Memuat...

Trump Klaim AL Iran Sudah Tenggelam Semua, Tantang Kapal Dagang Terobos Selat Hormuz

Zarah Amala
Jumat, 13 Maret 2026 / 24 Ramadan 1447 11:09
Trump Klaim AL Iran Sudah Tenggelam Semua, Tantang Kapal Dagang Terobos Selat Hormuz
Trump: Iran berencana untuk mengambil alih dan sepenuhnya mengendalikan Timur Tengah (AFP)

WASHINGTON (Arrahmah.id) - Presiden AS Donald Trump mengeluarkan pernyataan berani dalam wawancaranya dengan Fox News terkait perang melawan Iran. Trump mengeklaim bahwa militer Iran saat ini sudah tidak memiliki kekuatan angkatan laut lagi. "Kami telah menenggelamkan semua kapal mereka. Kami menghancurkan Iran secara total dengan cara yang belum pernah dilakukan negara mana pun," ujar Trump.

Trump juga mendesak kapal-kapal kargo yang tertahan di sekitar Selat Hormuz untuk tidak takut terhadap ancaman Iran. Ia meminta mereka untuk menunjukkan keberanian dan tetap melintas, meskipun Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatullah Mojtaba Khamenei, secara resmi memerintahkan agar selat strategis tersebut tetap ditutup total.

Iran memberikan sinyal ganda. Di satu sisi, Garda Revolusi (IRGC) bersumpah menjalankan perintah penutupan total. Di sisi lain, Wakil Menlu Iran, Majid Takht-Ravanchi, memberikan pengecualian bagi kapal-kapal dari negara yang dianggap tidak bermusuhan.

Meski harga minyak mentah melonjak hingga 50% sejak perang dimulai, Trump menegaskan bahwa mencegah Iran memiliki senjata nuklir jauh lebih penting baginya daripada mengendalikan harga pasar energi global.

Militer AS melaporkan telah membombardir sekitar 6.000 target di Iran sejak awal perang (28 Februari). Sementara itu, 'Israel' mengeklaim telah menyerang berbagai barikade pasukan Basij di pusat kota Teheran.

Trump melontarkan spekulasi mengenai keberadaan Pemimpin Iran tersebut dengan mengatakan, "Saya pikir Mojtaba Khamenei masih hidup dalam satu atau lain cara."

Iran mengancam akan melakukan sabotase besar-besaran terhadap industri minyak dan gas di seluruh kawasan Timur Tengah jika infrastruktur energi nasional mereka menjadi target serangan lanjutan.

Badan Energi Internasional (IEA) menyebut situasi ini sebagai gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah pasar global. Hal ini dikarenakan terhentinya navigasi di Selat Hormuz yang biasanya menjadi jalur bagi 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. (zarahamala/arrahmah.id)