Memuat...

Video Penculikan Ratusan Jamaah Shalat Jumat Nigeria Disebarkan Penculik

Hanoum
Selasa, 25 Agustus 2026 / 13 Rabiulawal 1448 04:25
Video Penculikan Ratusan Jamaah Shalat Jumat Nigeria Disebarkan Penculik
Tangkapan layar. [Foto: Reuters]

NIGER (Arrahmah.id) -- Kelompok penculik di Nigeria menyebarkan video yang diduga memperlihatkan sekitar 600 perempuan, anak-anak, dan lansia yang disandera setelah serangan terhadap sebuah masjid di Desa Dekara, Negara Bagian Niger, Nigeria, saat shalat Jumat (21/8/2026). Video tersebut beredar melalui Facebook dan WhatsApp pada Ahad (23/8), dua hari setelah para korban diculik dalam serangkaian serangan bersamaan terhadap beberapa komunitas.

Dalam rekaman itu, seperti dilansir Reuters (24/8), terlihat kelompok besar warga duduk di kawasan berhutan dengan sejumlah pria bersenjata mengelilingi mereka. Tangisan anak-anak terdengar dalam video. Seorang pria bersenjata yang berbicara dalam bahasa Hausa meminta keluarga korban mengenali anggota keluarga mereka yang terlihat dalam rekaman.

Reuters menyatakan belum dapat memverifikasi secara independen waktu dan lokasi pengambilan video tersebut, meski tidak menemukan versi video yang lebih lama sebelum 23 Agustus.

Salah seorang warga Dekara, Ibrahim Abubakar, mengatakan kepada Reuters bahwa dirinya mengenali sejumlah orang dalam rekaman tersebut.

“Orang-orang dalam video itu berasal dari Dekara. Saya mengenali 13 orang yang saya kenal,” kata Ibrahim.

Warga lainnya, Abdulmutallib Muqaddas Dindi, juga mengaku mengenali sejumlah korban. “Kami telah mengenali para tetua, kerabat kami, dan beberapa dari kami melihat istri serta anak-anak mereka dalam video tersebut,” ujarnya.

Serangan terjadi ketika para korban sedang menjalankan shalat Jumat di masjid Desa Dekara. Menurut laporan warga, kelompok bersenjata melakukan serangan secara bersamaan terhadap sejumlah komunitas di wilayah tersebut sebelum membawa warga pergi. Jumlah korban belum dapat dipastikan secara resmi. Polisi sebelumnya mengonfirmasi adanya serangan terhadap jemaah, tetapi mengatakan belum dapat memverifikasi jumlah orang yang diculik.

Laporan Deutsche Welle (DW) mengenai serangan 21 Agustus juga menyebut adanya serangan terhadap beberapa desa di Negara Bagian Niger, termasuk serbuan ke sebuah masjid ketika shalat Jumat berlangsung. Namun, laporan awal DW yang mengutip warga menyebut jumlah korban penculikan jauh lebih rendah, yakni puluhan orang, sementara polisi belum mengonfirmasi angka tersebut. Perbedaan angka ini menunjukkan bahwa jumlah sekitar 600 orang yang muncul dalam laporan terbaru masih merupakan estimasi warga dan belum menjadi angka resmi pemerintah.

Obed Nana, Komisioner Informasi dan Orientasi Negara Bagian Niger, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa operasi telah dilakukan untuk menangani kasus tersebut.

“Operasi sedang berlangsung untuk menilai situasi, melacak para penyerang, dan memfasilitasi penyelamatan para jemaah yang diculik,” kata Nana. Pemerintah dan kepolisian setempat hingga laporan tersebut diterbitkan belum memberikan konfirmasi mengenai jumlah pasti korban maupun identitas kelompok yang bertanggung jawab.

Laporan The Guardian yang juga mengutip Reuters menguatkan bahwa video tersebut memperlihatkan ratusan perempuan, anak-anak, dan lansia berada di kawasan berhutan dan dikelilingi orang-orang bersenjata.

Sementara itu, Associated Press (AP) melaporkan bahwa serangkaian serangan pada Jumat terjadi di beberapa desa di wilayah Borgu, Negara Bagian Niger, dan polisi mengonfirmasi pengerahan militer untuk membantu mencari para korban serta pelaku.

Penculikan massal merupakan salah satu persoalan keamanan yang terus membayangi Nigeria. Reuters melaporkan bahwa kelompok bersenjata kerap melakukan penculikan untuk memperoleh uang tebusan dengan menyasar desa, sekolah, dan jalan raya di wilayah barat laut serta tengah-utara Nigeria. Dalam beberapa waktu terakhir, aktivitas kelompok tersebut juga semakin meluas ke wilayah selatan.

Kasus terbaru ini terjadi ketika Nigeria bersiap menghadapi pemilihan presiden pada Januari mendatang. Masalah keamanan diperkirakan menjadi salah satu isu penting dalam agenda politik nasional karena meningkatnya penculikan massal.

Presiden Bola Ahmed Tinubu sendiri menghadapi kritik terkait kemampuan pemerintah mengatasi memburuknya situasi keamanan di sejumlah wilayah negara tersebut. (hanoum/arrahmah.id)