DAMASKUS (Arrahmah.id) -- Setelah 15 tahun tersembunyi di balik dinding beton, ratusan buku milik sebuah keluarga di Kota Homs, Suriah, akhirnya kembali ditemukan. Momen tersebut terjadi ketika seorang pria lanjut usia yang dikenal sebagai Abu Bilal membongkar dinding yang dibangunnya pada 2011 untuk melindungi perpustakaan keluarganya dari risiko penggeledahan dan kerusakan selama konflik Suriah.
Dalam rekaman yang videl di berbagai media sosial, Abu Bilal terlihat menggunakan palu untuk membuka bagian dinding yang menutup ruang penyimpanan. Di baliknya terdapat ratusan buku dan majalah, termasuk buku keagamaan dan ilmiah, ijazah pembacaan Al Qur'an, sertifikat akademik, serta sejumlah dokumen pribadi.
Dilansir Al Jazeera (17/9/2026), perpustakaan tersebut berkaitan dengan Bilal Alwan, yang saat ini tinggal di Kuwait. Ayahnya membangun dinding beton di rumah keluarga di Homs pada Oktober 2011, ketika situasi keamanan memburuk setelah pecahnya pemberontakan terhadap pemerintahan Bashar al-Assad. Alwan mengatakan ayahnya memilih tetap berada di Homs sampai perpustakaan itu benar-benar terlindungi sebelum kemudian meninggalkan Suriah menuju Kuwait.
Keputusan menyembunyikan buku tersebut dilakukan karena keluarga khawatir koleksi itu dapat menimbulkan persoalan apabila ditemukan aparat pada masa pemerintahan Assad.
Sumber lain, termasuk Gulf Today dan The Siasat Daily, menyebut koleksi tersebut memuat berbagai karya politik, keagamaan dan intelektual, selain dokumen serta barang pribadi. Karena itu, buku-buku tersebut ditutup rapat di balik dinding sebelum keluarga meninggalkan Suriah.
Yang mengejutkan keluarga, sebagian besar koleksi masih berada dalam kondisi baik ketika dinding dibongkar. Al Jazeera melaporkan bahwa ratusan buku, dokumen dan sertifikat ditemukan masih tersusun sebagaimana sebelumnya. Beberapa laporan menyebut hanya sedikit debu yang masuk ke ruang tertutup tersebut selama bertahun-tahun.
Pembongkaran itu dilakukan setelah Abu Bilal kembali ke rumahnya pada 24 Agustus 2026. Putranya kemudian membagikan kisah tersebut melalui media sosial, sehingga rekaman saat dinding dibuka menarik perhatian luas. Banyak pengguna media sosial menyebut peristiwa tersebut sebagai simbol kembalinya buku-buku yang selama bertahun-tahun harus disembunyikan akibat situasi perang dan ketakutan terhadap aparat.
Kisah perpustakaan tersebut juga muncul di tengah perubahan situasi budaya dan penerbitan di Suriah setelah jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad pada Desember 2024. Gulf Today melaporkan bahwa sejumlah karya yang sebelumnya dibatasi mulai terlihat secara terbuka dalam kegiatan literasi dan pameran buku di Suriah.
Bagi keluarga Alwan, penemuan tersebut bukan sekadar kembalinya ratusan buku setelah satu setengah dekade. Koleksi itu juga menyimpan sertifikat, dokumen pribadi dan bagian dari perjalanan intelektual keluarga yang sempat terputus akibat konflik dan perpindahan tempat tinggal. (hanoum/arrahmah.id)
