Memuat...

Warga Palestina Hidup Dalam 'Penjara' Akibat Teror Pemukim 'Israel' di Nablus

Zarah Amala
Sabtu, 9 Mei 2026 / 22 Zulkaidah 1447 12:00
Warga Palestina Hidup Dalam 'Penjara' Akibat Teror Pemukim 'Israel' di Nablus
Warga Beit Amrin ubah Rumah menjadi benteng pertahanan akibat serangan pemukim (Foto: tangkapan video)

NABLUS (Arrahmah.id) - Kehidupan sehari-hari di Desa Beit Amrin, sebelah utara Nablus, Tepi Barat yang diduduki, kini dibayangi oleh kecemasan mendalam. Penduduk setempat melaporkan peningkatan serangan oleh pemukim 'Israel' yang secara drastis mengubah lanskap desa dan memaksakan realitas keamanan yang mencekam bagi warga Palestina.

Di antara rumah-rumah yang kini tampak seperti benteng, kediaman Sadeq al-Faqih menjadi saksi bisu transformasi pahit ini. Tembok rumahnya bukan lagi sekadar pembatas ruang keluarga, melainkan garis pertahanan pertama melawan serbuan pemukim yang menurutnya mengancam nyawa mereka secara langsung.

Kepada koresponden Al Jazeera, Laith Jaar, Al-Faqih mendeskripsikan rumahnya kini tak ubahnya seperti "penjara besar". Ia terpaksa membentengi seluruh sudut rumah karena ketakutan akan serangan mendadak. Bahkan, menerima tamu pun kini dilakukan dengan kewaspadaan tingkat tinggi, seolah-olah keamanan telah menjadi sistem perlindungan wajib yang dipaksakan oleh keadaan, bukan lagi pilihan pribadi.

Penderitaan serupa dialami oleh Hamzah al-Faqih, seorang peternak yang kini hanya bisa menatap kandangnya yang kosong. Sumber penghasilan utamanya berupa 35 ekor domba raib dirampas dalam sebuah serangan pemukim 'Israel'. Kini, ia harus bertahan hidup tanpa pendapatan untuk menghidupi anak-anaknya.

Hamzah mengungkapkan kepahitannya atas realitas yang tidak lagi memungkinkan mereka untuk menggembala. Ancaman yang terus-menerus membuat perjalanan ke padang rumput menjadi mustahil, yang pada akhirnya melumpuhkan seluruh aktivitas ekonomi warga desa.

Ekspansi Pemukiman dan Isolasi Wilayah

Berdasarkan laporan warga setempat, para pemukim 'Israel' telah menguasai lahan-lahan strategis yang menghubungkan beberapa desa di wilayah tersebut. Mereka mendirikan pos pemeriksaan (outpost) peternakan, yang mengakibatkan warga Palestina kehilangan akses ke lahan seluas lebih dari 1.500 dunam (sekitar 150 hektare).

Para pengamat menilai bahwa ekspansi ini tidak hanya mengubah lanskap geografis, tetapi juga menggambar ulang peta kependudukan. Dengan menciptakan kantong-kantong pemukiman yang terisolasi, jaringan hambatan dan gerbang militer 'Israel' kini memutus koneksi antar-desa dan membatasi pergerakan penduduk secara drastis.

Bagi warga di Beit Amrin dan sekitarnya, situasi ini merupakan bagian dari kebijakan yang lebih luas untuk memaksakan kendali bertahap atas tanah mereka. Desa-desa Palestina kini terjepit di antara pemukiman ilegal yang terus meluas hingga ke lereng gunung dan wilayah Jabal Bayazid. Warga bertahan di tengah ketakutan akan serangan, sambil terus berupaya mempertahankan tanah dan sisa-sisa mata pencaharian mereka yang semakin terancam. (zarahamala/arrahmah.id)