GAZA (Arrahmah.id) - Sektor perikanan di Jalur Gaza kini berada di ambang kepunahan. Serangan berkelanjutan oleh pasukan pendudukan 'Israel' terhadap para nelayan, yang terus berlanjut meski ada kesepakatan gencatan senjata, telah melumpuhkan mata pencaharian bagi lebih dari 4.000 nelayan di wilayah pesisir tersebut.
Berdasarkan laporan dari lapangan, kondisi para nelayan kini sangat memprihatinkan akibat taktik penyempitan ruang gerak yang dilakukan militer 'Israel'.
Produksi ikan anjlok tajam dari 15–20 ton per hari sebelum perang, menjadi hanya 10 ton per bulan saat ini. Hal ini disebabkan oleh larangan penggunaan mesin kapal selama lebih dari dua tahun.
Pelabuhan Gaza tidak luput dari target militer, dengan setidaknya 26 rudal menghantam area pelabuhan, menghancurkan gudang penyimpanan, serta peralatan vital para nelayan.
Karena mayoritas kapal bermesin telah hancur atau dilarang beroperasi, para nelayan terpaksa beralih ke cara-cara sangat berbahaya dan primitif. Mereka menggunakan perahu kecil, lembaran gabus, bahkan pintu kulkas sebagai alat apung untuk melaut demi mencari sedikit tangkapan ikan.
Ketua Komite Nelayan, Zakaria Bakr, mengungkapkan bahwa serangan ini adalah pola yang sistematis. Penembakan langsung, penenggelaman kapal, hingga penangkapan menjadi makanan sehari-hari para nelayan.
Tercatat lebih dari 232 nelayan gugur, lebih dari 100 terluka, dan lebih dari 100 orang lainnya pernah ditangkap oleh militer Israel. Saat ini, setidaknya 30 nelayan masih mendekam di penjara 'Israel'.
Wilayah tangkapan nelayan dibatasi secara ketat tidak lebih dari satu kilometer dari bibir pantai, wilayah yang sebenarnya sudah tidak lagi kaya akan ikan karena tingkat polusi dan kerusakan ekosistem laut akibat perang.
Meskipun Komite Nelayan telah aktif berkomunikasi dengan berbagai organisasi hak asasi manusia dan lembaga internasional, solidaritas yang ditunjukkan tidak dibarengi dengan tindakan nyata di lapangan. Israel tetap mempertahankan blokade lautnya, memicu krisis pangan dan kemiskinan ekstrem bagi ribuan keluarga nelayan.
"Nelayan Gaza saat ini berada di antara dua pilihan sulit: mati kelaparan karena dilarang melaut, atau mati tertembak saat mempertaruhkan nyawa di tengah laut," tegas Bakr.
Di tengah situasi kemanusiaan yang sangat sulit, para nelayan memilih untuk terus melaut dengan peralatan seminim mungkin sebagai satu-satunya cara untuk menyambung hidup keluarga mereka yang terjebak dalam krisis pangan yang parah akibat blokade total. (zarahamala/arrahmah.id)
