai sekutu tak resmi Israel — telah menjadi faktor kompleks dalam upaya stabilisasi pasca-perang di Gaza. (hanoum/arrahmah.id)
