Memuat...

Akar Zaitun Dicabut Paksa, Umat Butuh Perisai Nyata

Oleh Sherly Agustina, M.Ag.Penulis dan Pemerhati Kebijakan Publik
Senin, 26 Oktober 2026 / 16 Jumadilawal 1448 20:05
Akar Zaitun Dicabut Paksa, Umat Butuh Perisai Nyata
(Foto: palinfo.com)

Bagaimana mungkin sebuah pohon yang telah tumbuh ratusan tahun, yang menjadi saksi sujud dan air mata penduduknya, kini ditebang dengan penuh kebencian? Di tanah Palestina, zaitun bukan sekadar tanaman, ia adalah identitas, ia adalah nafas, ia adalah bukti bahwa tanah itu milik mereka. Namun hari ini, di musim panen yang seharusnya penuh syukur, para petani justru memanen luka dan darah karena kekejaman penjajah.

Jelang panen buah zaitun di bulan Oktober, buldoser militer Israel secara tiba-tiba meratakan sekitar 31 dunam (31 ribu meter persegi) lahan milik petani Palestina di kota Beit Rima, barat laut Ramallah, pekan lalu. Akibatnya, lebih dari 400 pohon zaitun hancur hanya beberapa hari sebelum dimulainya panen tahunan.

Kerusakan tersebut membuat petani di desa Palestina menangisi sisa-sisa pohon mereka yang hancur, mengubah apa yang biasanya merupakan musim sukacita dan berkumpul bersama komunitas menjadi musim duka. Abd Alfattah Tamimi, yang memiliki kebun zaitun di desa itu, menyaksikan sebuah buldoser militer menghancurkan bagian atas salah satu pohonnya sebelum mencabut akar sepenuhnya dari tanah. (Cnnindonesia.com, 28/9/2026)

Akar Dicabut, Identitas Dirampas

Penyerangan terhadap pohon zaitun adalah strategi penjajahan yang paling licik untuk menghancurkan ekonomi dan akar budaya Palestina. Lebih dari 90.000 keluarga Palestina menggantungkan hidupnya dari zaitun, sektor yang menyumbang 8 persen PDB Palestina dan menyediakan puluhan ribu lapangan pekerjaan bagi warga setempat. Ketika 2.500 pohon dirusak dalam 200 serangan di musim panen sejak awal September hingga Oktober 2026, yang membuat 1 orang syahid dan 120 luka-luka, sejatinya Israel sedang memutus urat nadi ekonomi rakyat agar mereka menyerah dan pergi dari tanahnya sendiri.

Penyerangan terhadap jurnalis, aktivis, bahkan diplomat asing bukanlah kebetulan. Ini adalah upaya sistematis Israel untuk membungkam saksi. Mereka ingin memastikan tidak ada kamera yang merekam, tidak ada aktivis yang membersamai petani, dan tidak ada dunia yang melihat kebrutalan mereka saat mencabut pohon-pohon yang menjadi simbol perlawanan. Mereka ingin kejahatannya tetap sunyi.

Fakta yang ada, betapa munafiknya pembelaan Barat. Marco Rubio dan Mike Huckabee dari AS bersuara ketika jurnalis AS yang diserang. Uni Eropa mengecam keras ketika diplomatnya yang dipukul. Di mana kecaman mereka ketika petani Palestina yang berdarah? Sikap mereka membuktikan, kepedulian Barat bukan untuk kemanusiaan, melainkan untuk kepentingan warganya sendiri. Kecaman mereka pun hanya gertakan tanpa tindakan, seperti kecaman-kecaman kosong sebelumnya.

Inilah potret paling menyedihkan. Dunia benci pada kebrutalan Israel, tetapi kebencian itu tidak pernah mengubah nasib Palestina. Hal itu karena para penguasa Muslim, terutama para penguasa Arab, hanya diam, bahkan menjadi kaki tangan AS dan Israel. Mereka disibukkan dengan normalisasi, perdagangan, sementara saudara mereka dicabut akarnya. Umat dibiarkan tanpa pelindung.

Khilafah Perisai Hakiki Umat

Melihat reakitas yang terjadi di Palestina, umat Islam harus menyadari bahwa tanah Palestina adalah tanah kaum muslimin yang diberkahi dan memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Allah Swt. berfirman, "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya." (QS. Al-Isra: 1).

Keberkahan ini adalah amanah yang wajib dijaga dengan jiwa dan raga, bukan diserahkan kepada penjajah.

Kondisi Palestina hari ini adalah bukti nyata bahwa umat Islam tidak bisa menggantungkan nasibnya kepada siapa pun, baik itu PBB, AS, maupun EU. Umat hanya bisa berharap pada dirinya sendiri, yaitu dengan terwujudnya kesatuan umat di bawah naungan Khilafah yang berpegang teguh pada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu adalah perisai, di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung dengannya." (HR. Muslim). Tanpa perisai ini, umat akan terus menjadi mangsa.

Para ulama menegaskan kewajiban ini. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, Juz 12 hlm. 229 menjelaskan bahwa Imam adalah pelindung umat dari musuh. Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab Nizham Al-Hukmi fi Al-Islam, hlm. 34 menegaskan bahwa Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin untuk menegakkan hukum Islam dan mengemban dakwah ke seluruh dunia. Maka, membebaskan Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan, melainkan kewajiban syariat yang membutuhkan institusi.

Satu-satunya cara menghentikan kezaliman Israel, AS dan sekutunya bukanlah dengan kecaman, boikot semata, atau donasi, melainkan dengan mengirimkan tentara-tentara kaum muslimin di bawah komando khalifah. Allah Swt. berfirman, "Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu." (QS. Al-Baqarah: 190).

Hanya tentara Khilafah yang akan mencabut penjajahan dari akarnya, bukan hanya sekadar mengecam saja.

Khatimah

Selama zaitun terus dicabut dan dunia hanya diam dengan kecamannya, maka penjajahan akan terus berjalan. Palestina tidak butuh air mata dunia, yang dibutuhkan yaitu pedang pelindungnya. Pedang itu hanya akan terhunus ketika umat Islam kembali bersatu di bawah satu kepemimpinan Khilafah yang akan mengembalikan tanah yang diberkahi itu ke pangkuan umat. Wallahu a'lam bis shawwab.

Editor: Hanin Mazaya