Memuat...

Laporan Remembering Gaza Scholars Dokumentasikan Penghancuran Elit Intelektual Palestina

Zarah Amala
Senin, 27 April 2026 / 10 Zulkaidah 1447 10:30
Laporan Remembering Gaza Scholars Dokumentasikan Penghancuran Elit Intelektual Palestina
Serangan Israel menargetkan universitas, pusat penelitian, dan para ilmuwan itu sendiri (Al Jazeera)

GAZA (Arrahmah) - Sejumlah akademisi dan aktivis internasional telah meluncurkan laporan mendalam serta arsip digital berjudul Remembering Gaza Scholars. Proyek ini mendokumentasikan hilangnya nyawa para cendekiawan terkemuka di Jalur Gaza yang menjadi sasaran serangan 'Israel' selama perang yang berlangsung selama dua tahun terakhir.

Laporan ini menyebut aksi militer 'Israel' sebagai genosida sistematis terhadap elit ilmiah di Gaza dalam konteks kehancuran masyarakat Palestina secara menyeluruh. Banyak dari para korban adalah akademisi ternama dengan kontribusi signifikan di bidang penelitian dan pendidikan global.

Beberapa figur kunci yang gugur di antaranya Prof. Dr. Sufyan Tayeh, fisikawan ternama dan Rektor Universitas Islam Gaza, yang juga memegang kursi UNESCO untuk bidang fisika dan ruang angkasa. Khalid Al-Ramlawi, profesor Teknik di Universitas Islam Gaza. Rola Abdul Jawad, dosen muda (29 tahun) di Universitas Gaza.

Penghancuran Sistematis Pendidikan Tinggi

Laporan tersebut tidak hanya mencatat kematian para pendidik, tetapi juga memetakan penghancuran infrastruktur pendidikan tinggi secara menyeluruh. Hingga Maret 2025, ke-12 universitas yang beroperasi di Gaza, ditambah tujuh institusi pendidikan tinggi lainnya, telah hancur.

Lebih dari 57 bangunan universitas, termasuk laboratorium, perpustakaan, museum, dan ruang kelas, diratakan dengan tanah, baik melalui serangan udara langsung maupun peledakan terencana setelah gedung-gedung tersebut diubah menjadi posisi militer.

Laporan menyoroti penghancuran Universitas Israa yang diledakkan dengan ratusan ranjau setelah sempat diduduki oleh tentara 'Israel', termasuk penghancuran museum nasional yang menyimpan ribuan artefak sejarah.

Para akademisi menyebut fenomena ini sebagai scholasticide (genosida pendidikan), yaitu serangan sengaja terhadap pendidikan untuk melumpuhkan kemampuan masyarakat Palestina dalam memproduksi ilmu pengetahuan di masa depan.

Dampak kemanusiaan dari kehancuran ini sangat masif, 87.000 mahasiswa kehilangan akses pendidikan tinggi. Lebih dari 1.200 mahasiswa tewas. Lebih dari 200 tenaga pengajar gugur, banyak di antaranya tewas saat berada di rumah mereka.

Banyak dari para profesor ini sebenarnya telah menempuh pendidikan di luar negeri, namun secara sadar memilih kembali ke Gaza untuk mengabdi meskipun di bawah blokade ketat sejak 2007.

Proyek arsip digital Remembering Gaza Scholars kini terus diperbarui secara berkala. Situs tersebut menyediakan halaman khusus untuk setiap cendekiawan, memuat jejak ilmiah, rekam jejak pengajaran, serta kronologi wafat mereka. Para penggerak proyek menyatakan bahwa misi ini merupakan upaya untuk menuntut pertanggungjawaban atas kejahatan tersebut serta memastikan bahwa warisan intelektual para ilmuwan ini tetap terjaga meski fisik mereka telah tiada. (zarahamala/arrahmah.id)