Tak kunjung usai masalah kriminalitas yang ada di negeri ini justru yang terjadi malah makin miris dan makin memprihatinkan seperti nasib tragis yang dialami oleh salah satu warga. Kasus pengeroyokan maut yang menewaskan Lani (64), warga Kampung Ciranjang, Desa Cikarang Geusan, Kecamatan Jampangkulon. Peristiwa tragis ini terjadi di area persawahan setempat. Kapolres Sukabumi, AKBP Samian, menegaskan pihaknya telah mengamankan tujuh orang terduga pelaku guna mencegah gejolak sosial di masyarakat. (Liputan6.com 15/2/2026)
Kasat Reskrim Polres Sukabumi, AKP Hartono, menjelaskan bahwa insiden bermula dari perselisihan antara korban dan seorang warga bernama Sani. Berdasarkan penyelidikan awal, Lani diduga sempat melakukan penganiayaan terhadap Sani menggunakan cangkul.
Sungguh sangat memilukan melihat peristiwa tersebut. Bagaimana tidak, seharusnya sebagai warga masyarakat haruslah berada dalam penuh keceriaan, kebahagiaan tanpa ada saling curiga apalagi seling keroyok hingga terbunuh.
Penganiayaan yang dialami korban hingga meninggal dunia tentu menjadi pertanyaan besar, bagaimana warga bisa sekejam itu untuk melakukan pengeroyokan berjamaah hingga meninggal. Tentu kejadian ini jelas menggambarkan bahwa penganiayaan yang dilakukan para pelaku sangat keras dan fatal. Dan mirisnya kejadian tersebut terjadi di sekitar lingkungan masyarakat. Yang seharusnya masyarakat saling menasehati dan membantu untuk meleraikan namun yang terjadi malah pengeroyokan massal.
Tentu kasus penganiayaan yang terjadi banyak faktor pemicunya. Perspektif yang luas menjadi beberapa faktor penyebab timbulnya kekerasan tersebut diantaranya adalah fenomena dinormalisasikan masyarakat melihat perbuatan keji bukan sesuatu yang buruk tapi mereka memandang menjadi perbuatan yang normal untuk dilakukan, masyarakat sudah mulai menganggap bahwa nyawa seakan tidak bernilai. Selain itu, kurangnya kesadaran masyarakat dalam memberikan edukasi tentang penanaman moral dan sikap empati dan kesabaran dalam menangani masalah yang dihadapi sesama warga.
Ditambah lagi dari faktor kehidupan hari ini yang mengadopsi sistem kapitalisme sekularisme, di mana sistem ini menganut pemisahan agama dari kehidupan. Maka akar dari pengeroyokan yang terjadi adalah bercokolnya paham sekularisme kapitalisme yang membuat masyarakat makin jauh terhadap agamanya, sehingga ketika menghadapi masalah jalan terakhir yang akan dilakukan adalah melenyapkan nyawa saudaranya sendiri. Selain itu, akibat buruk dari penerapan sistem kapitalisme sekularisme tentu ini tidak berdasar kepada Aqidah Islam dan sangat jauh. Akibatnya generasi dan warga sangat minim bahkan tidak memiliki pondasi iman yang kuat. Padahal keimanan adalah benteng dan bagian terpenting dalam kehidupan agar hidup tidak berada di arus yang salah dan dapat memiliki cara pandang yang baik dalam mengelola kehidupan.
Tentu kekerasan adalah tindakan yang salah dan batil. Maka karena itu untuk mencegah terjadinya tindakan pengeroyokan ataupun kekerasan tidak bisa diselesaikan ketika masyarakat masih nyaman dengan sistem sekularisme kapitalisme. Namun masyarakat harus lebih sadar bahwa tempat kembali agar kehidupan makin tertata dengan aturan yang benar, maka semua itu harus dikembalikan kepada sistem Islam.
Kita butuh solusi yang efektif agar kasus yang serupa tidak terjadi berulang. Dalam sistem sekuler memisahkan agama dari kehidupan saat ini hanya melahirkan orang-orang yang minim iman hingga rusaknya tatanan kehidupan. Alhasil kasus pengeroyokan hingga mengancam nyawa masih terus terjadi. Maka dengan demikian, sistem sekularisme terbukti gagal untuk melindungi orang-orang dan keselamatan. Maka dari itu kembalikanlah semua itu hanya kembali kepada Islam.
Hanya sistem Islam yang mampu menjaga dan melindungi hak-hak masyarakat. Dengan cara mekanisme penerapan aturan Islam secara Kaffah dalam kehidupan dan juga bernegara.
Negara dalam sistem Islam akan berperan penting dalam menjaga setiap masyarakatnya dari kerusakan dan kemaksiatan. Mulai dari perbuatan dan perkataan serta adab-adab dan norma-norma yang tidak mendukung maka akan diperbaiki dengan cara-cara yang sesuai dengan tuntunan dan mendidik agar masyarakat lebih berkepribadian Islami. Selain itu, kurikulum pendidikan juga akan diterapkan berlandaskan kepada akidah Islam sehingga akan melahirkan generasi yang memiliki kepribadian Islam dan berpikir cemerlang sehingga tidak ada drama pengroyokan hingga berujung maut.
Selain itu negara juga akan menunjukkan bahwasanya dalam proses memberikan pengajaran Islami adalah senantiasa mengajarkan saling menjaga adab ataupun akhlak dari masing-masing setiap warga masyarakat. Suasana saling menjaga adab ini tentu muncul karena hadirnya Negara Islam sebagai institusi tertinggi dengan seperangkat aturan yang bisa dimiliki akan bisa mengatur dan memastikan kehidupan akan berjalan sesuai dengan syariat Islam. Selain itu dalam Islam ada perintah untuk senantiasa menegakkan Amar ma'ruf di mungkar. Sebagaimana firman Allah:
"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.(Q.S Ali Imran: 104)"
Dari ayat tersebut menjadi reminder bagi kita sesama masyarakat harus senantiasa menegakkan kebaikan dan kebenaran di tengah kehidupan sehingga ketika dihadapkan dengan masalah mampu untuk mencari solusi yang benar bukan malah saling beradu maut. Wallahu a’lam bis shawwab
