NUHUD (Arrahmah.id) -- Sedikitnya 82 pekerja tambang tewas setelah tambang emas informal Al-Zara di wilayah Nuhud, Provinsi West Kordofan, Sudan, runtuh. Puluhan pekerja lainnya masih belum ditemukan di bawah reruntuhan, sementara operasi penyelamatan menghadapi keterbatasan alat berat di tengah perang yang masih berlangsung di wilayah tersebut.
Menurut keterangan pejabat lokal kepada Associated Press (AP) (17/9/2026), runtuhnya tambang terjadi sejak Ahad di salah satu lubang tambang dan kemudian menjalar ke sejumlah lubang yang saling terhubung. Hingga Rabu (16/9), sebanyak 82 jenazah telah berhasil dievakuasi. Namun, jumlah pekerja yang masih tertimbun belum diketahui secara pasti.
Operasi pencarian berlangsung dalam kondisi sulit. Lokasi tambang berada lebih dari 30 meter di bawah permukaan tanah, sementara tim penyelamat disebut hanya memiliki satu kendaraan forklift untuk mengangkat tanah dan bebatuan.
Seorang penyintas, Khairal-Sayed Gabara, mengatakan kepada AP bahwa para pekerja dan warga berusaha melakukan pencarian menggunakan peralatan sederhana karena tidak tersedia mesin yang memadai untuk membersihkan reruntuhan.
Laporan AFP menyebut 50 orang lainnya mengalami luka-luka, sedangkan jumlah pekerja yang masih terjebak belum dapat dipastikan. Dua penyintas mengatakan upaya penyelamatan dilakukan sepanjang malam dengan menggunakan peralatan sederhana yang biasanya dipakai untuk aktivitas penambangan.
Tambang Al-Zara merupakan salah satu dari ribuan lokasi pertambangan emas skala kecil dan informal di Sudan. Lokasi tersebut berada di wilayah yang dikuasai Rapid Support Forces (RSF), kelompok paramiliter yang sejak April 2023 berperang melawan militer Sudan. Kondisi konflik membuat akses terhadap peralatan penyelamatan dan layanan darurat semakin terbatas.
Kecelakaan tambang mematikan bukan kejadian baru di Sudan. Negara tersebut merupakan salah satu produsen emas utama Afrika, tetapi sebagian besar produksinya berasal dari pertambangan artisanal dan skala kecil yang beroperasi secara informal. AP mencatat kecelakaan tambang pada 2021 menewaskan 38 orang, sedangkan runtuhnya tambang pada 2023 menyebabkan 14 penambang meninggal dunia. (hanoum/arrahmah.id)
