Memuat...

Serangan Drone Lumpuhkan Pipa Saudi, 4% Pasokan Minyak Global Terancam

Zarah Amala
Senin, 14 September 2026 / 3 Rabiulakhir 1448 12:30
Serangan Drone Lumpuhkan Pipa Saudi, 4% Pasokan Minyak Global Terancam
Pasokan minyak Saudi telah turun ke level terendah dalam lebih dari tiga dekade pada bulan Agustus karena berkurangnya aliran melalui Hormuz dan Laut Merah [Getty]

RIYADH (Arrahmah.id) - Arab Saudi berisiko kehabisan stok minyak untuk ekspor dalam beberapa hari jika pipa minyak utama yang menghubungkan wilayah timur dengan Laut Merah tidak segera beroperasi kembali. Gangguan tersebut berpotensi mengurangi pasokan minyak global hingga 4 persen, menurut pembeli minyak dan pedagang yang berbicara kepada Reuters.

Pipa East-West ditutup sejak Jumat (11/9/2026) setelah serangan pesawat nirawak. Riyadh belum mengungkap secara rinci tingkat kerusakan maupun waktu yang dibutuhkan untuk memperbaikinya.

Sumber Reuters memberikan perkiraan berbeda mengenai durasi perbaikan. Salah satu sumber memperkirakan perbaikan dapat memakan waktu lima hingga enam minggu, sementara sumber lain mengatakan pipa kemungkinan dapat diperbaiki lebih cepat dan kembali beroperasi sebagian meski perbaikan masih berlangsung.

Selama enam bulan terakhir, pipa yang melintasi gurun Semenanjung Arab tersebut menjadi jalur penting bagi Arab Saudi untuk menghindari dampak terganggunya pelayaran melalui Selat Hormuz. Melalui pipa itu, sekitar 4 juta barel minyak per hari dapat dialihkan ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah, setara sekitar 4 persen pasokan global.

Namun, setelah pipa berhenti beroperasi, stok minyak di Yanbu diperkirakan hanya cukup untuk mempertahankan ekspor selama lima hingga tujuh hari, menurut tiga sumber industri yang mengetahui aktivitas ekspor Saudi.

Arab Saudi masih memiliki stok di pelabuhan Ain Sukhna di Laut Merah dan Sidi Kerir di Laut Mediterania yang dapat memasok pelanggan selama beberapa hari. Kapasitas penyimpanan Yanbu diperkirakan sekitar 35 juta barel, sedangkan Ain Sukhna dan Sidi Kerir masing-masing sekitar 18 juta dan 20 juta barel.

Namun, stok tersebut tidak dalam kondisi penuh dan pada akhirnya akan habis jika pipa East-West tidak kembali beroperasi, menurut empat sumber industri.

Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan pasokan minyak Arab Saudi pada Agustus telah turun ke level terendah dalam lebih dari 30 tahun, akibat berkurangnya aliran minyak melalui Selat Hormuz dan Laut Merah. IEA memperkirakan pasokan minyak global tahun ini akan turun 5,7 juta barel per hari, atau sekitar 6 persen.

Gangguan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ancaman terhadap jalur ekspor minyak di kawasan. Pada Jumat, kelompok Houtsi di Yaman yang sebelumnya mengancam pengiriman minyak Saudi dilaporkan merebut sebuah pulau di mulut Laut Merah.

Sebelum perang, kawasan Timur Tengah memasok sekitar 22 juta barel minyak per hari. Namun, aliran minyak melalui Selat Hormuz kini turun menjadi sekitar 6–9 juta barel per hari, menurut sumber industri.

Arab Saudi juga telah melaporkan kepada OPEC bahwa produksi minyaknya turun menjadi sekitar 6,2 juta barel per hari pada Agustus, dari 10,9 juta barel per hari pada Februari sebelum perang dimulai. (zarahamala/arrahmah.id)