Memuat...

Purbaya Santai Rupiah Tembus Rp17.600 dan IHSG Anjlok: Hanya Sementara

Ameera
Senin, 18 Mei 2026 / 2 Zulhijah 1447 14:51
Purbaya Santai Rupiah Tembus Rp17.600 dan IHSG Anjlok: Hanya Sementara
Purbaya Santai Rupiah Tembus Rp17.600 dan IHSG Anjlok: Hanya Sementara

JAKARTA (Arrahmah.id) — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi santai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (18/5/2026).

Purbaya menegaskan kondisi tersebut bukan persoalan besar dan pemerintah akan segera mengambil langkah untuk menstabilkan pasar keuangan. Ia optimistis fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi tekanan jangka pendek.

“Enggak apa-apa, nanti kami perbaiki, kan. Jadi fondasi ekonominya sudah bagus. Itu masalah sentimen jangka pendek,” ujar Purbaya di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (18/5/2026).

Ia menambahkan pemerintah akan fokus menjaga fondasi ekonomi agar pertumbuhan nasional tidak terganggu oleh gejolak pasar.

“Jadi saya akan fokus untuk menjaga fondasi ekonomi dengan memastikan pertumbuhan ekonomi tidak terganggu,” sambungnya.

Sebagai informasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami tekanan. Pada perdagangan Senin pagi, rupiah berada di kisaran Rp17.600 per dolar AS. Berdasarkan data Google Finance, rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp17.672 per dolar AS.

Di sisi lain, IHSG juga dibuka melemah tajam di level 6.438 atau turun 284,57 poin setara 4,23 persen.

Untuk meredam gejolak pasar, Purbaya mengatakan pemerintah akan mulai melakukan intervensi lebih besar di pasar obligasi atau bond market.

“Nanti kita juga akan masuk ke bond market mulai hari ini. Minggu lalu sudah masuk, tapi hanya sedikit,” ungkapnya.

Menurut dia, langkah intervensi yang lebih signifikan dilakukan untuk menjaga kepercayaan investor, khususnya investor asing yang memegang obligasi pemerintah.

“Mulai hari ini akan kami masuk dengan lebih signifikan lagi. Sehingga pasar obligasinya terkendali, sehingga asing yang pegang obligasi enggak keluar karena takut misalnya ada capital loss gara-gara harga obligasi turun. Itu akan bisa membantu pergerakan rupiah sedikit,” tutur Purbaya.

Sementara itu, pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu sentimen pasar terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya menyebut masyarakat desa tidak menggunakan dolar AS.

“Mengapa para menterinya tidak bisa membuat rupiah ini kembali mengalami penguatan? Banyak orang menjadikan pernyataan itu sebagai bahan olok-olok dan alasan pasar bahwa Prabowo saat ini dalam kondisi bingung karena rupiah terus mengalami pelemahan yang cukup signifikan,” ujar Ibrahim kepada wartawan di Jakarta, Senin (18/5/2026).

Ibrahim menilai pernyataan Presiden memicu sentimen negatif di pasar domestik. Menurutnya, pemerintah seharusnya lebih fokus menyusun strategi konkret untuk memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

(ameera/arrahmah.id)