MOSKOW (Arrahmah.id) -- Seorang dokter perempuan asal Dagestan, Fatima Aliyeva (25), menuduh polisi Moskow menahannya dengan kasar di kawasan Vykhino-Zhulebino, merobek jilbabnya, dan memborgolnya di kantor polisi. Keluarganya menuntut penyelidikan atas tindakan aparat itu.
Dilansir Caucasian Knot (30/10/2026), keluarga korban mengatakan aparat menahan Fatima dengan dalih pemeriksaan dokumen. Ia tak membawa paspor, sehingga menunjukkan versi elektroniknya di aplikasi Gosuslugi.
Menurut kerabatnya, Fatima meminta polisi memperkenalkan diri dan memeriksa seorang pria mabuk di taman bermain anak. Polisi disebut menghinanya, memelintir lengannya saat ia merekam dengan ponsel, lalu merampas dan membuang ponselnya.
Keluarga menuduh jilbabnya dilepas paksa saat penahanan dan ia diejek ketika meminta satu tangan dilepas dari borgol untuk merapikannya, serta dihina dengan kata “monyet” dalam perjalanan ke kantor polisi.
Menurut tuduhan itu, ia dicekik dan ditarik keluar mobil setelah menolak turun tanpa jilbab, lalu diborgol ke kursi dan permintaannya menelepon diabaikan selama satu setengah jam.
Namun polisi menyampaikan versi berbeda. Humas Kementerian Dalam Negeri untuk Distrik Administratif Tenggara Moskow menyatakan Fatima menolak menunjukkan paspor, berperilaku agresif, dan tidak mengikuti perintah menuju kantor polisi, sehingga aparat memakai kekuatan fisik.
Polisi membuat berita acara berdasarkan Pasal 20.1 ayat 2 Kode Pelanggaran Administratif tentang hooliganisme ringan dan pembangkangan terhadap perintah petugas. Pengadilan Distrik Kuzminsky menjatuhkan denda 1.000 rubel kepadanya.
Fatima menjalani pemeriksaan medis untuk mendokumentasikan lukanya, dan berencana mengadu ke kejaksaan. Ombudsman Dagestan, Zapir Alkhasov, mengatakan telah meminta kejaksaan Moskow menyelidiki.
Anggota parlemen Dagestan, Sadruidin Aigubov, mengirim permintaan kepada kepolisian dan Komite Investigasi Moskow agar menilai dasar hukum penahanan, penggunaan kekuatan, serta tuduhan penghinaan dan pelepasan jilbab.
Kasus ini menambah sorotan atas perlakuan terhadap perempuan berjilbab di Rusia, terutama asal Kaukasus Utara. Caucasian Knot mencatat Kepala Chechnya, Ramzan Kadyrov, pada Juli 2024 menyebut orang yang menyuruh melepas jilbab sebagai musuh. Kementerian Dalam Negeri Rusia belum mengumumkan hasil penyelidikan. (hanoum/arrahmah.id)
