Memuat...

Hari Keempat Pencarian KM Virgo Transport 8: 129 Korban Masih Hilang

Ameera
Kamis, 17 September 2026 / 6 Rabiulakhir 1448 14:31
Hari Keempat Pencarian KM Virgo Transport 8: 129 Korban Masih Hilang
Hari Keempat Pencarian KM Virgo Transport 8: 129 Korban Masih Hilang

BANJARMASIN (Arrahmah.id) — Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap korban kecelakaan KMP Virgo Transport 8 memasuki hari keempat pada Kamis (17/9/2026).

Hingga kini, tim SAR gabungan masih berupaya menemukan 129 orang yang belum diketahui keberadaannya setelah kapal tersebut mengalami kecelakaan di perairan Laut Jawa.

KMP Virgo Transport 8 diketahui melayani rute Surabaya-Banjarmasin dengan membawa total 243 orang, terdiri atas 213 penumpang dan 30 awak kapal. Kapal tersebut mengalami kecelakaan pada Ahad (13/9/2026) di perairan sekitar Masalembo, Laut Jawa, ketika menghadapi kondisi cuaca buruk.

Berdasarkan perkembangan operasi, sebanyak 114 orang telah ditemukan atau dievakuasi. Dari jumlah tersebut, 108 orang ditemukan dalam kondisi selamat, sedangkan enam orang lainnya dinyatakan meninggal dunia. Sementara itu, 129 orang masih dalam pencarian.

Lebih dari 1.000 Personel Dikerahkan

Pencarian terhadap 129 korban dilakukan secara besar-besaran dengan melibatkan lebih dari 1.000 personel gabungan. Sejumlah unsur dikerahkan untuk memperluas area pencarian dan mempercepat proses penemuan korban.

Operasi pencarian dioptimalkan melalui pengerahanenam armada udara dan 17 kapal. Armada tersebut digunakan untuk menyisir sejumlah sektor yang telah ditentukan tim SAR.

Pencarian dilakukan melalui jalur permukaan dan udara sembari menunggu kondisi memungkinkan untuk melakukan pencarian di bawah permukaan laut.

Sebelumnya, operasi SAR juga telah membagi wilayah pencarian ke dalam sejumlah sektor. Fokus pencarian diarahkan pada wilayah yang diperkirakan menjadi lokasi korban setelah kapal mengalami kecelakaan.

Pencarian Bawah Laut Belum Bisa Dilakukan Maksimal

Salah satu upaya yang dipersiapkan tim SAR adalah pencarian bawah laut menggunakan Remotely Operated Vehicle (ROV) dan tim penyelam.

Namun, kondisi laut yang belum bersahabat membuat operasi bawah laut harus ditunda. Gelombang tinggi, derasnya arus bawah laut, serta kondisi air yang keruh menyebabkan jarak pandang penyelam menjadi terbatas dan meningkatkan risiko terhadap keselamatan personel.

Laporan terbaru juga menyebutkan bahwa operasi penyelaman sebelumnya menghadapi arus yang sangat kuat. Kondisi tersebut membuat tim penyelam harus menghentikan sementara kegiatan bawah air.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Kakansar) Banjarmasin, I Putu Sudayana, mengatakan penggunaan teknologi canggih tetap bergantung pada kondisi alam.

"Penggunaan alat secanggih apa pun akan terhambat apabila cuaca dan alam tidak bersahabat, namun pencarian bawah laut pasti akan dilakukan apabila kondisi gelombang tenang dan arus laut lambat."

Menurutnya, pencarian menggunakan ROV maupun penyelam akan kembali dilakukan ketika kondisi laut dinilai cukup aman. Keselamatan personel menjadi pertimbangan utama sebelum operasi bawah laut dilanjutkan.

Kapal Berada di Kedalaman Sekitar 30 Meter

Kondisi bangkai kapal juga menjadi salah satu perhatian dalam operasi pencarian. Laporan Reuters menyebut kapal saat ini berada di perairan dengan kedalaman sekitar 29-30 meter dan mengalami pergeseran sekitar 450 meter akibat kondisi laut.

Dengan posisi kapal yang terbalik, pencarian di sekitar badan kapal membutuhkan penanganan khusus. Tim SAR dan unsur terkait mempertimbangkan sejumlah opsi untuk menangani posisi kapal sebelum dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah membalikkan posisi kapal agar kembali tegak. Setelah kapal berhasil diposisikan, bagian dalam kapal dapat diperiksa untuk memastikan ada atau tidaknya korban yang masih berada di dalamnya.

Proses tersebut membutuhkan waktu dan harus memperhitungkan kondisi laut serta keselamatan personel yang terlibat.

Sejumlah Barang Ditemukan KRI I Gusti Ngurah Rai

Selain mencari korban, tim SAR gabungan juga melakukan pengumpulan dan evakuasi berbagai benda yang ditemukan di lokasi kejadian.

Sejumlah barang yang ditemukan antara lain life raft atau rakit penyelamat, life jacket atau jaket pelampung, serta beberapa dokumen milik penumpang.

Barang-barang tersebut ditemukan oleh KRI I Gusti Ngurah Rai dalam kegiatan pencarian di laut.

Temuan tersebut kemudian diamankan dan dievakuasi. Pengambilan benda yang berkaitan dengan kecelakaan merupakan bagian dari prosedur dalam operasi pencarian dan penanganan kecelakaan di laut.

I Putu Sudayana menjelaskan, setiap barang yang berkaitan dengan kejadian harus diambil dan dievakuasi.

"Temuan itu ditemukan oleh KRI I Gusti Ngurah Rai. Ini suatu yang harus dan wajib dilaksanakan di setiap pencarian di laut. Barang bukti apa pun terkait dengan kejadian itu harus kita ambil, harus kita evakuasi, harus kita bawa."

Barang-barang tersebut nantinya dapat membantu proses penanganan lebih lanjut terhadap kecelakaan, termasuk dalam pendataan dan pemeriksaan berbagai temuan yang berkaitan dengan kapal maupun penumpang.

Enam Korban Meninggal Dunia

Dari total 114 orang yang telah ditemukan, enam orang dinyatakan meninggal dunia. Sementara 108 lainnya ditemukan dalam kondisi selamat. Data tersebut menjadikan total korban yang masih dicari sebanyak 129 orang dari 243 orang yang tercatat berada di kapal.

Tim DVI Polri juga telah melakukan proses identifikasi terhadap jenazah yang ditemukan. Pihak kepolisian sebelumnya mengimbau keluarga penumpang yang masih hilang untuk melaporkan data ante mortem kepada posko DVI di Jawa Timur maupun Kalimantan Selatan guna membantu proses identifikasi.

Cuaca Jadi Kendala Utama

Sejak awal operasi, kondisi cuaca menjadi salah satu kendala terbesar bagi tim SAR. Gelombang tinggi dan angin kencang membuat proses pencarian di laut tidak dapat dilakukan secara optimal.

Kondisi tersebut juga berdampak pada pencarian bawah laut. Selain gelombang di permukaan, derasnya arus bawah laut dan buruknya visibilitas di dalam air membuat penyelaman berisiko.

Laporan Reuters menyebut pencarian bawah laut sebelumnya menghadapi arus yang mencapai hampir 7 knot, sehingga tim penyelam harus menghentikan sementara operasi.

Karena itu, tim SAR untuk sementara mengoptimalkan pencarian menggunakan armada udara dan kapal yang dapat beroperasi dengan mempertimbangkan kondisi keselamatan.

Pencarian 129 Korban Terus Dilanjutkan

Memasuki hari keempat, fokus utama operasi masih pencarian terhadap 129 korban yang belum ditemukan.

Tim SAR gabungan terus melakukan penyisiran di sejumlah sektor menggunakan enam armada udara dan 17 kapal. Perubahan kondisi cuaca dan laut terus dipantau untuk menentukan strategi operasi berikutnya.

Apabila gelombang mulai tenang dan arus bawah laut memungkinkan, pencarian akan diperluas dengan mengerahkan ROV dan tim penyelam.

Di sisi lain, penanganan terhadap bangkai kapal juga menjadi bagian penting dalam operasi. Opsi untuk membalikkan kapal sedang dipertimbangkan agar pemeriksaan terhadap bagian dalam kapal dapat dilakukan secara lebih menyeluruh. Reuters

Sampai Kamis (17/9/2026), belum seluruh korban berhasil ditemukan. Tim SAR gabungan masih melanjutkan operasi dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia, sembari tetap mempertimbangkan kondisi cuaca, arus laut, dan keselamatan personel.

Pencarian akan terus dilakukan hingga seluruh wilayah yang menjadi sasaran operasi diperiksa dan perkembangan terbaru terkait keberadaan 129 korban dapat diketahui.

(ameera/arrahmah.id)