BAGHDAD (Arrahmah.id) — Iran bukan pihak yang terlibat dalam serangan 11 September 2001. Namun, dampak geopolitik dari perang yang dilancarkan Amerika Serikat setelah peristiwa tersebut justru menciptakan kondisi yang memungkinkan Teheran berkembang sebagai salah satu kekuatan regional utama di Timur Tengah.
Hal itu diungkapkan dalam laporan New York Times (16/9) yang membahas bagaimana Iran memanfaatkan perubahan geopolitik pasca-11 September, terutama setelah invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003.
Menurut laporan tersebut, invasi Irak menjadi titik balik paling penting. Kejatuhan pemerintahan Presiden Irak Saddam Hussein, yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu rival utama Iran, membuka ruang luas bagi Teheran untuk memperbesar pengaruh politik dan keamanannya di Irak.
Keberhasilan tersebut kemudian menjadi model yang dapat diperluas Iran ke berbagai arena lain di Timur Tengah.
Laporan itu menggambarkan sebuah paradoks: invasi Irak pada 2003 yang bertujuan mengubah Irak dan kawasan justru membantu membuka jalan bagi Teheran untuk memperluas pengaruhnya terhadap negara tetangganya. Keberhasilan Iran di Irak selanjutnya turut mendorong ambisi Teheran untuk memperluas pengaruhnya ke kawasan Timur Tengah yang lebih luas.
Keuntungan terbesar Iran
Selama puluhan tahun, Iran berupaya menyingkirkan pemerintahan Saddam Hussein, tetapi tidak berhasil melakukannya. Pada akhirnya, perubahan tersebut justru dilakukan oleh Amerika Serikat melalui invasi ke Irak pada Maret 2003.
Stefan Lacroix, profesor di Sciences Po, Prancis, mengatakan perang Irak "mengubah segalanya" karena membuat Iran menjadi aktor yang jauh lebih besar dalam konfigurasi regional.
Menurutnya, perang yang dimaksudkan untuk membentuk kembali Irak dan kawasan tersebut berubah menjadi peluang bagi Teheran untuk memperkuat kehadiran politik dan keamanannya di Irak.
Perkembangan itu tidak dapat dilepaskan dari kebijakan Amerika Serikat setelah serangan 11 September. Perang melawan "terorisme" yang dicanangkan Washington kemudian berkembang setelah Presiden George W. Bush memasukkan Iran, Irak, dan Korea Utara ke dalam apa yang disebutnya sebagai "poros kejahatan".

Mantan Duta Besar AS Ryan Crocker mengatakan Iran semakin yakin setelah pidato mengenai "poros kejahatan" bahwa Amerika Serikat "telah menargetkan rezim Iran".
Menurut laporan tersebut, persepsi itu mendorong Teheran mengambil langkah lebih agresif untuk menghadapi pengaruh Amerika Serikat di kawasan.
Namun, Iran tidak memilih konfrontasi militer langsung. Sebaliknya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menggunakan strategi berupa persenjataan, pendanaan, dan pelatihan terhadap milisi-milisi Irak.
Model tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu instrumen utama Iran dalam membangun pengaruh regional.
Afshon Ostovar, penulis buku Wars of Ambition yang membahas sejarah konflik modern antara Amerika Serikat dan Iran, mengatakan tujuan strategi tersebut adalah menciptakan tingkat kekacauan tertentu di Irak melalui kelompok bersenjata yang sulit diidentifikasi, sehingga Amerika Serikat menghadapi tantangan yang tidak mudah diatasi.
Irak menjadi model ekspansi
Strategi Iran tidak berhenti di Irak. Keberhasilan Teheran di negara tersebut, menurut laporan New York Times, justru menjadi pemicu bagi perluasan pengaruhnya ke berbagai wilayah lain.
Ostovar menggambarkan Irak sebagai "penguat" ambisi Iran. Semakin besar pengaruh Iran di Irak, semakin luas pula ambisi regional yang muncul setelahnya.
Di bawah kepemimpinan Qassem Soleimani, komandan Pasukan Quds, Iran kemudian mendukung jaringan kelompok bersenjata dan sekutu di Suriah, Lebanon, Gaza, dan Yaman.
Perluasan peran tersebut tercermin dalam sebuah surat Soleimani kepada Jenderal AS David Petraeus pada 2008.
"Jenderal Petraeus, Anda harus tahu bahwa saya mengendalikan kebijakan Iran terhadap Irak, serta terhadap Suriah, Lebanon, Gaza, dan Afghanistan," kata Soleimani dalam surat tersebut.
Kutipan itu menggambarkan bagaimana Teheran memandang pengaruhnya yang telah menjangkau sejumlah arena konflik di kawasan.
Paradoks utama yang disoroti laporan tersebut adalah bahwa Amerika Serikat, setelah 11 September, justru menyingkirkan sejumlah pemerintahan yang berseberangan dengan Iran, terutama pemerintahan Saddam Hussein.

Di sisi lain, Teheran mampu memanfaatkan kekosongan politik dan keamanan yang muncul setelah perubahan tersebut.
Keuntungan Iran pun tidak terbatas pada Irak. Negara itu menjadi tempat bagi Teheran untuk menguji model baru yang mengandalkan pengaruh tidak langsung dan kekuatan lokal, alih-alih konfrontasi militer langsung.
Dengan demikian, laporan tersebut tidak menyimpulkan bahwa Iran memperoleh keuntungan dari serangan 11 September itu sendiri. Yang dimanfaatkan Teheran adalah sebagian dampak tidak disengaja dari perang dan kebijakan Amerika Serikat yang muncul setelah serangan tersebut.
Invasi Irak pada 2003 menjadi mata rantai paling penting dalam proses itu. Kejatuhan pemerintahan Saddam menghilangkan salah satu rival regional utama Iran sekaligus membuka ruang bagi Teheran untuk memperluas pengaruhnya.
Model yang berkembang di Irak kemudian menjadi bagian dari strategi Iran yang lebih luas di Timur Tengah.
(Samirmusa/arrahmah.id)
