Memuat...

Ratusan Warga Thailand Demo di Kedutaan 'Israel', Protes Turis dan Penguasaan Lahan

Zarah Amala
Senin, 14 September 2026 / 3 Rabiulakhir 1448 13:04
Ratusan Warga Thailand Demo di Kedutaan 'Israel', Protes Turis dan Penguasaan Lahan
Ratusan orang berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar 'Israel' di Bangkok sambil meneriakkan, “Thailand Not For Sale” (media sosial).

BANGKOK (Arrahmah.id) - Ratusan orang menggelar demonstrasi di depan Kedutaan Besar 'Israel' di Bangkok, Thailand, Kamis (10/9/2926). Mereka menuntut para pengunjung asing lebih menghormati hukum dan budaya Thailand. Aksi tersebut dipicu meningkatnya kemarahan publik terhadap perilaku sebagian turis 'Israel', dugaan penguasaan lahan di Thailand, serta perang 'Israel' di Gaza.

Para demonstran membawa berbagai poster yang menuntut penghentian apa yang mereka sebut sebagai praktik pengambilalihan lahan oleh warga asing. Mereka mengusung slogan, “Thailand Not For Sale.”

Aksi tersebut dipimpin tokoh media senior sekaligus aktivis politik Thailand, Sondhi Limthongkul. Ia membacakan surat terbuka yang ditujukan kepada Duta Besar 'Israel' untuk Thailand, Alona Fisher-Kamm.

“Era basa-basi diplomatik yang lembut dan sikap diam yang disengaja, yang keliru dianggap sebagai persetujuan diam-diam, telah berakhir,” kata Sondhi di hadapan massa.

Ada tiga persoalan utama yang menjadi sorotan demonstran, yakni perilaku turis 'Israel', kepemilikan lahan dan bisnis oleh warga asing, serta perang 'Israel' di Gaza.

Ketidakpuasan terhadap perilaku sebagian wisatawan asing memang telah berkembang di Thailand. Salah satu kasus yang paling mendapat perhatian baru-baru ini melibatkan seorang turis 'Israel' yang dinyatakan bersalah setelah terlibat dalam sebuah konfrontasi di negara tersebut.

Kemaran publik juga banyak tertuju pada Pai, kota di Thailand utara yang sebelumnya dikenal sebagai destinasi wisata tenang. Dalam beberapa tahun terakhir, Pai mengalami peningkatan jumlah wisatawan 'Israel' dan bisnis yang dikelola warga 'Israel'.

Kondisi tersebut memicu keluhan dari warga setempat mengenai pembelian lahan dan properti oleh warga asing, serta pengelolaan usaha yang dinilai mengabaikan hukum Thailand dan mengesampingkan kepentingan masyarakat lokal.

Persoalan tersebut bahkan telah mendapat perhatian di tingkat pemerintahan.

Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow bertemu dengan Duta Besar 'Israel' pada awal pekan ini untuk membahas masalah tersebut. Setelah pertemuan, ia menegaskan bahwa pemerintah Thailand tidak bisa tinggal diam jika wisatawan melakukan tindakan yang merugikan negara maupun masyarakat setempat.

“Thailand adalah negara yang menyambut wisatawan. Namun, keramahan kami bukan berarti wisatawan, apa pun kewarganegaraannya, dapat melakukan apa saja yang mereka inginkan di Thailand,” kata Sihasak kepada wartawan di Bangkok.

Sementara itu, Kedutaan Besar 'Israel' berupaya meredam reaksi publik. Wakil kepala misi diplomatik 'Israel' di Thailand, Rami Teplitskiy, mengatakan dalam sebuah video bahwa pihak kedutaan tidak mengabaikan sentimen negatif terhadap turis 'Israel'.

Ia mengatakan kedutaan akan berupaya memastikan para wisatawan 'Israel' menghormati hukum dan budaya Thailand.

Duta Besar Alona Fisher-Kamm juga mengusulkan penerbitan panduan berisi “hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan” bagi wisatawan 'Israel'. Usulan tersebut merupakan salah satu tuntutan yang disampaikan para demonstran.

Aksi di Bangkok mencerminkan fenomena yang lebih luas sejak perang 'Israel' di Gaza. Kritik terhadap perilaku sebagian warga 'Israel' di luar negeri semakin meningkat, mulai dari tentara yang menghadapi tuntutan terkait dugaan kejahatan perang hingga wisatawan yang dituduh bertindak seolah-olah hukum setempat tidak berlaku bagi mereka.

Di Thailand, sentimen tersebut berpadu dengan kekhawatiran lama mengenai kepemilikan lahan oleh warga asing serta perubahan karakter sejumlah kota akibat meningkatnya kehadiran warga asing.

Demonstrasi di depan Kedutaan 'Israel' menjadi salah satu bentuk protes publik yang jarang terjadi di Thailand, negara yang selama ini mempertahankan hubungan cukup dekat dengan 'Israel'. (zarahamala/arrahmah.id)